-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Surat Untuk Firman by E.S. ITO

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
 
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
 
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
 
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

E.S. ITO
Lahir tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya seorang petani, bapaknya seorang pedagang.

Matriks Perpres 54 Tahun 2010 dan Keppres 80 Tahun 2003

Yuk kita omongin yang berat-berat lagi, pengadaan barang Jasa Pemerintah. Setelah dalam postingan sebelumnya membahas tentang Keputusan Presiden Nomor 54 Tahun 2010

Akhirnya pada tanggal 14-15 Desember 2010, Sekretariat Negara mengadakan Sosialisasi Keputusan Presiden tersebut dengan pembicara pejabat Eselon II dari LKPP bertempat di Istana Kepresiden Bogor. Lokasi berpindah dan waktu pelaksaan juga berubah, dari semula Istana Kepresidenan Cipanas, tahu sendirilah Presiden tidak bisa diganggu gugat jika pingin memakai istananya :)

Pergantian tahun sudah dekat, maka sangat penting bagi seluruh stakeholder untuk segera memiliki dan mempelajari Perpres No 54 Tahun 2010 karena amat banyak perbedaan yang prinsip dengan Keppres No. 80 Tahun 2003.

Beberapa perubahan yang terjadi adalah:
  1. Adanya Standar Dokumen Pengadaan;
  2. Adanya sistem baru yaitu Pelelangan/Seleksi Sederhana, Pengadaan Langsung dan Sayembara/Kontes;
  3. Pembagian tugas yang lebih jelas antara PA/KPA, PPK, dan Unit Layanan Pengadaan (ULP);
  4. Ketentuan baru tentang Hibah Luar Negeri;
  5. Perubahan Jasa Pemborongan menjadi Pekerjaan Konstruksi (mengikuti standar internasional);
  6. Perubahan nilai Kemampuan Dasar (KD);
  7. Penetapan Pemenang bukan lagi oleh PPK melainkan dilakukan oleh ULP;
  8. Pengaturan tentang sanggah yang ditujukan kepada ULP, sanggahan banding yang harus memakai jaminan (2 perseribu dari HPS);
  9. Penghapusan pengumuman di Surat Kabar;
  10. Sertifikat Ahli Pengadaan Barang Jasa Pemerintah berlaku untuk selamanya, seperti ijasah sekolah dan kuliah, tidak ada proses perpanjangan untuk L4 dan ujian untuk L2. Hanya saja untuk bisa mendapatkan seritifkat harus memiliki nilai kelulusan setara dengan L4.
  11. dan selanjutnya.
Meskipun banyak perubahan tapi mempermudah pekerjaan ULP karena sudah ada Standar Dokumen Pengadaan. Jadi selama proses pengadaan ULP tinggal baca pedoman dan check list.
Untuk memudahkan dalam mempelajarinya, saya akan menampilkan bahan sosialisasi dan matriks perbedaan antara Perpres No. 54 Tahun 2010 dan Keppres No. 80 Tahun 2003 yang saya dapat dari LKPP.
Untuk mengetahui isi lengkapnya, silahkan klik link berikut: (bisa di download, dishare, diemail ataupun diprint langsung)

1. Sosialisasi Perpres 54 tahun 2010
2. Matriks Perbedaan Perpres 54 2010 dengan Keppres 80 2003
3. Peraturan Kepala LKPP Nomor 8 Tahun 2010 tentang Sertifikasi Keahlian Pengadaan barang/Jasa Pemerintah 


Bagi yang belum punya Perpres 54 Tahun 2010 bisa di download di sini.

Semoga bermanfaat. Mari berdiskusi bersama-sama :)

Sejarah Hari Ibu Indonesia

Sekuntum melati, lambang kasih nan suci.
Ibu Indonesia, pembina tunas bangsa.
Berkorban sadar cita, tercapai dengan giat bekerja.
Merdeka laksanakan bhakti pada Ibu Pertiwi.

Itulah penggalan Hymne Hari Ibu, pasti sangat familiar bagi para pegawai negeri yang mengikuti Upacara Hari Ibu. Alasannya karena lagu itu selalu dinyanyikan di setiap upacara peringatan hari Ibu.


Sekuntum melati, lambang kasih nan suci. Ehm sangat indah bukan, melati yang harum mewangi sepanjang hari sebagai lambang kasih nan suci. Ya, lambang Hari Ibu adalah setangkai  bunga melati dengan kuntumnya. Secara pasti tidak tahu sejarah kenapa melati dijadikan lambang Hari Ibu.

Lambang tersebut digunakan untuk menggambarkan 3 hal: Kasih sayang kodrati antara ibu dan anak; Kekuatan, kesucian antara ibu dan pengorbanan anak; Kesadaran  wanita  untuk  menggalang  kesatuan  dan persatuan,  keikhlasan bakti  dalam pembangunan bangsa dan negara.


Padahal peringatan hari Ibu Indonesia sebenarnya dimaksudkan untuk senantiasa mengingatkan seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda, bahwa betapa besar jasa para pejuang perempuan mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan untuk memperjuangkan kesatuan, persatuan dan kemerdekaan Indonesia. Hakekat Hari Ibu di Indonesia adalah nasionalisme kaum hawa Indonesia. Benih2nya saat persiapan kemerdekaan dan masa perang kemerdekaan.

Berbeda dengan sejarah ditetapkannya Hari Ibu, sekarang ini Hari Ibu oleh bangsa  Indonesia  diperingati tidak  hanya  untuk menghargai jasa-jasa pejuang perempuan, tetapi juga  jasa  perempuan  secara  menyeluruh, baik sebagai ibu dan istri  maupun  sebagai  warga  negara,  warga  masyarakat dan sebagai abdi Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai pejuang dalam mengisi  kemerdekaan dengan pembangunan nasional.
Itulah maksud dari embel-embel 'Indonesia' di judul postingan ini. Ada Hari Ibu dan Hari Ibu Indonesia hihi

Yah perayaan yang umum sekarang ini lebih pada penghargaan kepada kaum Ibu yang melahirkan kita, secara personal. Terlihat jelas dari status teman-teman di facebook, tweet di twitter ataupun YM. Di Blackberry Messenger juga tak kalah, semua pada mengganti pic profile dengan foto bersama ibu/mamanya masing-masing.
“Selamat Hari Ibu…”, “Aku Sayang Ibu…” itu beberapa kalimat yang paling banyak muncul hari ini.

Setahun lalu, ditanggal yang sama, saya juga menulis post dengan judul "Setiap Hari adalah Hari Ibu", bukan untuk mengecilkan peringatan Hari Ibu ini tapi bagi saya setiap hari adalah hari spesial untuk ibu, terlebih saya yang tidak setiap waktu bisa ketemu sama ibu karena dipisahkan jarak :)


Ingin tau bagaimana sebenarnya sejarah Hari Ibu di Indonesia?


Pimpinan  perkumpulan  kaum  perempuan  tergugah untuk  mempersatukan  diri dalam satu  kesatuan wadah mandiri saat Sumpah Pemuda dan Lagu Indonesia Raya dilantunkan pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda Indonesia.  Pada  saat itu sebagian besar perkumpulan perempuan masih merupakan bagian dari organisasi pemuda pejuang pergerakan bangsa.


Selanjutnya, atas  prakarsa  para  perempuan  pejuang pergerakan kemerdekaan pada  tanggal 22-25 Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan  Indonesia  yang pertama kali  di  Yogyakarta.  Salah  satu  keputusannya  adalah  di bentuknya satu  organisasi bernama Perikatan  Perkoempoelan  Perempoean  Indonesia (PPPI).

Melalui PPPI terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.

Pada tahun 1929 PPPI berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII). Pada tahun 1935 diadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Kongres tersebut disamping berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia, juga menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.

Pada tahun 1938 Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan bahwa  tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.
Tahun  1946 Badan  ini menjadi  Kongres  Wanita  Indonesia  di  singkat KOWANI, yang sampai saat  ini terus berkiprah sesuai aspirasi dan  tuntutan  zaman. Peristiwa  besar  yang  terjadi  pada tanggal  22  Desember  tersebut  kemudian  dijadikan  tonggak sejarah bagi Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia.
Selanjutnya, dikukuhkan  oleh  Pemerintah  dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, yang menetapkan  bahwa Hari Ibu tanggal 22 Desember merupakan hari nasional dan bukan hari libur. 


Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan dibuat sebuah monumen. Tahun berikutnya dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Balai Srikandi oleh Ibu Sukanto (Ketua Kongres Pertama). Kemudian diresmikan oleh Menteri Maria Ulfah (Menteri Perempuan Pertama yang diangkat tahun 1950) tahun 1956.
Akhirnya pada tahun 1983, Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen itu menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Jogjakarta.
Sejarah tersebut juga dimuat di situs kantor www.setneg.go.id

Yuks sekarang kita nyanyi dulu Mars dan Hymne Hari Ibu. Dalam Mars Hari Ibu tercetak tebal makna Hari Ibu Indonesia yang kita peringati tanggal 22 Dersember ini. Monggo diperhatikan liriknya.
Mars Hari Ibu
Hymne Hari Ibu

Di balik layar

Berikut ini adalah beberapa even Biro Pengaduan Masyarakat, sebuah biro baru di Sekretariat Negara yang berdiri akhir tahun 2005 dan bernaung di bawah Kedeputian Menteri Sekretaris Negara Bidang Pengawasan. Dan hampir pasti, dengan adanya restrukrisasi organisasi Sekretariat Negara sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2010 tentang Kementerian Sekretariat Negara, akan berpindah naungan lagi ke Kedeputian Menteri Sekretaris Negara BIdang Hubungan Kelembagaan dan Kemasyarakatan. Sayang kalau beberapa even tersebut dilupakan begitu saja hihihi. Berikut even yang masih terekam dalam ingatan saya:

1. Program acara Public Corner bertajuk "Rakyat Mengadu, Presiden Bertindak" yang ditayangkan langsung oleh Metro TV, 8 Juni 2007. Deputi Mensesneg Bidang Pengawasan, Soemarsono, bersama Staf Khusus Presiden, Sardan Marbun, tampil sebagai narasumber.

2. Seminar "Peningkatan Nilai Ekonomis atas Tanah sebagai Upaya Penggerak Penyelesaian Masalah Pertanahan dan Koordinasi Pengaduan Masyarakat di Bidang Pertanahan". Sanur Paradise Hotel, Denpasar, Bali. 28 Agustus 2008.

3. Dialog interaktif/talk show bertema “Pengaduan Sebagai Bentuk Komunikasi Pemerintah dengan Stake Holders: Anda Mengadu, Kami Menangani” yang disiarkan langsung oleh radio Pro 2 FM, Jakarta, Kamis, 13 November 2008. Dengan narasumber Kepala Biro Pengaduan Masyarakat, Deputi Mensesneg Bidang Pengawasan, Sontam Napitupulu.

4. Diskusi "Optimalisasi Penanganan Pengaduan Masyarakat Di Lingkungan Sekretariat Lembaga Kepresidenan". Narasumber Mayjend. TNI (Purn.) Sardan Marbun (Dua dari kiri) Staf Khusus Presiden Bidang Pemberantasan Korupsi,Kolusi dan Nepotisme, Drs. Achmad Sanusi, M.S.P.A. (Dua dari kanan) Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Dukungan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembabgunan, Lambock V. Nahattands, S.H., M.H. (tengah) Wakil Sekretaris Kabinet, Drs. Sontam Napitupulu, M.M. (kiri) Kepala Biro Pengaduan Masyarakat mewakili Deputi Menteri Sekretaris Negara bidang Pengawasan, dan dipandu oleh Moderator Zulfian Lubis, S.H. (kanan) Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara di Hotel Borobudur, Jakarta 7 Oktober 2009.

5. Program siaran langsung Chat Club yang ditayangkan Metro TV. Jakarta, Kamis, 26 November 2009. Dengan narasumber Deputi Mensesneg bidang Pengawasan, Sudiarto, didampingi Staf Ahli Mensesneg, Dadan Wildan.

6. Temu Karya dengan tema "Penanganan Pengaduan Masyarakat secara Efektif, Efisien, Akurat dan Terpadu, sebagai upaya penggerak penyelesaian permasalahan HAM". Tanggal 10-12 November 2010 dengan Narasumber Heru Susetyo, S.H., LL.M., M.Si (Pengajar dan Akademisi di Bidang HAM pada Fakultas Hukum, UI) dan Nur Kholis, S.H., M.H (Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Bidang Eksternal).

Catatan:
Gimana teman-teman, masih semangat bikin acara ginian? hehehe  

Dunia Kami


Bermula dua hati saling memilih,
Ada kebahagiaan saat bersama,
Tawa,
Syukur terucap.

Tak ada yang sempurna,

Ada tangisan,
Kadang ketakutan,
Semua indah karena kamu menemani.

Jika tak kuasa,

Pejamkan mata,

Mohon pada yang Kuasa,
Ini memang dunia hidup kami.

Kontrak hidup kami,

Cinta akan selalu ada,
Aku, sebelumnya hanya aku,
Menjadi kami, berkat ada kamu disisi..

- Pagi hari di Istana Bogor, 15 Desember 2010

Manado punya cerita

NEGERI DI BAWAH PELANGI

Jam setengah 3 pagi ku harus bangun untuk mandi dan siap-siap, untung saja mata bisa kompromi diajak bangun setelah mendengar alarm pertama berbunyi. Malam harinya memang sengaja menyiapkan 3 alarm dengan jeda waktu 5 menit, 2.30, 2.35, dan 2.40. Selesai siap-siap langsung menyambar koper dan tiket pesawat Jakarta – Manado PP, keberangkatan hari ini tertulis jam 5 pagi. Taksipun ternyata sudah menunggu di luar.

Perjalanan Jakarta Manado kira-kira akan ditempuh dalam waktu 2 jam 55 menit, begitu yang tertulis di tiket. Perjalanan bisa lebih lama lagi jika pesawat singgah dulu di Makassar atau Balikpapan. Memasuki pesawat ku agak kecewa karena satu koper yang sengaja kubawa masuk kabin tidak kebagian tempat lagi. Ternyata memang pesawat menuju dan dari Manado selalu saja mengalami hal ini, kabin selalu penuh. Terbukti saat pulang ke Jakarta, kabin penuh lagi, sampai-sampai pramugara Garuda marah ke pegawai yang mengurusi ini. Tapi untungnya saat pulang sudah mempersiapkan diri untuk masuk dulu, jadinya masih kebagian tempat. Giliran penumpang lain yang harus merelakan memindahkan barangnya ke bagasi.

Pemandangan alam Sulawesi dari atas memang sangat indah. Terlihat pulau-pulau kecil berpasir putih dengan pantai-pantai yang dangkal. Tampak semuanya berwarna kehijauan. Saat sang pilot mengumumkan pesawat akan mendarat beberapa saat lagi, semakin keliatanlah pulau-pulau kecil itu, termasuk Pulau Manado Tua tempat wisata Bunaken yang terkenal itu.

Hal yang menakjubkan lagi adalah awan-awan tipis yang membentuk pelangi. Jadi sepanjang mata memandang yang tampak hanya pelangi, pelangi dan pelangi. Membuat langit Manado beratapkan pelangi. Sangat indah.
Landasan bandar udara keliatan dengan jelas saat pesawat berputar di atas. Di kanan kiri ratusan pohon hijau yang didominasi pohon kelapa memenuhi daratan, begitu juga atap rumah-rumah memantulkan cahaya matahari ke atas karena semuanya beratapkan seng. Baru tahu alasannya setelah mengobrol dengan salah satu narasumber tulisan ini, yaitu Bapak Edwin Kindangen. Ternyata fungsi atap seng ini untuk menyiasati wilayah geografis Manado yang berbukit-bukit dan memiliki angin yang besar.

Tepat pukul 9.55 WITA pesawat mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi. Sam Ratulangi adalah tokoh sekaligus Pahlawan Nasional yang berasal dari Sulawesi Utara. Dia adalah gubernur pertama Provinsi Sulawesi Utara. Namanya juga ditasbihkan sebagai nama universitas negeri terkenal di Manado. Motto Provinsi Sulawesi Utara “Si Tou Timou Tumou Tou” dia jugalah yang menemukan, sebuah filosofi masyarakat Manado yang artinya manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia lain.

Manado pada dasarnya hanyalah sebuah kota kecil. Jumlah penduduk sekitar 500.000 jiwa, dan pekerja pendatang harian mencapai 70.000 setiap harinya. Aktivitas harian menyebabkan jalanan yang tidak lebar dipenuhi oleh angkutan kota atau biasa disebut otto. Tak heran kepadatan lalu lintas juga ditemui di sini pada waktu-waktu tertentu, setiap berangkat dan pulang kerja/sekolah. Jalanan sudah banyak yang dibuat searah, bahkan kalau sedang ada even besar diberlakukan sistem nomor polisi ganjil genap. Nomor polisi ganjil hanya boleh lewat pada hari ganjil (Senin, Rabu, Jumat, Minggu) begitu juga sebaliknya.

KULINER DAN WISATA

Siapa yang tidak kenal makanan khas dari Manado. Tinutuan merupakan salah satu makanan andalan dari sini. Makanan ini menjadi santapan wajib pagi hari penduduk Manado. Kebetulan juga hanya dengan melangkahkan kaki ku sudah bisa mencicipi bagaimana rasanya. Ada sebuah jalan yang disebut sebagai Jalur Enak, yaitu Jalan Wakeke yang ditasbihkan sebagai Lokasi Wista Kawasan Makanan Tinutuan. Jangan kaget jika setiap pagi puluhan rumah makan di jalan ini penuh sesak oleh pengunjung.

Tidak lengkap rasanya penyajian Tinutuan jika tidak ditemani nike goreng. Nike adalah ikan dengan ukuran sangat kecil, yang untuk menyajikannyapun harus diolah menjadi perkedel. Ada guyonan masyarakat setempat, kalau mau makan 1000 ikan gampang sekali, tinggal menyantap nike goreng ini. Kombinasi Tinutuan dengan nike ini sungguh top markotop.

Cakalang juga menjadi menu andalan di sini. Dari Cakalang goreng, bakar, asap, kuah asam, bahkan disajikan dalam mie kuah atau mie goreng sekalipun. Ikan bakar kalasey dan roa juga tidak ketinggalan. Penyajiannya selalu ditemani oleh sambal khas Manado yang bernama dabu-dabu (potongan cabe merah, cabe rawit, irisan bawang merah dan tomat segar plus campuran kecap).

Hampir semua wilayah menyediakan masakan jenis ini, hanya saja kalau mau mencicipi yang special silahkan berkunjung ke daerah Malalayang. Ada puluhan rumah makan pinggir pantai di sana, dijamin akan sangat terpuaskan. Para penjualnyapun memberikan garansi kalau produk ikan di rumah makan mereka hanya sekali mati saja hehe. Itu sebagai kiasan bahwa ikan yang diolah adalah ikan segar dari laut yang berumur kurang dari sehari, rasanya masih manis. Syukur ku punya kesempatan mampir kesana. Atau juga bisa makan di sekitaran Jalan Boulevard, disana berjajar rumah makan seafood seperti Angelfish dan Raja Sate.

Sementara makanan ringan yang wajib dicoba adalah pisang goreng colo-colo sambel roa, gohu (rujak), klapertaart dan lain-lain.

Atau yang pemberani bisa kuliner aneka satwa di Pasar Tomohon, disana tersedia berbagai macam makanan ekstrim seperti paniki (makanan dari kelelawar), tikus, babi, anjing, semuanya dengan berbagai penyajian. Prinsipnya sebagian masyarakat di sana memakan semua yang hidup :)

Selain wisata kuliner Kota Manado juga menawarkan wisata lain. Bagi yang suka keramaian bisa mengunjungi wilayah B on B atau Boulevard on Bussiness. Sebuah wilayah baru di pesisir pantai Manado yang merupakan hasil reklamasi pantai. Di sini bisa menikmati Pantai Teluk Manado, menikmati sunset sambil menyantap makanan yang dijual disepanjang pantai. Ada juga wisata belanja karena sepanjang jalan ini tersedia banyak tempat perbelanjaan, seperti Mega Mall Manado, Manado Town Square, Blue Banter City Walk, IT Center Manado, Bahu Mall dan Mega Trade Center. Menjadikan Manado sebagai pilihan baru tempat perbelanjaan di Indonesia Timur.

Ada juga Klenteng Ban Hin Kiong yang terletak di kawasan Kampung Cina dekat pelabuhan. Penduduk manado jarang yang tahu namanya tersebut, mereka lebih familiar dengan istilah klenteng besar dan klenteng kecil karena ada dua klenteng di kawasan Kampung China ini.

Yang ingin membeli ikan segar tinggal berjalan sebentar ke pelabuhan, di sana ada Pasar Bersehati. Di pelabuhan ini pula ku dibanjiri tawaran untuk ke Bunaken, sayang sekali ombak sedang besar dan tidak direkomendasikan ke sana.
Semuanya tampak sangat indah karena disusuri dengan berjalan kaki di sepanjang kawasan Boulevard ini. Tampak juga antrian dari para pembeli Cap Tikus (arak lokal khas Manado yang merupakan hasil proses penyulingan).
Ada juga Pasar Segar yang kebetulan baru dibuka hari Rabu kemarin, tapi kalau mau berkunjung lihat dulu jadwal jualannya, jangan salah kesana hari jumat seperti kami, karena hanya akan menemukan jualan daging sapi, babi, anjing, paniki dan tikus hidihhh.

Bagi yang ingin wisata luar kota juga tersedia berbagai pilihan seperti dataran tinggi Minahasa yang menyediakan Woloan, Pagoda Chinese Temple, Danau Linow yang airnya bisa berubah warna.
Sayangnya ku tidak bisa menemukan wisata yang mengangkat budaya daerah seperti Tari Maengket yang terkenal itu.

BUDAYA

Tapi dibalik semua itu banyak yang belum kita ketahui tentang budaya masyarakat Manado atau nilai-nilai sosial keseharian dalam masyarakat yang ternyata mempunyai karakter khusus dan sangat unik.
Cerita ini saya dapatkan langsung dari Bapak Edwin Kindangen dalam sebuah obrolan sore hari. Memang baru sore hari itu bisa ngobrol topik bebas bersamanya, dari pagi sampai siang sibuk menjalankan tugas utama, rapat koordinasi dari Kantor Gubernur-Kantor Inspektorat-Dinas Sosial-Biro Hukum dan kembali lagi ke Inspektorat. Itupun belum selesai dan harus dilanjutkan besok hari lagi.

Sulut, sulit disulut.
Itulah salah satu nilai dan slogan yang ada di masyarakat Manado. Walaupun ada perbedaan agama, tapi kondisinya tetap aman nyaman. Isu-isu agama yang diangkat dalam beberapa kasus tidak sampai muncul menjadi pertikaian ataupun kerusuhan. Makanya mereka bangga dengan hal itu. Meskipun diapit juga oleh dua daerah kerusuhan seperti Poso dan Ambon tapi kondisi Manado selalu kondusif.

Hal tersebut yang kemudian membuat investor percaya untuk menanamkan modalnya di sini. Jadilah investor baru banyak yang masuk, ekonomi bergairah, sektor industry dan properti tumbuh dan pertumbuhan ekonominya menjadi salah satu yang terbaik se-Indonesia. Bedanya dengan daerah lain, kalau di sini uang benar-benar dipegang oleh masyarakat sendiri. Walaupun ada efek yang sangat dirasakan, yaitu tanah-tanah kemudian menjadi mahal.

Nilai lainnya adalah budaya keterbukaan, to the point, tanpa basa-basi, tapi tetap disampaikan dengan elegan.

Masyarakatnya juga dikenal tidak mudah menyerah, mau bekerja dan berusaha di sektor apapun. Tidak dikenal istilah si peminta-minta di daerah ini, di seluruh penjuru kotapun tidak akan bisa menemukan orang yang meminta-minta.

Terkait dengan ihwal waris, masyarakat Manado sangat adil dalam pembagiannya. Semisal, orang tua dengan dua anak mempunyai tanah waris seluas 1000 m², maka masing-masing anaknya akan menerima 500 m². Jika mereka punya anak lagi, maka tanah itu juga harus dibagi rata kepada semua anaknya. Bahkan ada cerita seorang anak mendapat tanah waris hanya 12 m² saja dalam pembagian waris. Salah satu tradisi negative yang masih ada sampai sekarang.

Ada juga hal negatif lain yang sering terjadi karena diakibatkan hobi masyarakatnya menkonsumsi arak lokal Cap Tikus, yaitu kriminalitas seperti perkelahian. Kepolisian Daerah pernah melakukan pelarangan pembuatan arak ini, namun justru mendapat tantangan dari para petani pembuat arak ini. Mereka beralasan bahwa mereka tidak merugikan orang lain, mereka mencari sumber kehidupan dengan bekerja halal, kenapa usahanya dihentikan. Kalau mau menangkap ya tangkap pelaku tindak kriminal tersebut. Akhirnya sampai saat ini masih terus ada Cap Tikus ini.

Tindak kriminal lain juga terkait dengan Cap Tikus ini, yaitu penyelundupan ke luar daerah, seperti Papua. Dengan harga yang menjulang tinggi di Papua, penjual Cap Tikus bisa mengantongi uang Rp.10 juta setiap dua minggu. Maka muncullah berbagai modus penyelundupan, seperti disimpan dalam puluhan termos, lewat pelabuhan gelap dan lain-lain.

Ku kemudian  menanyakan kenapa Pak Edwin Kindangen juga menceritakan hal yang negatif seperti ini.
“Biar tahu gambaran masyarakat sini seutuhnya. Beginilah Manado. Baru pertama berkunjung ke sinikan?” jawab orang kedua di Inspektorat Provinsi Sulawesi Utara ini.

Itulah sedikit cerita dari Manado, pagi dan sore hari (selama 3 hari 2 malam) sudah cukup mengenal walaupun belum semuanya, aku dan tim harus balik ke Jakarta. Bagi yang belum berkunjung silahkan berkunjung, dijamin pasti ingin kembali kesini. Dan jangan lupa untuk membawa buah tangan, minimal ikan Cakalang, Roa atau Nike gorengnya :)
Kalau untuk saya, selain oleh-oleh di atas juga ada oleh-oleh khusus untuk istri tercinta setiap kali ku berkunjung ke pantai. Ini...


Gambar2 pribadi