-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Corat-coret tentang Plagiarisme

Beberapa hari ini berita tentang Plagiarisme mencuat di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Kebetulan saya mengikuti juga lewat media elektronik, salah satunya detik.com karena update beritanya lumayan cepat.

Saya terlecut membuat tulisan ini setelah tadi pagi membaca status Facebook Mas Rachmat (Nur Rachmat Yuliantoro), dosen saya di jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM,  
“Jadi khawatir niy: sama2 dosen HI, sama2 kuliah di program yang sama di Flinders. Bedanya, dia sudah profesor doktor (penerima Flinders Distinguished Alumni Award 2008 pula), aku masih berjuang keras merampungkan tesisku :-D"

Saya sih percaya kalau Mas Rachmat nggak sekhawatir itu hehehehe, ini atas dasar keyakinan saya terhadap kapasitas dan kapabilitas Beliau. Status tersebut juga mengundang perbindangan dari teman-teman, dari usulan membuat buku "Mengantisipasi Plagiarisme, Tips untuk Pemula", pengguanaan software turnitin, parafrase terlebih dulu, dll.

Kita mulai ya, bermula dari sebuah kolom yang tidak biasa di harian The Jakarta Post berjudul Plagiarism, yang mencabut sebuah artikel lama yang diterbirkan koran ini di bulan November 2009 lalu, karena adanya dugaan, eh sudah terbukti ding, melakukan plagiarisme.

Dari harian tersebut diketahui artikel yang ditarik itu berjudul "RI as a new middle power?" yang ditulis pada tanggal 12 November 2009. Redaktur The Jakarta Post kemudian menemukan artikel tersebut mirip dengan tulisan Carl Ungerer. Carl menulis artikel ilmiah berjudul 'The Middle Power Concept in Australian Foreign Policy'. Artikel ini diterbitkan dalam Australian Journal of Politics and History: Volume 53, Number 4, pada tahun 2007.
Telisik punya telisik, Universitas Parahyangan bandung tempat bernaung dosen tersebut juga menemukan 4 tulisan lain yang dinilai memplagiat, tidak tanggung-tanggung 4 tulisan itu berasal dari 6 hasil karya tulis orang lain.

Di accaount facebooknya, dosen tersebut juga sudah meminta maaf dengan menulis status,
"I do apologize for what I have done unintentionally. Thanks for all the concerns”

Kemudian dosen tersebut berniat mengundurkan diri sebagai dosen, akan tetapi pihak Universitas sepertinya kurang berkenan, karena kesalahan tersebut tidak hanya terjadi satu kali tetapi sudah berulang sampai empat kali, sehingga mempertimbangkan memberhentikan tidak dengan hormat dan mencabut jabatan fungsionalnya sebagai Profesor.

Pengertian plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.
Selengkapnya bisa diliat disini. 

Gelar Profesor

Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Profesor memang mempunyai keistimewaan dan tanggung jawab yang sangat besar. Dalam Pasal 49 ayat (1) disebutkan bahwa Profesor merupakan jabatan akademik tertinggi pada satuan pendidikan tinggi yang mempunyai kewenangan membimbing calon doktor. Sementara ayat (2) disebutkan bahwa Profesor memiliki kewajiban khusus menulis buku dan karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat. Sungguh sebuah kewajiban khusus yang sangat sulit (apalagi untuk saya yang saat ini baru bergelar Strata 1).

Sebelumnya dalam Pasal 1 ayat (3) disebutkan bahwa guru besar atau profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi. Dijelaskan dalam Pasal 48 ayat (2) bahwa Jenjang jabatan akademik dosen-tetap terdiri atas asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor atau guru besar. Wow sebuah jabatan fungsional tertinggi bagi seorang pendidik atau dosen di Perguruan Tinggi!!!!!

Sebuah penghargaan lain kepada guru besar adalah batas usia pensiun mereka bisa sampai umur 70 tahun, sesuai dengan Pasal 67 ayat (5). Pun dalam Pasal 56 ayat (1) Pemerintah memberikan tunjangan kehormatan kepada guru besar yang diangkat penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi setara 2 (dua) kali gaji pokok guru besar yang diangkat oleh pemerintah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. Sungguh sebuah penghargaan yang sangat besar kepada mereka.

Pantas saja kalau plagiariesma adalah sesuatu yang tidak bisa ditolerir lagi bagi seorang guru besar. Semoga setiap konsekuansinya nanti memiliki rasa keadilan bagi semuanya.

-dari berbagai sumber.

0 komentar:

Posting Komentar

Emoticon yang dapat digunakan [Tampilkan] [Sembunyikan]



:-))
:-)
:-D
(lol)
:-p
(woot)
;-)
:-o
X-(
:-(
:'-(
:-&
(K)
(angry)
(annoyed)
(wave) | (bye)
B
(cozy)
(sick)
(:
(goodluck)
(griltongue)
(mmm)
(hungry)
(music)
(tears)
(tongue)
(unsure)
(highfive)
(dance)
(blush)
(bigeyes)
(funkydance)
(idiot)
(lonely)
(scenic)
(hassle)
(panic)
(okok)
(yahoo)
(cry)
(doh)
(brokenheart)
(drinking)
(girlkiss)
(rofl)
(money)
(rock)
(nottalking)
(party)
(sleeping)
(thinking)
(bringit)
(worship)
(applause)
8
(gym)
(heart)
(devil)
(lmao)
(banana_cool)
(banana_rock)
(evilgrin)
(headspin)
(heart_beat)
(ninja)
(haha)
(evilsmirk)
(eyeroll)
(muhaha)
(taser) | (rammi)
(banana_ninja)
(beer)
(coffee)
(fish_hit)
(muscle)
(smileydance)
(fireworks)
(goal)
(bzzz)
(dance_bzz)
(Русский)
(code)
(morning)

Cara menggunakan: ketikkan emoticon yang diinginkan. Untuk yang ada pemisah berupa "|" maka itu adalah alternatif. Seperti (wave) | (bye) maka bisa (wave) bisa (bye)