-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Hingga Waktu Menjawab



Kau mengisi kehampaan hatiku
Mewarnai cerianya hidupku
Hadirmu membuatku selalu tersenyum
Cintamu mengisi relung jiwa

          Genggam erat hatiku selalu dalam hatimu
          Ku kan selalu menunggu hingga waktu menjawabnya
          Walau saat ini jarak pisahkan kita
          Namun kau selalu berada disampingku

Aku merindukan hadirmu
Ingin hilangkan jarak dan waktu yang menjauhkan kita
Ku ingin selalu didekatmu
Tenang diriku bersamamu

          Genggam erat hatiku selalu dalam hatimu
          Ku kan selalu menunggu hingga waktu menjawabnya
          Walau saat ini jarak pisahkan kita
          Namun kau selalu berada disampingku


Jogja, 16 Desember 2005

(lyric by @hanggaady, compose by @sekardatu)

Ingin Nikah, Kursus Dulu (Suscaten)

Cerita diawali saat menyerahkan surat pindah nikah, aku yang dari luar kota, untuk bisa melangsungkan perkawinan di Jakarta harus menyerahkan surat keterangan pindah nikah dari Kantor Urusan Agama di wilayah KTPku diterbitkan. Untunglah ayahku bisa membereskan keperluan tersebut, surat keterangan dari RT, Desa, dan Kecamatan bisa didapatkan tanpa kehadiranku di sana. Makasih ayahhhhh!

Setelah itu barulah pergi ke KUA yang melangsungkan perkawinan, wilayahnya kebetulan masuk KUA Duren Sawit Jakarta Timur. Dapat formulir yang harus diisi oleh kedua calon penganten, dan harus dikumpulkan pada tanggal 8 Maret 2010 serta kedua calon penganten harus dateng sendiri untuk menyerahkannya, kata petugasnya siy akan ada kursus gitu. Happp, semua formulir terisi dengan cepat, UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pun kulahap dalam waktu singkat, bereslah semuanya. Untuk persiapan kursus, aku menghafalkan satu pasal, yaitu definisi perkawinan. Otakku sudah susah diajak kerjasama hehe

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pada hari H, kita berdua datang tepat waktu, tapi seperti tradisi orang kita waktu pelaksanaannya di tunda, menunggu pembicara dan semua pesertanya dateng. Wuihhhhhh ternyata begitu semuanya dateng, ada sekitar 30 pasang calon penganten yang ikut kursus ini. KURSUS CALON PENGANTEN (SUSCATEN), begitulah tulisan yang terpampang di dinding depan ruang kursus.

Diawali dengan pertanyaan dari pembicara, “Apa yang sudah kalian persiapkan untuk menghadapi mahligai rumah tangga?” semua pada berbisik-bisik, dari pendengaranku kata tidak tahu cukup mewakili jawaban mereka, termasuk saya hihi.
“Sudah baca buku-buku tentang pernikahan?” lanjut pembicara, “Belum Pak” hampir semuanya menjawab begitu, tapi calonku berbisik padaku, “Aku udah baca kok Mas, buku2 yang dari KUA sama yang dari Mas”, wuih senangnya aku, memang sebelumnya aku membeli beberapa buku terkait persiapan pernikahan, seperti postinganku sebelumnya (Akhirnya Kudapatkan Buku2 Itu).

Begitulah jamaknya calon pengantin mempersiapkan diri. Mereka tidak menganggap penting persiapan ilmu untuk berkeluarga, mungkin tidak sempat atau justru karena akibat kurangnya ilmu sehingga merasa tidak penting belajar bagaimana mengelola rumah tangga.

Ternyata Suscaten adalah program nasional dari Kementerian Agama, khususnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Kursus tersebut diadakan untuk meminimalisir tingginya angka perselisihan, perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga yang salah satunya disebabkan oleh rendahnya pengetahuan dan pemahaman calon pengantin tentang kehidupan rumah tangga/keluarga serta untuk mewujudkan kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Tercantum dalam Peraturan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam tentang Kursus Calon Pengantin Nomor : DJ.II/491 Tahun 2009, tanggal 10 Desember 2009.
Materi yang disampaikan meliputi tatacara dan prosedur perkawinan, pengetahuan agama, peraturan perundang-undangan di bidang perkawinan dan keluarga, hak dan kewajiban suami isteri, kesehatan reproduksi, upaya menjaga kesehatan ibu saat hamil, melahirkan, pentingnya progam keluarga berencana (KB), problematika pernikahan dan penyelesaiannya, hukum syariah tentang perkawinan, manajemen keluarga dan psikologi perkawinan dan keluarga. Kita jusa disuruh menyediakan pas foto untuk pembuatan Sertifikat tanda lulus.

Pembicara menyampaikan bahwa untuk memasuki jenjang pernikahan dan rumah tangga diperlukan kepercayaan diri serta kesiapan fisik dan mental yang baik, namun semua keberanian itu tidak serta merta datang begitu saja mengingat banyak sekali orang-orang yang sudah merasa mampu untuk menikah tetapi masih saja menunda-nunda dengan berbagai alasan sehingga secara tidak sadar mereka dapat terjerumus ke dalam lembah zina.
Keberanian untuk memasuki gerbang pernikahan harus dibangkitkan dalam diri meski penghasilan hanya terbilang pas-pasan karena yakin bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Para istri diharapkan setidaknya menjadi Menteri Keuangan dan Menteri Pendidikan dalam rumah tangga. Mengatur keuangan dalam rumah tangga dan mendidik anak-anak menjadi anak yang pintar, trampil serta sholeh dan sholehah.

Suasana semakin ramai dengan masing-masing peserta yang semakin antusias, sewaktu dibuka dialogpun banyak peserta yang menanyakan kepada pemateri, tentang kesehatan pengantin baru, KB, yang paling disimak sepertinya tentang pelajaran seksologi :).

Pingin tau buktinya, ini nih. Kata pembicara, suami harus menjalankan fungsi “5 Ng”, yaitu:
1. Ngayani (memberikan nafkah),
2. Ngayomi (melindungi),
3. Ngobati,
4. Ngomahi, dan
5. Ngeloni. Pas disebutin yang terakhir ini semua pada ketawa puas :D

Sementara istri juga harus menjalankan fungsi “5 Ng”, yaitu:
1. Ngadem-ademi,
2. Nganaki,
3. Ngladeni,
4. Ngelengkapi (Ngimbangi) dan
5. Ngenaki. Sama, pas disebutin yang terakhir semua pada ketawa puas, lagi!!!! Hahahaa

Seserahan dan Catur Wedha Midodareni

Minggu pagi kemarin (4 April, red) barang-barang seserahan yang sudah kita kumpulkan sedari lama sudah terbungkus rapi dengan hiasan-hiasan yang sangat indah. Yahh, seserahan untuk prosesi midodareni sudah selesai dikemas. Aktor utama yang sangat kreatif dalam proses pengemasan tersebut adalah Tante Nita, dkk. (supported by Keiza, Mbak Jean, De Dipta, Tasya n Bude). Kita berdua sama sekali tidak berkontribusi hehehe, makasih semuanya. Itu cerita pertamanya, ini foto pertama, foto lain menyusul di cerita-cerita selanjutnya yah. Cara membuat seserahan nya sederhana, tapi hasilnya sangat luar biasa. Seperti ini:

Seserahan
Ini foto-foto tambahannya saat semuanya udah jadi:



Foto selengkapnya bisa liat di sini.

Selanjutnya, kami berdua langsung di dapuk untuk membuat susunan/jadwal acara midodareni tanggal 16 April tersebut. Acara kita buat sesimpel mungkin tanpa mengurangi tujuan, dilaksanakan sore hari setelah maghrib. Garis besar acara tersebut adalah sebagai berikut:

1. Penerimaan tamu oleh keluarga CPW
2. Penyampaian maksud dan tujuan dari wakil keluarga CPP, diikuti sambutan keluarga CPW
3. Penyerahan seserahan kepada keluarga CPW
4. Tantingan, kedua orang tua mendatangai CPW, menanyakan kemantapan hati untuk berumah tangga. Aku belum dikasih tau jawaban pertanyaan ini oleh CPW hehe
5. Wilujengan Majemukan, silaturahmi antara kedua keluarga yang bermakna kerelaan kedua pihak untuk saling berbesanan
6. Santap malam bersama
7. Pemberian Catur Wedha, wejangan dari kepala keluarga CPW kepada calon menantu berupa empat permohonan hidup, sudah tertulis dan kemudian teks Catur Wedha diserahkan kepada CPP.
8. Angsul-angsul dan pamitan.



Kira-kira seperti ini Teks Catur Wedha tersebut (sebelum di edit calon mertua):

Kepada Ananda Hangga Ady Cahyanto yang tercinta.

Ananda, besok pagi InsyaAllah akan menjalani upacara pernikahan (akad). Maka dari itu, malam ini dengarkanlah Catur Sabda/Catur Wedha, yaitu empat nasehat utama yang perlu Ananda renungkan ketika mengarungi samudera pernikahan.

Pertama. Sesungguhnya seorang pria yang sudah memperistri seorang wanita pilihan hatinya, sudah berubah statusnya bukan lagi seorang yang sendirian. Anandapun nanti sudah menjadi satu unit dengan istri Ananda. Ananda bukan lagi seorang perjaka yang hidup seorang diri. Demikian pula istri Ananda. Ananda dan istri Ananda adalah bertubuh dua namun berjiwa satu. Itulah sebabnya disebut GARWA, artinya “sigaring nyawa” yaitu belahan jiwa. Karena itu untuk selanjutnya sampai maut menjemputmu nanti, Ananda harus selalu merasa satu dengan istri Ananda. Satu dalam bersikap, berpikir dan bertindak.

Kedua. Sejak Ananda beristri besok, hendaknya Ananda selalu menaruh hormat yang tulus dan ikhlas kepada ayah-ibu Ananda dan juga kepada ayah-ibu mertua Ananda. Karena sesudah Ananda bersatu jiwa dengan istri Ananda, maka ayah dan ibu mertua Ananda juga menjadi seperti ayah dan ibu kandung Ananda sendiri.

Ketiga. Sejak pernikahan Ananda besok pagi, Ananda berdua sudah berdiri tegak sebagai umat manusia yang bertanggung jawab salam mengatur hidup, sikap dan tingkah laku. Ananda harus mampu membentuk temen-temen sendiri, masuk “ajur-ajer pasrawungan” artinya luwes dalam pergaulan sehingga Ananda diharga sebagai warga masyarakat yang dihormati, disayangi dan direstui oleh segenap teman, sahabat dan kenalan dari bawah sampai atas.

Keempat. Yang terakhir, hendaknya Ananda berdua sebagai umat mulia di dunia, makin bertakwa kepada Allah SWT, mematuhi seluruh perintah Allah dan mengikuti segala petunjuk yang benar. Dan pada sisi lain Ananda senantiasa menjauhi segala larangan  Allah Yang Maha Kuasa, agar hidup Ananda senantiasa tenteram lahir dan batin, didekatkan pada keselamatan dan rezeki serta dijauhkan dari malapetaka dan kesusahan hidup.

Jakarta, 16 April 2010

[ttd]