-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Marwah, Si Arwah


Jam 04.00, 23 September 2010
Raga terbangun di pagi-pagi buta karena mimpi buruk. Dia duduk sejenak di kasur, mengambil gelas air minum dimeja dan meminumnya. Glek. Glek.
Dia berjalan ke kamar mandi yang juga ada di kamarnya. Pyuk pyuk pyuk. Dia mencuci muka dengan mencipratkan air, diteruskan dengan mandi. Air dingin menguyur badannya.
Malam ini Raga mimpi didatangi kakeknya yang sudah tiada. Dalam mimpinya itu, kakeknya bercerita tentang serangan makhluk-makhluk halus tepat pada malam Jumat Kliwon.
Raga tidak habis pikir kenapa kakeknya menceritakan kisah seperti di film-film horor seperti itu di dalam mimpi. Dia memang sangat suka dengan film-film horor, walau setiap nonton hanya setengah hati. Alasannya tidak lain karena dia sangat penakut. Seorang penakut tapi suka film horror.
Awal ketakutannya disebabkan oleh kebodohannya sendiri. Dulu setiap menonton film horor dia selalu mengecilkan suara televisinya, sampai suaranya nyaris tak terdengar. Yang tampak di layar hanya gambar-gambar menyeramkan. Dari situlah imajinasi horornya tak terkontrol. Sehabis menonton dia tidak tenang, menoleh kebelakang, ke jendela dengan penuh kecurigaan, seolah-olah ada yang mengawasinya. Padahal tidak ada apa-apa di sana.
Mimpi itu membangkitkan rasa takutnya kembali. Apalagi saat ini dia hidup sendirian, merantau di ibukota demi sebuah pekerjaan.
“Ah masa bodoh” pikirnya. Tentu saja untuk membuang rasa takutnya juga.
Dia pun bersiap berangkat kerja. Hari ini tidak ada agenda spesial yang direncanakannya. Dia berangkat kerja dengan mengendarai mobil sendirian.
Sesampainya di kantor, dia hidupkan komputer, kemudian membuka email dan membaca berita-berita online. Sarapan menjadi perkara nomor dua. Itulah ritualnya setiap pagi, tidak pernah langsung bekerja.
Tapi tidak dengan pagi ini. Raga melupakan ritualnya dengan langsung bekerja, tanpa membuka wujud yang bernama internet itu.
Klik!!
Klik!!
Klik!!
Tiga buah shortcut microsoft word dia buka. Tiga dokumen itu secara bergantian terbuka memenuhi ruang di monitor komputernya. Alasannya, dia harus mengurangi tumpukan berkas di meja Dsekaligus untuk melupakan mimpinya semalam.
Teman satu unitnya kebetulan sedang cuti panjang, cuti melahirkan, selama tiga bulan lamanya. Otomatis tersisa dirinya sendiri sebagai analis subtansi. Load kerjanya pun meningkat drastis.
Di hari-hari biasa, sebanyak apapun pekerjaan yang turun kepadanya selalu bisa diselesaikannya tanpa singgah di mejanya.
“Ah dipotong 2% karena terlambat masuk. Berat juga jadi PNS” gerutunya dalam hati. Dia lupa membuka slip gaji yang sudah dua hari ini dimejanya.
Raga memiliki semangat kerja yang luar biasa. Ketika ditanya apa resepnya, dia hanya menjawab syukur. Dia selalu bersyukur karena telah dianugerahi pekerjaan luar biasa ini. Pekerjaan yang diimpikan banyak orang di luar sana. Pekerjaan yang menurut banyak orang berada di pusat kekuasaan. Ring satu.
Bersyukur karena dia memberikan kebanggan untuk keluarganya di kampung. Sesederhana itu pikirnya. Itulah kunci dan penyemangat dirinya. Semangat itu yang menyelamatkan-nya saat ini.

* * *
“Bismillah” kata Raga dalam hati.
Raga mengambil sebuah berkas pekerjaan. Berkas yang baru saja diberikan oleh atasannya barusan.
“Prioritas, buatkan memorandum laporan ke Bapak Menteri” kata atasannya singkat sambil menaruh berkas itu di mejanya.
“Iya Pak” jawabnya. “Saya dulukan”
Dia cermati berkas itu. Sebuah tulisan SEGERA di kertas post it warna merah tertempel di sisi map.
Beberapa kalimat hasil tulisan tangan mengisi kolom-kolom disposisi milik atasan-atasannya di kantor. Salah satunya tertulis, “Satu hari, saya tunggu”. Tulisan tangan khas yang dikenalinya. Tulisan milik Kepala Biro.
Artinya dia harus menyelesaikan draft pekerjaan itu sebelum siang ini. mendahulukannya dibanding yang lain. Jika tidak selesai, omelan-omelan akan dia dapatkan.
Hari ini Kamis Pahing, besok Jumat Kliwon. Hari yang sama dengan mimpinya semalam. Dia berharap tidak ada kejadian aneh yang dia alami di hari ini setelah mimpi buruk itu. Berharap pekerjaan barusan bukan pertanda datangnya hal-hal yang buruk juga. Di otaknya masih membekas berbagai cerita misteri dari sang kakek.
Berkas dengan label khusus tersebut dia lihat sekilas. Isinya laporan dari pimpinan salah satu Lembaga Tinggi Negara yang ditujukan kepada RI 1, terkait pemberian grasi kepada seorang terdakwa koruptor. Seorang mantan pejabat daerah yang divonis hukuman selama enam tahun penjara.
Grasi itu mengurangi hukuman penjara mantan pejabat selama tiga tahun, membebaskannya dari kurungan Lembaga Pemasyarakatan. Alasan yang digunakan  adalah kesehatan dan kemanusiaan.

Raga menganalisa laporan tersebut. Matanya terpaku ke lembaran-lembaran kertas di depannya. Satu kalimatpun tak terlepas dari pandangan matanya.
Dia tahu kasus ini saat ini sedang gencar menghiasi berita-berita di media elektronik. Dia berjuang keras menyingkirkan opini-opini pemberitaan itu dari otaknya.
Segi enam bersinergi. Berkas-mata-otak-tangan-keyboard-monitor.
Yang tampak hanya untaian kata demi kata, satu per satu memenuhi ruang kosong di monitornya. Jemari pun bergerak dengan lincah di atas keyboard.

* * *
Jam 20.00
Raga melirik jam yang tergantung di ruangannya. Sebuah jam dinding dengan background burung Garuda menoleh ke kanan, lambang Negara. Waktu sudah menunjukkan jam delapan.
Badan Raga terasa lemas. Dia baru sadar kalau hari ini baru sekali mengisi perutnya. Makan siang saja.
Dia melihat tumpukan berkas di mejanya. Dia menyerah. Menutup matanya untuk beberapa menit, menghela nafas panjang.
“Fiuhh..”
Tak lama kemudian dia berkemas, menata berkas-berkas pekerjaannya dan memasukkannya di laci.
Dia pulang
* * *
Jam 23.30
Di badan Raga sudah terbalut pakaian bersih. Baju tidur warna biru kesayangannya. Tapi dia tampak lemas, pekerjaan hari ini benar-benar telah menguras tenaga dan pikirannya.
Dia sandarkan badannya di kursi malas, berayun ke depan belakang selama beberapa menit, dengan momentum dan kecepatan yang stabil. Lumayanlah sedikit mengurangi capeknya.
Tiba-tiba Raga teringat sesuatu. Dengan tergesa dia beranjak dari kursi menuju ke meja. Dia mengambil notebook dan menghidupkan jaringan internet.
Dalam kondisi yang sangat lelah itu dia paksakan membuka internet. Seharian penuh dia terpisah dari benda itu.
“Pantas saja ada yang kurang” pikirnya.
Raga membuka beberapa situs. Email, reader, blog, twitter dan facebook terbuka di masing-masing tabulasi dalam satu window. Beberapa situs berita online yang biasanya dibuka, kali ini terlewat. Sengaja diacuhkannya.
Ditutupnya situs reader, blog, twitter, terakhir facebook setelah masing-masing diamatinya sekilas. Hanya tertinggal satu akun, emailnya saja.
Dia menguap, mulutnya terbuka lebar. Malam menambah rasa kantuknya yang teramat sangat. Itu alasan dia menutup situs-situs tersebut.
Jarinya menari di track pad notebook. Dia amati beberapa folder di emailnya. Ada beberapa folder yang tertulis tebal. Pertanda ada email baru yang belum terbaca pemiliknya.
Satu per satu dia buka folder-folder itu. Cukup lama terhenti di inbox, banyak email baru di sana.
Satu per satu pula dia baca isi email itu. Membalas yang perlu dibalas. Dia tersenyum membaca email humor yang dikirim teman-temannya.
Tersisa satu folder dengan satu notifikasi email yang belum terbaca.
Folder FS.
Folder itu memang khusus dia buat sebagai pengingat ulang tahun teman-temannya. Terutama teman lama semasa sekolah, yang keberadaannya tidak diketahuinya lagi, baik di FB ataupun di Twitter.
Klik!! Dengan satu sentuh email itu terbuka. Tampak sebuah foto akun FS, diikuti sebuah kalimat tertulis:
Friendster reminder - Marwah's birthday is today - September 23

* * *
Raga tertegun. Isi email itu mengingatkan dirinya pada seorang sahabat karib. Yah, Marwah adalah sahabatnya itu, sahabat yang dia kenal semenjak SMA. Akun Marwahlah yang ada di email itu.
Yang paling dia ingat adalah Marwah mempunyai saudara kembar. Sarwah namanya. Dia dikenalkan pada Sarwah saat mengerjakan pekerjaan kelompok di rumah Marwah.
Semasa kelas dua SMA lah meraka bersama. Hubungan pertemanan mereka memang tidak terlalu dekat, semakin menjauh karena berpisah kelas saat menginjak kelas tiga. Raga mengambil jurusan IPS sementara Marwah jurusan Bahasa.
Pertemanan mereka kembali dekat saat keduanya dinyatakan diterima di Universitas Negeri favorit di Kota Jogja. Walaupun berbeda jurusan dan fakultas, Raga FISIP dan Marwah Bahasa dan Sastra Jepang.
Raga ingat bagaimana mereka berdua mempersiapkan berkas-berkas pendaftaran ulang masuk kuliah. Raga juga ingat muka sahabatnya itu ketiga baru masuk kuliah. Culun, dia menyebut sahabatnya itu.
Raga tersenyum.
Marwah baginya adalah sahabat yang baik hati dan suka memberi pertolongan kepadanya. Dia ingat suatu ketika uang kiriman dari kampung belum sampai, Marwahlah yang berbaik hati meminjamkannya sampai uang kirimannya sampai.
Pun dia pula yang mengajarinya belajar Bahasa Jepang, sehingga lumayan tahu dasar-dasar bahasa itu. Cukuplah untuk sekedar menyapa dalam bahasa itu.
Banyak cerita lainnya yang berseliweran diingatannya.

* * *
Habis membaca email itu, buru-buru dia ambil telponnya. Dengan cekatan jarinya menulis dengan cepat.
“Selamat ulang tahun Maw, semoga semua cita-cita mulia yang dulu pernah kau sampaikan ke aku bisa terwujud. Sukses terus ya. Maaf terlambat ngucapinnya :)
Dia sapa sahabatnya itu dengan sapaan akrabnya.
Pesan terkirim.
Tak ada jawaban. Detik demi detik terlewat. Raga hanya bisa diam menunggu. Dia pandangi telpon itu. Terasa sangat lama.
Raga mengambil telponnya dan menekan tombol hijau di sebelah kiri. Nada sambung berbunyi.
Tuuut.
“Hai Maw, kemana saja kamu? Sudah 4 tahun ini tak kudengar kabarmu. Kamu dimana sekarang?”
Tidak ada sepatah katapun membalas dan menyapa balik.
Angin berdesir dari cendela yang memang dibiarkannya terbuka.
Sekejap dia dengarkan sebuah ucapan, sangat pelan.
“Maaf Ga, aku tidak mengucap perpisahan padamu. Aku masih ingat setiap hal yang kita lakukan bersama dulu
Suaranya terdengar semakin pelan.
“Ehh, selamat ulang tahun ya” Raga menyela.
Suasana kembali sunyi.
“Ga, aku ingin berterima kasih kepadamu atas setiap waktu yang kita lewati bersama dulu. Tolong maafin semua kejahilanku ya”
Kali ini suara lirih itu terdengar terisak. Menangis.
“Kamu menangis? Maw?Raga bingung. Dia tak percaya suara tangisan itu suara sahabatnya.
“Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttttt”

TERPUTUS!!!! Berbarengan dengan lonceng jam kunonya berbunyi. Tepat menunjukkan jam 24.00. TENG!!! Dua puluh empat kali suara itu terdengar. Membuyarkan konsentrasi Raga.
Raga mencoba menelpon kembali, tak ada nada sambung. Dia coba lagi. Tak Nampak tanda kehidupan. Raga menyerah di percobaan yang kesekian. Dia taruh telponnya.

* * *
Perhatiannya kembali tertuju ke layar monitor notebooknya. Ke satu email itu.
Dia gerakkan kursor, berhenti tepat di foto akun Marwah. Dia tekan tombol kiri.
Klik!!
DEGGG!!!
Di detik itu jantung Raga berdetak kencang. Kakinya pilu. Keringat dingin keluar dari tubuhnya.
Raga Pingsan.
* * *
Jam 00.09
Di monitor kecil itu, di akun FS sahabatnya itu, tertulis beberasa testimoni dari sahabat-sahabat Marwah:
-Marwah sayang, nandaka wakaranai kedo, i miss you,  semoga Tuhan senantiasa memberikan kebahagiaan padamu disana, semoga kebaikan besertamu selalu, amiin... aishiteru!
-Arigato sensei, sayonara Marwahku
-Selamat jalan Marwah sahabatku, semoga jalan Tuhan terbuka untukmu, semua kebaikan yang telah kau lakukan semasa hidup dan cahaya yang kauberikan semoga akan menjadi sinar hangat.
Tubuh Raga terjerembab ke lantai. Sebelum dia merampungkan membaca seluruh testimoni-testimoni itu. Dia kaget dengan tanggal yang tertera di testimoni-testimoni tersebut. Semuanya tertanggal 28 Juni 2008.
DUA TAHUN YANG LALU.

* * *



“Hah kamu sampai pingsan?? Hahaha” Sarwah tertawa terpingkal-pingkal. “Trus siapa yang menolongmu?”
“Kualat kamu bermain-main dengan nomor telpon Marwah seperti itu. Gak ada yang menolonglah, sendirian tau. Nih masuk angin gara-gara semalaman tergeletak di lantai” Raga tampak jengkel. Mengingat kejadian yang dialaminya tadi malam.
 “Hahaha” Sarwah tertawa, sampai air matanya keluar. “Maaf teman”.
Raga baru tahu setelah kembaran Marwah itu mengabarkan berita kepergian sahabatnya. Juga nomor telpon Marwah yang sekarang dipakainya.
Tut tut tut tuuuuut. Telpon terputus.

Hari ini tanggal 24 September 2010. Jumat Kliwon.

0 komentar:

Posting Komentar

Emoticon yang dapat digunakan [Tampilkan] [Sembunyikan]



:-))
:-)
:-D
(lol)
:-p
(woot)
;-)
:-o
X-(
:-(
:'-(
:-&
(K)
(angry)
(annoyed)
(wave) | (bye)
B
(cozy)
(sick)
(:
(goodluck)
(griltongue)
(mmm)
(hungry)
(music)
(tears)
(tongue)
(unsure)
(highfive)
(dance)
(blush)
(bigeyes)
(funkydance)
(idiot)
(lonely)
(scenic)
(hassle)
(panic)
(okok)
(yahoo)
(cry)
(doh)
(brokenheart)
(drinking)
(girlkiss)
(rofl)
(money)
(rock)
(nottalking)
(party)
(sleeping)
(thinking)
(bringit)
(worship)
(applause)
8
(gym)
(heart)
(devil)
(lmao)
(banana_cool)
(banana_rock)
(evilgrin)
(headspin)
(heart_beat)
(ninja)
(haha)
(evilsmirk)
(eyeroll)
(muhaha)
(taser) | (rammi)
(banana_ninja)
(beer)
(coffee)
(fish_hit)
(muscle)
(smileydance)
(fireworks)
(goal)
(bzzz)
(dance_bzz)
(Русский)
(code)
(morning)

Cara menggunakan: ketikkan emoticon yang diinginkan. Untuk yang ada pemisah berupa "|" maka itu adalah alternatif. Seperti (wave) | (bye) maka bisa (wave) bisa (bye)