-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Bedah Buku Negeri Lima Menara

Lelaki setengah baya berdiri di depan kerumunan orang-orang. Di tangan kirinya sebuah mike warna hitam digenggamnya. Mimik mukanya serius menerangkan sesuatu. Kata demi kata yang keluar dari mulut dengan tekanan yang kuat. Pakaian nuansa gelap yang dikenakannya membuat penekanan semakin kuat.
"...yarmi kurrah ila wasat, ilal yusra, wa gooool!!!" di saat bersamaan terdengar suara "DOOM!! DOOM!!" beberapa kali.
Bola dilempar ke tengah, lalu ditendang ke kiri, dan gooool!! begitulah kira-kira arti dari kalimat di atas. Dia bercerita, dan menurutku pikirannya disaat yang bersamaan juga melayang ke beberapa tahun kebelakang. Benar saja, yang diceritakannya adalah masa ketika dia berada di sebuah lapangan sepakbola di sebuah Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Semua hadirin seperti terpana mendengarkan cerita-cerita nya yang menggugah semangat itu.

Tapi di detik saat dia bilang goool!!! terdengar suara ledakan berkali-kali, giliran dia sendiri yang terheran-heran. "Di luar tidak ada yang sedang bermain bolakan?" tanyanya penuh curiga. Giliran semua hadirin yang tertawa.
***
Yah, lelaki setengah baya itu adalah Ahmat Fuadi yang sedang membedah novelnya, Negeri 5 Menara. Sementara suara ledakan tersebut adalah suara meriam dari Istana Merdeka. Sebuah pertanda adanya penyambutan tamu Negara oleh Presiden. Memang kebetulan sekali waktu bedah buku bersamaan dengan kedatangan Perdana Menteri Australia, The Honourable Julia Gillard (bukan hohourable seperti yang tertera di papan raksasa depan istana yah, hehe). Dan kebetulan juga lokasi bedah buku bersebelahan langsung dengan Istana Merdeka.

Jakarta, 2 November 2010. Sejak pagi hari panas sudah menyengat kulit. Tapi tidak ada alasan bagiku untuk tidak beranjak keluar kantor. Tentunya bukan untuk kabur dari kantor. Hari itu sudah kutunggu dan kunanti sejak beberapa hari yang lalu, tepatnya saat seorang teman mengabarkan lewat email tentang rencana bedah buku dari A. Fuadi di kantor, tak lama kemudian disusul undangan resminya. Itulah alasanku meninggalkan pekerjaan. Tepat jam 8 pun saya beranjak ke Ruang Serba Guna Gedung Sekretariat Negara III.

Acara bedah buku ini diadakan oleh Perpustakaan Setneg dan dibuka oleh Deputi Menteri Sekretaris Negara Bidang Dukungan Kebijakan. Memang semenjak saya mengetahui rencana bedah buku ini saya juga heran, tumben-tumbennya kantor membedah novel yang tidak ada kaitannya dengan ketatanegaraan, kebijakan publik, ataupun masalah perundang-undangan. Jadi bedah buku kali ini ini adalah yang pertama kalinya keluar dari pakem tersebut.

Setelah pembukaan dilanjutkan dengan sesi perkenalan penulis. Beberapa slide visual menambah takjub sesi ini, seperti pemandangan Danau Maninjau yang sangat indah dan juga gambar-gambar lain sebagai penggambaran visual isi novel. Kejutan lainnya datang dari penulis, menurutnya baru kali ini bedah buku nya dilakukan oleh instansi berkop Garuda.

Sesi paparan pun dimulai, disela-sela paparan dimasukkan slide video untuk mempercantik penjelasan lisan. Menurut penulis, ini adalah novel yang terinspirasi dari kisah nyata. Tokoh utamanya pun memiliki inisial yang sama dengannya, yaitu AF. Sinopsisnya silahkan baca sendiri yah di sini.
Secara garis besar penjelasan novel Negeri 5 Menara tersebut dibagi menjadi (sementara belum ada penjelasan poin-poinnya ya hehe):

A. Mozaik Negeri 5 Menara:
  1. Keikhlasan para guru dan murid saat mengajar dan belajar.
  2. Dibuat menjadi warga global.
  3. Bahasa asing kunci pintu dunia (Arab dan Inggris).
  4. Khairunnas antauhum linnas, jadilah bermanfaat bagi lingkungan.
  5. 24 jam pendidikan.
B. Hikmah Negeri 5 Menara:
  1. Niat kuat dan ikhlas sebagai energi abadi. Lakukan untuk sebuah alasan dari dalam dengan niat yang kuat.
  2. Impian tinggi. Tuliskan, jangan rugi sampai dua kali.
  3. Man Jadda Wa Jada, yang artinya barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Kata-kata sakti inilah yang menjadi inti dari novel ini.
  4. Doa dan syukur sebagai energi ajaib.
  5. Tawakkal. Huznuzzhan, let it go, move on.
Terakhir adalah penjelasan tentang rencana trilogi novel ini. Pola yang akan dipakai A. Fuadi adalah 5-3-1. Novel pertama judulnya mengandung angka 5, Negeri 5 Menara. Novel kedua mengandung angka 3 yang menggambarkan tiga negara, Ranah 3 Warna, dan novel terakhir dari trilogi ini akan memakai angka 1, penasaran dengan judulnya?? Judulnya adalah....
masih rahasia katanya hehe.

Setelah acara utama selesai, dilanjutkan dengan acara tanda tangan dan foto-foto, serta makan siang. Sayapun tanpa ragu-ragu minta tanda tangan sambil bilang @hanggaady yang terus-terusan mention di twitter Mas. Kebetulan saya mention @fuadi1 sebelum acara berlangsung, bahkan jauh hari saat saya membaca novel ini. Saya jelaskan juga sebenarnya akan melakukan live tweet acara ini, tapi karena battere habis jadi batal deh hehe :) Terima kasih Mas.

 
Gambar dan liputan juga bisa diliat di situs www.setneg.go.id di sini dan di sini.

0 komentar:

Posting Komentar

Emoticon yang dapat digunakan [Tampilkan] [Sembunyikan]



:-))
:-)
:-D
(lol)
:-p
(woot)
;-)
:-o
X-(
:-(
:'-(
:-&
(K)
(angry)
(annoyed)
(wave) | (bye)
B
(cozy)
(sick)
(:
(goodluck)
(griltongue)
(mmm)
(hungry)
(music)
(tears)
(tongue)
(unsure)
(highfive)
(dance)
(blush)
(bigeyes)
(funkydance)
(idiot)
(lonely)
(scenic)
(hassle)
(panic)
(okok)
(yahoo)
(cry)
(doh)
(brokenheart)
(drinking)
(girlkiss)
(rofl)
(money)
(rock)
(nottalking)
(party)
(sleeping)
(thinking)
(bringit)
(worship)
(applause)
8
(gym)
(heart)
(devil)
(lmao)
(banana_cool)
(banana_rock)
(evilgrin)
(headspin)
(heart_beat)
(ninja)
(haha)
(evilsmirk)
(eyeroll)
(muhaha)
(taser) | (rammi)
(banana_ninja)
(beer)
(coffee)
(fish_hit)
(muscle)
(smileydance)
(fireworks)
(goal)
(bzzz)
(dance_bzz)
(Русский)
(code)
(morning)

Cara menggunakan: ketikkan emoticon yang diinginkan. Untuk yang ada pemisah berupa "|" maka itu adalah alternatif. Seperti (wave) | (bye) maka bisa (wave) bisa (bye)