-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Quote for 27.12.2011

“Pendidikan bukan saja mencerdaskan. Pendidikan adalah eskalator.
Dia mengangkat derajat sosial ekonomi. 
Dia membukakan pintu-pintu untuk meraih kemajuan. 
Pendidikan adalah kunci dibalik keberhasilan”

-Anies Baswedan-

Bermain bola (plastik)

Jakarta, 24 Desember 2011.

Bola plastik. Siapa yang tidak tahu bola plastik? Dan siapa yang tidak pernah main bola plastik?
Kalau saya yang menjawab, saya akan bilang saya tahu dan bola plastik adalah sahabat masa kecil yang selalu menemani di sore menjelang petang, setiap hari, baik di lapangan rumput, lapangan semen, sawah, kebun atau pantai berpasir. Hanya di jalanan beraspal saja yang tidak pernah karena didesaku belum ada jalanan beraspal, waktu itu.

Bagaimana kalau di Jakarta? Setiap sore pulang kerja, saya selalu lihat anak-anak bermain bola di komplek perumahan (Permata Timur). Biasanya saya melihat mereka bermain di lapangan hanya sekilas, saat jalan melewati lapangan. Dua hari yang lalu, saya sempetkan berhenti sejenak untuk menikmati permainan bola plastik anak-anak ini. Ini foto yang saya ambil di tempat kejadian.

Berbekal sebuah bola plastik, anak-anak kecil ini bermain. Tampaknya mereka sudah di lapangan ini saat hujan lebat tadi. Semuanya basah-basahan, diiringi canda tawa, penuh keceriaan pokoknya, sesekali mereka berteriak di lapangan 'kecil' itu.
Selalu ada banyak ungkapan yang bisa digunakan untuk menjelaskan kebahagiaan saat mereka bermain.

(Ini anakku dari tadi godain aku nulis, ketawa-ketawa, senyum-senyum sambil gulang-guling, asyik bermain. Kucium malah senyum-senyum) *pariwara*

Tidak ada sepatu di atas lapangan beton itu. Inilah ciri khas permainan bola plastik, nyeker dan spontan. Tidak ada kostum di lapangan itu. Hijau, biru, merah, coklat berlebur jadi satu. Bahkan kostum warna coklat a.k.a kulit ikut menghiasi, mereka bertelanjang dada. Tidak ada gawang, hanya ada dua batu dengan jarak yang sama dengan dua batu di sisi lawan.
Tidak ada wasit ataupun hakim garis. Ini permainan bebas, aturan ditangan mereka sendiri. Tidak ada babak pertama atau kedua, tak ada peluit, semua konsensus diantara mereka sendiri.Tak ada pergantian pemain, tak ada pemain cadangan, semua bermain, 5 lawan 6. Teriakan yang paling sering terdengar adalah, "Goolll!" "Handball" "Out".

Dan yang paling penting adalah tidak ada KOMENTATOR seperti saat siaran bola tv-tv kita, yang menurut saya sok tau, dan menipu penonton karena biasanya iklan siaran bola langsung jam sekian, ternyata di jam segitu pertandingan belum mulai, masih sesi 'bung' komentator sampai setengah jam ke depan.

Tapi jangan salah ya, di sini banyak penonton, para tukang ojek yang nongrong di pangkalan pinggir lapangan, orang tua yang jalan-jalan dengan anak kecilnya atau sedang menyuapi, ibu hamil, orang jogging, dll. Saya salah satunya di sore itu.


Satu-satunya peluit tanda berakhirnya pertandingan (atau lebih tepatnya permainan) adalah panggilan dari salah satu ibu mereka,"Sudah petang, mandi!". Ibu siapa yang datang duluan, dialah yang mempunyai hak veto membubarkan permainan hehe.

Begitulah pengamatanku di lapangan komplek sore itu. Muka anak-anak itu tampak bahagia, senang masuk di dalamnya bukan. Kecerian mereka membuat gelora masa kecilku muncul sekaligus kerinduan menikmati permainan seperti itu.

Tips bermain bola plastik:
Pilihlah bola plastik yang bagus. Biasanya berlobang kecil untuk menjaga bola agar tidak pecah.
Jika tidak pernah main bola di aspal atau lapangan semen, jangan dipaksakan bermain jika tidak memakai sepatu karena kalau dipaksakan kaki bisa melepuh (menggembung dan berisi cairan).

Cari lawan yang sepadan yah, jangan melawan anak-anak. Boleh sih ikutan tapi harus ijin dari mereka dulu. Biasanya satu orang  dewasa akan dikonversi sama dengan dua orang anak.
Tendangan dengan ujung kaki (depan) lebih keras dan membuat arah bola plastik lurus, tidak berbelok.
Kalau dapat tendangan bebas, tendang dengan sisi luar kaki untuk melewati sisi kiri barisan tembok penghadang, di jamin bola akan berbelok seperti tendangan Roberto Carlos.
Untuk memperkuat penguasaan bola dari rebutan lawan, sering-seringlah bermain kucing-kucingan bola.
Jika bermain di jalanan (biasanya warga kota besar), waspada dengan para pengendara kendaraan bermotor, terutama motor.

Ada lagi yang mau menambahkan?

Dan tulisan ini membuat saya tersadar, saya sudah tua hahaha. Bener juga kata George Bernard Shaw:

We don’t stop playing because we grow old, we grow old because we stop playing.

Gambar koleksi pribadi

Organisasi Kemasyarakatan

 15 Desember 2011

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti seminar bertemakan organisasi kemasyarakatan (ormas).  Berikut akan saya sampaikan kisi-kisi yang saya dapat dari seminar tersebut plus sedikit perpsektif pribadi saya :)

Ormas dalam lintasan sejarah 
Secara historis ormas sudah menunjukkan peran yang sangat signifikan dalam proses berdirinya NKRI. Boedi Oetomo misalnya, dapat dikatakan sebagai cikal bakal organisasi kemasyarakatan nasional yang berjuang untuk kemerdekaan. Ormas-ormas kala itu mempunyai tujuan memperkuat persatuan dan kesatuan dan menumbuhkan benih-benih nasionalisme, yang akhirnya digunakan sebagai sarana perjuangan kemerdekaan dan tonggak kebangkitan nasional.

Potensi Ormas 
Yang pertama, dalam konteks individu, komunikasi dan interaksi yang terjadi di internal ormas yang memiliki latar belakang yang beragam  adalah komunikasi dan interaksi antar individu lintas budaya, glongan, suku dan agama.
Yang kedua, dalam konteks organisasi, ormas merupakan alat komunikasi dan interaksi yang konstruktif antar kelompok masyarakat, sehingga ormas dapat menjadi garda terdepat dalam mencegah konflik antar kelompok masyarakat.

Permasalahan 
Saat ini ada banyak permasalahan terkait dengan adanya ormas, diantaranya adalah pertumbuhan ormas yang jumlahnya sangat besar; ormas suka mengatur tapi tidak suka untuk diatur; sudah banyak regulasi yang mengatur ormas (UU Ormas, UU Yayasan, UU Organisasi Sosial, UU kepemudaan, dll); sering terjadi konflik dualisme kepengurusan; tidak mandiri dari segi pembiayaan sehingga mudah dimanfaatkan; rendahnya akuntabilitas pengelolaan ormas termasuk dana-dana publik yang dikelolanya; SDM yang kurang profesional; kesalahan para pemikir/pemerhati/akademisi tentang ormas yang cenderung selalu mengadopsi referensi dari luar negeri sebagai acuan dalam mengelola ormas; sebagian cenderung bergeser dari fungsi aslinya sebagai volunteer/sukarela ke arah kekuasaan/politik ekonomi; dan kurangnya pemahaman wawasan kebangsaan sebagian pengurus ormas.

Penataan Ormas 
Indonesia sebenarnya sudah memiliki Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 yang mengatur tentang ormas, namun UU tersebut lahir pada masa ketika iklim politik belum berubah seperti saat ini, sehingga saat ini perlu dilakukan lagi penataan ormas.
Melihat keberadaan UU tersebut, saat ini ada dua pandangan, yang pertama adalah aliran yang menghendaki pencabutan dan yang kedua adalah aliran yang menghendaki perevisian.

Aliran yang menghendaki pencabutan mempunyai alasan:
1. Ormas adalah kreasi rezim Orba untuk mengontrol dinamika masyarakat, justru untuk pembedaan SARA dan mendapatkan dana secara rutin dari Pemerintah.
2. Pengaturan mengenai ormas dikembalikan saja kepada kerangka hukum yang sudah ada.
3. RUU Perkumpulan lebih relevan dalam mengatur soal ormas.
4. Rentetan kekerasan yg dilakukan ormas. KUHP sudah mengatur bagi pelaku yang turut serta memerintahkan tindak kejahatan, permusuhan, dan kebencian terhadap golongan tertentu secara terbuka di muka umum.

Aliran yang menghendaki perubahan/revisi:
Pemerintah
1. Tidak tegas mengatur pemberian sanksi
2. Proses pembubaran panjang dan berbelit (teguran, pertimbangan dari Mahkamah Agung)

Masyarakat
1. Adanya peluang intervensi dan represi internal partai
2. Ancaman bagi kebebasan beroragisasi
3. Pembubarab tidak mensyaratkan proses pengadilan
4. Tidak membedakan ormas dengan LSM 

RUU Ormas 
Pemerintah sendiri lebih kealiran yang pro perubahan UU. RUU sudah dibahas bersama DPR, Pemerintah (diwakili 5 Kementerian) sudah menyampaikan pandangannya. Pengaturan ormas tujuannya hanya satu, sebagaimana tertuang dalam Pasal 28 J (2) UUD 1945.

Konteks RUU Ormas adalah mendudukkan ormas dalam ranah demokrasi  dengan menonjolkan pemberdayaan organisasi. Latar belakang yang dijadikan alasan penyempurnaan adalah:
1.UU 8 sudah tidak lagi sejalan dengan dinamika dan tuntutan pertumbuhan ormas yang kredibel (mandiri, modern, profesional)
2.Pengaruh perkembangan sosio-politik, yang memerlukan penyikapan secara proporsional untuk mewujudkan lingkungan yang sehat
3.Urgensi rasional tentang perlunya penggantian UU 8
4.Dalam kerangka reorganisasi, yang harus diimbangi dengan upaya perlindungan terhadap kepentingan publik.

Penyempurnaan tersebut tidak terlepas dari prinsip-prinsip:
1. Memperkuat jaminan hak dan berserikat serta berkumpul bagi warga negara
2. Mewujudkan keseimbangan relasi negara/masyarakat sesuai prinsip demokrasi
3. Mewujudkan ormas yang transparan dan akuntabel
4. Peran dan kedudukan pemerintah sebagai fasilitator.

Keberadaan ormas merupakan aktualisasi nyata pelaksanaan kebebasan berkumpul dan berserikat sebagai hak yang dijamin oleh konstitusi negara dan harus dikelola secara seimbang dengan kewajiban dalam berserikat dan berkumpul.

PERSEPKTIF PRIBADI

Biarlah ormas bebas berekspresi tanpa mengkotak-kotakkan, karena pada dasarnya ormas adalah bagian dari masyarakat, bukan representasi masyarakat, terlihat dari tidak adanya mekanisme pemilihan.

Untuk menjaga ketertiban sosial, seluruh ormas harus menyepakati nilai-nilai yang dianut dan dipercayai bersama untuk menjadi dasar ormas, yang menurut sebagian besar orang sudah ada dalam 5 Sila Pancasila.

Dalam kepentingan tertentu, Pemerintah boleh memberdayakan ormas, sebagaimana selama ini sudah dilakukan dan diatur khusus peraturannya, seperti dalam wadah PKK, KONI, Pramuka, dan lain-lain.

Apabila ada ormas yang tidak tertib, Pemerintah wajib menindak tegas, setiap pelanggaran harus diproses, apakah itu pelanggaran administrasi, perdata ataupun pidana. Untuk mempermudah, Pemerintah nantinya harus membuat bank data ormas nasional. 

Pemerintah juga jangan sampai inkonsisten, anomali, sehingga memunculkan ormas yang mengambil peran pemerintah sendiri. Jika diperlukan, pembubaran ormas harus diatur pembubarannya, termasuk pengajuan gugatan oleh masyarakat sendiri di pengadilan/MK.


Gambar dari google image

Tradisi Cibulan

 15 Desember 2011
 
I'm at Wisma Sekretariat Negara RI Cibulan (Jl. Raya Puncak, Cisarua). Itulah posisiku hari Selasa tanggal 13 kemarin via foursquare. Untuk yang kesekian kali nginap di Wisma Cibulan, bedanya satu hari itu acaranya hanya keakraban saja, tidak ada even yang harus dikerjakan, tidak ada seminar, tidak ada temu karya, hanya senang-senang saja :)

Kalo kesini seakan-akan sudah punya tradisi, yang selalu terulang tiap berkunjung (sebelumnya kutweet dengan hastag #TradisiCibulan). Pemilihan kata tradisi bukan untuk menjelaskan kebudayaan atau kebiasaan masyarakat Cibulan, ini hanya untuk menjelaskan kegiatan yang menurutku selalu saja berulang saat berkunjung dan menginap di wisma ini. Kira-kira inilah tradisi Wisma Cibulan:

Yang pertama, ketika datang selalu disambut dengan kopi, teh dan yang paling spesial adalah bajigur. Yang kedua, selalu ditemani camilan hangat seperti jagung rebus, kacang rebus, dan pisang rebus/goreng. Bayangin deh, suasana dengan udara dingin, pemandangan hijau, berkabut ditemani oleh minuman spesial bajigur hangat dan camilan sehat kayak gitu. Semua penat langsung hilang seketika.

Yang ketiga, selalu menyempatkan untuk renang dan tentunya foto-foto. Kolam disini tidak terlalu besar, tapi nyaman. Pemandangan hijau pegunungan tampak sangat jelas dari sini. Kolam dilengkapi fasilitas kamar mandi, meja, kursi, biasanya digunakan untuk nongkrong, atau sambil minum bajigur seabis berenang.

Yang keempat, sholat jamaah di masjid lokal, yang letaknya tidak terlalu jauh dari wisma, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Yang khas dari masjid ini adalah adanya imam besar yang datang setelah adzan, dan begitu beliaunya datang langsung masuk masjid menuju tempat imam, disaat bersamaan qomatpun berkumandang. Ada lagi kekhasan di masjid ini, yaitu bacaan qunut di rakaat terakhir sholat (sering ikut jamaah waktu sholat maghrib).

Yang kelima, menu makanan yang selalu dan pasti ada adalah ikan mas goreng dan lalapan+sambel. Ikan gorengnya maknyus banget, kering, renyah dan berasa, lazislah. Kalau menu pendampingnya ganti-ganti, kadang sop buntut, iga dll. Yang keenam, menu penutup makan selalu saja pisang, biasanya pisang ambon yang manis banget.

Yang ketujuh adalah ada kamar di wisma yang jarang digunakan atau malah pada tidak berani menggunakannya, kamar itu bertuliskan 'Kamar Menteri' hahaha. Alasannya ada yang takut kualat, pamali, sampe alasan klenik 'para mantan menteri'.
 
Tradisi yang terakhir adalah mampir beli oleh-oleh yang jaraknya juga tidak terlalu jauh dari wisma, Cimory atau singkatan dari Cisarua Mountain Dairy.

Bonus lainnya juga selalu menyertai, dingin, sejuk, segar, embun. Dan hari Selasa itu disempurnakan dengan kunjungan ke Taman Safari.
Berhasil 'ngincup' capung, dan digigit :)

9 Summers 10 Autumns: Berlayar, Terus Berlayar

9 November 2011

"Orang yang kita temui secara random, bisa mengubah hidup kita", @Iwan9S10A.

Hari Kamis itu, 1 Desember 2011, sebuah kertas kecil terlihat manis di atas mejaku yang kosong, yang dua hari sebelumnya sudah kutata rapi dan kukosongkan dari berkas-berkas kerjaan karena keesokan harinya harus kutinggalkan untuk mengikuti Uji Kompetensi Pegawai Kemsetneg di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Gaharu. Kertas kecil itu adalah undangan bedah buku 9 Summers 10 Autumns bersama penulisnya, Iwan Setyawan, pada Hari Selasa, tanggal 6 Desember. Kalimat terakhir undangan itu cukup menggiurkan, gratis buku tersebut untuk 100 orang pendaftar pertama di Perpustakaan Setneg.
Undangan itu ternyata sudah ada di meja saat aku mengikuti Uji Kompetensi di Hari Rabu. Kamis itu, aku bersama teman-teman langsung ke Perpustakaan Setneg untuk mendaftar. Sayang seratus sayang, seratus novel itu sudah habis, kami terlambat mendaftar. Mungkin karena letak kantor kami yang di sayap timur membuat kami kalah langkah dari warga sayap barat hehe.

Pucuk dicinta, 20 ulampun tiba. Ada telp dari perpustakaan yang mengatakan ada tambahan 20 novel baru. Dengan langkah dua puluh, aku bergegas untuk memburu novel ini. Nomor 105 terlihat indah. Yah voucher novel bernomor itu sudah ada ditangan.

Aku sebenarnya sudah berniat membeli novel ini ketika kunjungan terakhir ke Gramedia, tentu saja setelah melihat ulasan dan beberapa kisah tentang buku ini di televisi. Entah kenapa aku hanya menyentuh saja sambil bilang dalam hati, “Jumat depan saja belinya”. Aku hanya membeli novel yang lebih dulu aku ketahui, seperti Madrenya @deelestari dan Sebelas Patriotnya @andreahirata. Sebuah kebetulan, sehari sebelum kembali ke Gramedia malah dapat 9 Summers 10 Autumns dari perpustakaan.

* * *
Selasa, 6 Desember. @ Ruang Serbaguna, Sekretariat Negara RI Gedung 3 http://4sq.com/vXBTD1.
Lelaki dari Kota Batu itu terlihat berbincang dan melayani beberapa orang yang meminta tanda tangan di samping. Kuhampiri dia, aku menyapanya sekaligus mengulangi pernyataanku di twitter saat berkenalan dengannya, “Aku Hangga Mas, yang dari Malang”. Hahaha sengaja memberikan penekanan hanya untuk memberitahu kota asal kami. Bagiku, berjumpa dengan orang sekampung di wilayah yang jauh dari kampung itu bisa menumbuhkan memori yang sangat dalam, dan bagiku selalu membuat kerinduan untuk pulang. Dia begitu bersahaja.

Saat itu aku membawa 4 novelnya untuk minta tanda tangan, namun sama panitia keburu dihentikan sebelum niat itu terlaksana. Acara segera dimulai, kilahnya.

Acara bedah buku ini diadakan oleh Perpustakaan Setneg. Jujur aku senang, namun sudah tidak heran lagi kenapa kantor membedah novel yang tidak ada kaitannya dengan ketatanegaraan, kebijakan publik, ataupun masalah perundang-undangan. Bedah buku kali ini ini adalah yang kedua kalinya keluar dari pakem tersebut, setelah sebelumnya Negeri 5 Menara.

Setelah pembukaan dilanjutkan dengan sesi perkenalan penulis. Kemudian sesi paparan dimulai.
Lelaki itu memilih berdiri daripada duduk, digenggamnya mic warna hitam di tangan kanannya. Dengan penuh semangat kata demi kata keluar dari mulutnya, diselingi beberapa boso jowo khas Malangan. “Matek aku” “Jancuk”. Baju batik dan celana hitam tak bisa menutupi tubuhnya yang kurus hehe. Yah lelaki itu adalah Mas Iwan Setyawan.
Mas Iwan ternyata juga mempunyai tujuan lain datang kesini, yaitu mencari jodoh hahaha. Tuh para gadis, pendaftaran dibuka :)

Cerita secara lengkap bisa dibaca langsung ya, bukunya cukup tipis, dan akupun tidak sampai seperempat hari untuk menyelesaikan dan mengarungi kisah Mas Iwan.
Aku hanya akan menulis garis besar, makna tersirat atau nilai yang bisa diambil dari novel tersebut.

Alasan menulis novel

Menurut Mas Iwan, dia menulis novel ini karena melihat dan mengamati keponakan-keponakannya yang sudah sangat pop culture, yang tidak tahu sejarah keluarga atau orang tua mereka, dia ingin mewariskan kisah keluarganya ini kepada keponakan-keponakannya tersebut.
Alasan kedua adalah dia, keluarganya, tidak satupun memiliki foto keluarga, jadi dia mengambil pilihan untuk mengabadikan kisah keluarga mereka lewat sebuah tulisan.
Dan yang terakhir adalah, siapa tahu buku ini bisa menginspirasi orang lain di luaran sana, terutama anak-anak sopir angkot.

Sesuatu yang bisa kita ambil

1. Kaya intelektual dengan membaca
 
Nulis itu membutuhkan energi, begitulah menurutnya. Banyaklah membaca supaya bisa menulis. Apalagi kebiasaan baca bangsa ini masih kalah dibandingkan bangsa-bangsa maju. Mas Iwan sendiri dulunya adalah golongan yang antipati terhadap pembaca novel. Berarti dia berhaluan berbeda denganku nih hehe.

Dia suka membaca dari kecil tapi dia sendiri baru berkenalan dengan fiksi itu justru setelah diperkenalkan oleh teman-temannya semasa di New York. Keindahan bisa didapat dari membaca. Ada kekuatan intelektual disana, yang mana ini adalah bekal yang tak terhitung dibandingkan apapun.

Kita perlu terus memperkaya intelektual dengan membaca.
Sepanjang sejarah, Negara ini tidak pernah digerakkan oleh tokoh politik ataupun tokoh agama, tapi tokoh-tokoh intelektuallah yang melahirkan dan menggerakkannya.
Dompet bolehlah kosong, tapi otak jangan sampe. Satu lagi, kalau tidak belajar kita akan bodoh.

2. Pendidikan adalah segalanya

Untuk orang tua, usahakanlah pendidikan terbaik untuk anak-anakmu.
Bagi anak-anak, jangan pernah menyerah sebelum engkau mencobanya. Do your best. Pendidikan adalah saat menanam benih untuk kehidupanmu kelak.

Seperti kata Anis Baswedan, “Pendidikan bukan saja mencerdaskan. Pendidikan adalah eskalator. Dia mengangkat derajat sosial ekonomi. Dia membukakan pintu-pintu untuk meraih kemajuan. Pendidikan adalah kunci di balik keberhasilan”.

Atau kata ibunya Mas Iwan, yang juga sama seperti yang dikatakan oleh ibukku, “Uripku wis soro, ojo sampe anak-anakku koyok aku. Carane yo sekolah, sing penting sekolah. I Hidupku sudah susah, jangan sampai anak-anakku seperti aku. Cara merubahnya ya dengan sekolah, terus sekolah”.

3. Creative thingking dalam keterbatasan

Tidak semua orang memiliki sara dan prasarana penunjang dalam hidupnya, dalam pendidikannya, maka berpikirlah kreatif. Itulah yang dilakukan Mas Iwan di gubug kecilnya, misalnya dengan belajar di jam 3 pagi.

Keterbatasan itu yang membuat Mas Iwan merasa ‘kecil’. Tapi usahanya dalam melawan keterbatasan itu telah membuat dirinya mampu menembus batas ketakutannya. Kisah inipun bukan kisah tentang mimpi dan kesuksesan, tapi tentang keberanian untuk menembus batas ketakutannya.

4. Tidak ada proses instan

Diperlukan sebuah perjuangan untuk bisa hidup lebih baik. Kapal kita tidak serta merta menjadi besar, harus dibangun terlebih dahulu dan dilayarkan. Semuanya membutuhkan waktu, kerja keras dan usaha, tidak ada yang instan. “Berlayar, terus berlayar”.

5. Kesempatan itu seperti buah-buah yang menggelantung di atas

Meloncatlah untuk menggapainya, dengan skills dan intelektual, dengan spirituality.
Orang yang sukses adalah orang yang bisa meledakkan kemampuannya. Terimalah setiap tantangan dengan berani, berilah nilai tambah dalam dirimu. Karena pada dasarnya dalam setiap perjalanan manusia, kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu datang seperti gelombang.
* * *
Setelah acara utama selesai, dilanjutkan dengan acara tanda tangan dan foto-foto, serta makan siang. Akupun tak mau ketinggalan untuk minta tanda tangan yang tertunda, tentunya foto-foto juga. Maaf agak keliatan lemes, karena hari itu bertepatan dengan tanggal 10 Muharram, aku sedang puasa dan tidak sahur.


Saat mau kembali ke kantor, aku pamit ke Mas Iwan dengan melambaikan tangan. Seperti kukatakan di awal, dia sangat bersahaja. Dia menghampiriku meninggalkan menu makan siangnya di meja, kembali berjabat tangan, dan dia bilang senang akhirnya bisa ketemu langsung. Kuperkenalkan juga kepada Pak Wandi yang juga berasal dari Malang, tebak apa satu kalimat yang keluar dari mulutnya. “Njancuki pisan!” wkwkwk. Aku menawarinya mampir ke kampungku di Malang. Dia akan mengusahakan, hubungi lagi saja, begitu katanya. Insyallah Mas.
Untuk Mas Iwan, jujur aku lebih menyukaimu cara bertutur dan berceritamu daripada membaca bukumu hehe. Makanya aku pingin banyak denger cerita dan menggali pengalamanmu secara langsung. Kapan-kapan kalau ada waktu main ya ke gubug kecilku, sebuah gubug kecil di Desa Purwodadi, Tirtoyudo, Malang Selatan. Di pesisir pantai selatan.
Kalau mau beneran 'berlayar' bisa kelilingi Pulau Sempu Mas hehehe.

"Berlayar. Terus berlayar"

Foto koleksi pribadi.

Menanti Sebuah Ucap

 25 November 2011
Kamu masih terdiam
Apakah jika aku tak di sini kamu bicara?
Aku ingin kamu yang seperti biasanya
Bicara segala hal denganku

“Jangan bicara yang penting selama tidak ada aku, ya?”
“Aku mau cerita sama kamu dan dengerin cerita-ceritamu”
“Aku tak mau melewatkan sedikitpun cerita darimu”
 Begitu katamu, dulu.

Kita sudah saling mengenal, jadi aku yakin kamu masih mau saling bercerita mengenai segala hal denganku
Setiap percakapan denganmu adalah hal yang berharga buatku
Tapi hari ini tiada kata terucap darimu
Tidak kudengar lagi celotehmu itu

Sore itu hanya sebuah pesan singkat yang kuterima darimu
Hanya sepenggalan kata tanpa suara,
“Dua langkah kaki beranjak, berjalan beriringan, menuntut sebuah ucap. Tapi acapkali ucap tak pernah terucap, hanya terdiam dan membisu”

* * *
Kasih, apakah aku harus mengancammu dengan matahari di malam sunyi ini
Atau dengan hujan di hari yang cerah, agar kau percaya
Aku tidak akan sekejappun meninggalkanmu sendiri
Tanyalah orang tuamu, apakah mereka mengijinkanmu pergi bersamaku mengikat janji suci

Segeralah, segeralah temui mereka
Sesegera kabar datang darimu, sesegera itu pula aku akan datang menepati janjiku
Aku tidak akan sekejappun meninggalkanmu sendiri
Kita saling menyayangi, tapi aku tak akan membawamu tanpa restu orang tuamu

Nanti, tiap detik biarkan aku memujamu, jika tidak aku bisa gila
Aku akan menerapkan cintaku tiap hari
Tapi aku hanya akan sesekali mengatakannya padamu
Di setiap langkah kakiku, di setiap langkah hidupku

Aku suka pondok kecil, katamu kamu juga
Nanti pula, kita akan membuatnya, untuk aku kamu dan anak kita
Turut serta kubawa kursi bambu tempat kita biasa menikmati secangkir teh atau coklat
Pohon-pohon tinggi akan kutebang, agar tidak menghalangi pandangan kita pada pelangi dan senja
Dan aku akan senang dengan padang rumput, kita harus sering pulang berbasah-basahan nanti

* * *
"Sudah tengah malam sayang, kamu masih ingat semua percakapan kita itu dulu bukan?"
 Kamu hanya tersenyum 
"Mari pejamkan mata sejenak, sebelum putri kecil kita menggoda dengan senyuman manisnya di pagi esok"
"Senyum manis putri kecil kita, Sayang"
00:01 wib. Semalam.

TIPS: Bagi yang sudah lama PDKT, atau sudah lama pacaran tapi tidak ditembak-tembak atau dilamar-lamar boleh juga deh kirim sms di atas untuk pasangan agar cepet ditembak atau dilamar, barangkali hati pasangan Sahabat selembut saya, langsung menembak :)
 
*Foto koleksi pribadi

Gattaca: Inspirational movie

 24 November 2011
 
Siapa penggemar The Sims Social? Bagi para pemain satu game ini pasti tahu kalau minggu ini adalah minggu Sci Fi  atau disebut Sci Fi week, dengan berbagai kostum, ornamen dan peralatan berbau luar angkasa. Tulisan ini tidak terkait dengan game tersebut, hanya saja berbicara tentang tema Sci Fi ada satu film dengan aliran Sci Fi yang sudah beberapa kali saya tonton, terakhir semalam di HBO –sampai tengah malam-  yang layak untuk saya rekomendasikan. GATTACA.

Yah di dalam film ini, setingan masa depan, peralatan mutakhir, kostum para pemain, venue, pokoknya cerita dan skenario film ini dibuat sebegitu dalamnya dengan settingan Sci Fi, serba berbau luar angkasa, bahkan pesawat ruang angkasa hilir mudik terlihat menembus angkasa setiap harinya.
Berawal dari tokoh utama, Vincent Freeman -yang diperankan oleh Ethan Hawke- seorang pria yang dilahirkan dengan vonis rentan secara genetik, atau dalam film ini disebut In Valid, faith birth atau de-gene-erate, dengan umur yang diprediksi tidak lebih dari 30 tahun, namun mempunyai impian sangat tinggi untuk pergi menjelajah angkasa. Dia pada awalnya hanya bekerja di Gattaca sebagai seorang tukang sapu karena hanya mempunyai kemampuan sesuai vonis tersebut, bahkan orang tuanya sendiripun sudah meremehkan dan menentang cita-citanya.

Dunia Gattaca hanya membedakan dua kelas, yang punya DNA unggulan dan yang tidak punya DNA unggulan. Lantas bagaimana cara Vincent yang punya kelainan jantung sejak lahir dan berkacamata minus bisa mengejar cita-cita di era yang dengan sebegitu gampangnya DNA orang diketahui ini?
Dia menggunakan DNA orang lain, tentu yang sudah divonis Valid, milik temennya yang memiliki gen unggulan -Jerome Morrow, yang diperankan oleh Jude Law-.

Setelah dia berhasil memasuki Gattaca dengan menggunakan DNA Morrow: air seni, detak jantung rekaman, retina mata, sampel darah. Tentu diiringi dengan usaha dari Vincent sendiri, seperti harus mempertahankan diri berlari dengan waktu sekian lama di treadmill walaupun menggunakan detak jantung rekaman milik Morrow. Sangat sesuai dengan tag line film ini There Is No Gene for The Human Spirit.

Beberapa saat sebelum impiannya terbang terwujud, terjadi pembunuhan di Gattaca, dimana kemudian FBI turun tangan, Vincent yang sudah bermetamorfosis menjadi Jerome Morrow, dengan sekuat tenaga mempertahankan diri agar identitasnya tidak terbongkar.

Klimak cerita adalah saat proses penyidikan pembunuhan ini. Vincent secara tidak sengaja meninggalkan DNA miliknya sendiri di Gattaca, seperti sehelai rambut dan gelas bekas minum, yang membuat terduga pelaku pembunuhan ditujukan ke Vincent Freeman.

Satu cuplikan yang saya suka adalah saat ketua penyidik,– Anton Freeman-, menanyakan keberadaan Jerome Morrow yang tidak masuk ke Gattaca dan meminta kepada Irene, temen dekat Morrow palsu –yang diperankan Uma Thurman- untuk mengantarkan ke rumah Morrow. Morrow palsu kemudian menghubungi Morrow asli di rumah agar bertindak sebagai dirinya sendiri.

Morrow yang cacat dan duduk di kursi roda kemudian menjatuhkan diri dari kursi roda dan naik ke lantai atas menggunakan tangan, menyusuri tangga yang mirip seperti lingkaran DNA. Setelah sampai di lantai atas dengan susah payah, kemudian dia pura-pura duduk dengan kaki diangkat, tepat sebelum penyidik dan Irene datang. Dengan santai, Morrow menyapa wanita itu dengan kalimat mesra seakan-akan memang pacarnya. Kemudian Anton Freeman meminta sampel darah untuk di tes. Bisa diketahui hasilnya kalau dia Valid, karena dia memang Jerome Morrow.

Konflik selanjutnya saat Vincent harus menjelaskan drama tersebut ke Irene, yang terselesaikan karena mereka saling mencintai, Irene membuang sampel rambut yang diberikan oleh Vincent untuk dites.

Ketua penyidik, yang tidak lain adalah adik dari Vincent, si golongan sempurna, menyadari kalau Vincent adalah kakaknya. Kemudian dia menemui  Vincent. Vincent menolak diduga sebagai pembunuh. Penyelesaian konflik ini simpel, beradu renang di laut, seperti ketika mereka masih kecil. Malam itu, mereka berdua berenang menjauhi pantai, yg menyerah akan kalah. Akhirnya si cacat menang dan menyelamatkan adiknya. Dengan panduan bintang dia berhasil ke pantai. Berikut cuplikan adegan yang sangat keren dari keduanya saat berenang di tengah lautan:
Anton: Vincent! How are you doing this Vincent? How have you done any of this? We have to go back.
Vincent: It's too late for that. We're closer to the other side.
Anton: What other side? You wanna drown us both?
Vincent: You wanna know how I did it? This is how I did it Anton. I never saved anything for the swim back.

Kemudian di hari penerbangan. Dr. Lamar mencegat Vincent yang mau masuk ke pesawat. Itu karena kebijakan dari FBI untuk sekali lagi meyakinkan DNA para awak Gattaca. Saya juga sangat suka adegan percakapan terakhir ini:
Vincent: What's this?
Dr. Lamar
: New Policy, what's the matter? Flight got you nervous.
Vincent
: Nope, there's a problem Lamar.
Dr. Lamar
: I still haven't told you about my son have I. He's a big fan of yours
Vincent
: Just remember. I was as good as any, and better than most
Dr. Lamar
: He wants to apply here
Vincent
: I could've gone up and back and nobody would've been the wiser
Dr. Lamar: unfortunately my son's not all that they promised. But then again, who knows what he could do.
[test reveals Vincent as invalid]
Dr. Lamar
: For future reference, right handed men don't hold it with their left. Just one of those things.
[Lamar hits button revealing Jerome's valid i.d]
Vincent
: [Vincent stares into Lamar eyes, hesitating]
Dr. Lamar
: You're gonna miss your flight Vincent.

Di hari itu penerbangan itu pula, Morrow menyiapkan darah, air seni, contoh DNA selama dua kali umur Vincent, untuk digunakan saat pulang nanti. Disaat Vincent dengan identitas Morrow sudah berhasil masuk ke pesawat luar angkasa, pas mesin ulang alik menyala, menyala pula tungku Morrow. Tungku itu membakat dirinya sendiri, bersama medali prestasi yang didapatkannya saat sebelum cacat kaki. Mengorbankan identitasnya demi Vincent.

Yah! Dunia Gattaca yang penuh kesempurnaan bisa ditembus oleh Vincent yang berasal dari golongan in valid. Kesempurnaan Morrow yang cacat kaki berpadu manis dengan ketidaksempurnaan Vincent yang punya mimpi-mimpi besar untuk menjadi penerbang luar angkasa. Vincent berhasil 'menipu' Gattaca dengan menggunakan statistik milik Morrow dan akal-akalan mereka berdua. Impian seorang cacat terkabul. Dia berhasil menembus kokohnya pertahanan Gattaca, berhasil membuat sejarah sebagai orang 'cacat' pertama yang terbang ke luar angkasa.

Satu kesimpulan, film ini sangat menginspirasi, mengajarkan kepada kita apa yang tidak mungkin bisa terjadi kalau kita terus percaya dengan impian itu dan tentu saja terus mau berusaha.

Trailer:


Gambar dari google image

Kecuali engkau yang menghujaniku

17.30 aku kehujanan
Sekarang aku benci kehujanan
Tapi, aku benci diriku yang sekarang benci kehujanan

Dulu, aku sangat suka hujan
Berhujan-hujan
Kehujanan

Ada keindahan di baliknya
Tidak mengaduh, tidak memilih tempat jatuh
Ciumi bumi, baui tanah, jadi gemah ripah

Ada kerelaan di baliknya
Tergelincir pada setiap bidang
Hilangkan debu jalanan
 
Ada keramaian di baliknya
Suara yang berbeda, berirama
Rintik gerimis, deras

Ada kesunyian di baliknya
Tiada burung
Tiada layang-layang

Sekarang aku benci kehujanan
Kecuali engkau yang menghujaniku ciuman
Kecuali engkau yang menghujaniku pelukan

Hujan menyampaikan kerinduan pada bumi
Kamu menyampaikan kerinduan padaku


Sore menjelang sampai rumah
Permata Timur, 14.11.11
Gambar dari google image

Tentang kuning telur ayam kampung

Gara-gara baca status fb temen, -"Kalau di sini (Jepang) anjing sahabat manusia, kalau di kampung tentu saja ayam, saking bersahabatnya kalo tuan dan nyonya-nya lapar dan pengen makan enak ia bersedia mengorbankan diri dan calon anaknya. ayam memang sahabat manusia paling keren."- jadi inget draft tulisan tentang telur ayam yang udah lama tersimpan di folder.

Baiklah, temenku berhasil membuatku untuk menuliskannya kembali di sini, karena sebelumnya emang pernah ku tweet dengan hashtag #telur.
Begini ceritanya.

Ngomong-ngomong soal telur, waktu kecil hobiku adalah makan kuning telur ayam kampung, MENTAH. Lebih tepatnya dipaksa ortu sih. Ortu sampe bela-belain pelihara ayam kampung sendiri. Jumlah ayamnya sampe banyak banget. Tapi semuanya tidak dikandangin, dibebasin, dalam artian dibuatin kandang namun ayam-ayam tidak dikunci di dalamnya, jadi ayam-ayam ini bebas keluar masuk. Ya gitu deh, karena tingkat ke playboy-an dan ke playgirl-an ayam yang tinggi, kandang akhirnya mereka pilih hanya untuk tidur aja. Mereka lebih suka kawin sana-sini, disembarang tempat pula. Yang lebih parah tidak mengenal pasangan lagi, gonta-ganti, siapa yang dalam jangkauan langsung disikat hehe. Kalau sore hari meraka pulang sendiri, pinter banget yah ayam2nya.


Tiap pagi dan sore ayam-ayam secara sukarela kumpul di halaman, nunggu dikasih makan, biasanya beras dan jagung hasil panen sendiri dari sawah. Seneng banget kalau waktu ngasih makan, puluhan ayam mengelilingi kami, apalagi kalau nyebar makanannya di sekeliling.

Telur2 yang kuminumpun langsung diambil dari sarang babon-babon, jadi telurnya kualitas nomor satu. Makanya dari kecil sudah jago banget misahin kuning telur dari putih telurnya. Cara minumnya macem-macem, bisa langsung dari cangkang setelah dibuang putihnya atau dimasukin gelas terlebih dulu. Yang terakhir ini biasanya dicampur sama sprite.

Suatu ketika ada satu efek yang tak terduga, sama dokter aku didiagnosa kebanyakan protein. Jadi timbul benjolan-benjolan putih di tubuh. Benjolan2 itu letaknya di lipatan-lipatan tubuh: tangan, selangkangan, kaki dan lain-lain. Serem deh!

Tapi setelah sembuh, hobi makan kuning telur ayam kampung yang masih mentah berlanjut. Enak banget deh pokoknya. Slurppp! Kalian harus mencobanya. Sensasi rasa yang terenak saat dicampur dengan sprite tadi, syaratnya kuning telur jangan dipecahin, biarkan utuh bulet. Jadi waktu nelen terasa nikmat.

Banyak untungnya juga melihara ayam sendiri. Saat menjelang Idul Fitri dimana ada tradisi hantaran di kampung, telur dan daging ayam tak pernah beli. Saat kendurian juga gitu, tinggal potong aja ayam-ayam itu. Seingatku dulu nyembelih 20an ekor. Tugas utamaku adalah megangin ayam saat disembelih, jadi asisten ayahku. Tugas selanjutnya 'bubutin' atau nyabutin bulunya, tentu setelah direndam air panas terlebih dulu, kali ini oleh ibuku. Yang spesial, kadang saat motong-motong daging nemu telur yang belum jadi. Yang ini aku dilarang makan, gak ilok katanya, pamali. Aku gak tau alasannya kenapa. Gak dijelasin kenapa gak boleh dan pamali, padahal pingin banget nyoba, kayaknya enak banget, tampak empuk tuh telurnya.

Kalau ayam-ayam sudah di masak, direndam dalam bumbu spesial dalam waktu yang lama, kemudian matang, bagian favoritku adalah sayap, sekali makan bisa habis 3 atau 4. Apalagi hasil olahan tangan ibuk, wah bumbunya bener-bener maknyus deh.

Terus ada kepercayaan baru di sekitaran rumah, aku juara kelas terus selama SD katanya karena suka makan kuning telur mentah ini hihi, masak iya ya gara-gara kuning telur ayam bisa serta merta jadi juara kelas. Tapi anehnya, kemudian tetangga-tetangga yang umur anaknya dibawahku pada dikasih kuning telur semua. Sayang gak semua bisa juara kelas. Hahaha. Ya jelaslah, menurutku sih bukan karena telur tapi karena rajin belajar. Efek kuning telur tetep ada, tapi kecil, sebagai nutrisi protein saja, mungkin.

Tradisi kuning telur berlanjut ke adik pertama dan kedua, yang keempat sudah tidak lagi. Isu flu burung menghentikan ternak ayam ortu.

Oh iya, dulu ayam di rumah juga sering dimalingin, tapi dibiarin saja karena jumlah ayamnya sangat banyak. Iseng banget ya maling-maling itu. Ayah ibu yakin kalau ayam tidak akan habis oleh aksi para pencuri, tapi justru akan semakin banyak telurnya. Eh tapi  justru hanya karena "isu" flu burung di berita TV malah dihabisin :)

Ada warga yang ngasih tahu siapa yang ngambil ayam, tapi dibiarin saja sama ayah ibu. Kasihan katanya. Karena yang terduga pencurinya itu tidak pernah menjual ayam-ayam, jadi disimpulkan kalau ayamnya dimakan sendiri. Kalau nyuri terus dijual mungkin beda lagi ceritanya. Padahal kata ayah ibu, kalau minta baik-baik pasti juga dikasih kok, sepasang lagi. Biar diternakin lagi.

Setiap ada momen apapun yang dimungkinkan kendurian, orang tua pasti berpartisipasi, biar bisa ngundang tetangga-tenagga juga. Pas pengajian malam jumat rutin, jika tiba giliran dirumah pasti rame banget yang datang. Karena menu andalan soto ayam dan ingkung ibuk.

Sekian nostalgia kuning telur ayam kampung ini. Kalau sekarang beda tujuan kalau makan kuning telur ayam kampung, jamu kuat. Tidak ada yang menyangsikan khasiat kuning telur ini sebagai jamu kuat hahaha #eaaa
 
Cita-citaku sih mau ngirim proposal ke sprite, ngajuin menu baru minuman yang menurutku sangat spesial tadi, sprite+kuning telur, sapa tau bisa dipatenkan hahaha
Bener juga sih kata temenku tadi kalau ayam adalah sahabat manusia yang rela berkorban hehe. Bagaimana pendapat sahabat?

Foloow me: @hanggaady
Gambar dari google.