-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Hayomi Kiranaura Kamizoya

Hayomi Kiranaura Kamizoya
Yah itulah nama lengkap bidadari kecil kami yang alhamdulillah dianugerahkan kepada kami dalam keadaan sehat sempurna pada tanggal 21 April 2011. Lahir pada jam 12.38 dengan berat badan 3,2 kg dan panjang 49 cm.

Arti nama yang kami sematkan ke si cantik adalah putri yang menyayomi dengan cahaya cemerlang dalam keteduhan cinta dan kepedulian. Insyallah menjadi doa yang baik bagi si cantik.

"Wah namanya Jepang banget!!" 
Hahaha itulah komen terbanyak yang kami terima dari sahabat dan saudara saat tahu nama si kecil. Jadi semua banyak yang beranggapan bahwa nama itu diambil dari bahasa Jepang, padahal tidak ada satu katapun yang diambil dari bahasa Jepang.

Hayomi berasal dari bahasa jawa, yang artinya mengayomi, simpelkan? hehe. Kata itu memang mirip dengan Ayomi atau Ayumi yang berasal dari bahasa Jepang yang artinya langkah yang luar biasa. Nama Hayomi ini pemberian dari Eyang Narto, seorang pensiunan dosen UGM, saat kami dan papa mama mertua berkunjung ke rumah beliau di komplek perumahan dosen UGM Sekip Jogja. Eyang Narto sendiri adalah mertua dari seorang politisi nasional, Pramono Anung. Sebenarnya Eyang Narto memberi 3 kata, namun hanya kami ambil satu kata saja. Makasih ya Eyang :)
Kiranaura, suku kata kedua tersebut merupakan gabungan dari dua kata: Kiran dan Naura, atau Kirana dan Aura. Kiran berasal dari bahasa Arab yang artinya sorotan cahaya, dan dari bahasa Yunani yang artinya mulia dan agung. Naura berasal dari bahasa Arab yang artinya bunga. Aura berasal dari bahasa Yunani yang artinya menyegarkan dan menyejukkan, ada juga dalam bahasa Latin yang artinya emas. Dalam Kiranaura ini juga terselip nama kami, papa dan mamanya, bunga (Sekar) dan cahaya (Cahya). Jadi Kiranaura hasil pemikiran dan perenungan kami berdua hehe.

Sementara Kamizoya berasal dari gabungan dua kata, 'Kami' dan Zoya. 'Kami' berasal dari bahasa Polinesia yang artinya cinta/mencintai, sementara Zoya berasal dari bahasa Arab yang artinya peduli dan menyenangkan. 'Kami' diberikan oleh papa mertua, dengan pertimbangan banyak nama leluhur wanita yang memakai nama 'Kami', sementara Zoya saya sendiri yang mengkreasikan dan merupakan kata terakhir sebelum diketuk palu menjadi nama si cantik.

Di rumah, sekarang si kecil dipanggil Hayomi, tapi ada beberapa teman dan saudara yang pingin memanggil Kiran, Kira, Naura, Aura ataupun Zoya. Kata si cantik Kiran terserah dipanggil apa saja dia mau, semuanya namanya kok hehe. Oh iya, Kiran juga sudah punya twitter loh: @kiranaurazoya :)
Hari pertama
 
Hari kedua, sudah gendong dan main sama papa :)
Hari ketiga, sudah bobok di rumah :)
Foto-foto lainnya bisa dinikmati di sini.

- Hangga Ady Cahyanto dan Sekar Datu rinenggo :)




Mandi hemat air, pake gayung aja!

Ini gayungkan?
Percaya nggak kalau air itu adalah sumber dari segala sesuatu, air adalah kehidupan, menghematnya berarti menyelamatkan masa depan? SAYA PERCAYA!

Hah! Hemat tapi kok nyuruh mandi pake gayung. Banyak yang beranggapan air akan banyak terbuang dengan percuma jika mandi menggunakan gayung. Kemudian pada menganjurkan menggunakan shower daripada gayung (Wah kasian dung orang-orang yang kampung dipaksa pake shower hehe). Eits tidak semua anggapan itu benar adanya. Manurutku semua itu tergantung sikap masing-masing orang dalam memandang air.

Perhatikan sebuah adegan berikut:
Seorang anak muda berumur sekitar 30an tahun sedang menggosok gigi. Ya dia sedang melakukan prosesi mandi di sebuah pemandian umum. Tempat pemandian sederhana yang terletak di samping sebuah sumur. Sebuah gambaran umum yang sangat Indonesia banget bukan. Tapi jangan salah, sumur ini keramat, dijaga oleh seorang bapak tua berpeci. Dia yang mempunyai tugas menimba air dari sumur. Sebut saja si juru kunci sumur hehe.

Kembali ke pemuda yang mandi tadi, dia masih asyik melakukan ritualnya, keramas, pake sabun menikmati menggosok badan dengan sabun, dari atas ke bawah. Wah menyenangkan sekali, apalagi ada musik pengiring yang diputer. Prosesi mandi yang syahdu bukan. Eh tapi jangan membayangkan pemuda tadi telanjang loh, dia masih pake celana pendek.

Bapak berpeci masih asyik menarik timba sumur. Sesampainya di atas, dia isikan air ke gayung. Yah bakalan boros dung mandi pake gayung. Tunggu dulu, dia hanya menuangkan air itu ke satu gayung di bibir sumur. Si Pemuda menatap Bapak berpeci dengan tajam, musik pengiring yang ceria terhenti, berganti dengan kemuraman karena dia hanya dijatah satu gayung saja. Apa kira-kira yang akan dilakukan pemuda tadi?

Eh tunggu dulu, dia gak protes, dia mengambil gayung air itu dan mulai membilas badannya, dimulai dari rambut, turun ke muka, badan dan kaki. Bapak penimba air sumur melongo, begitu juga antrian dari bapak-bapak dan ibu-ibu yang mau mandi dibelakangnya. Dia menikmati sekali.

Selesai, gayung ditaruh di bibir sumur. Badannya sudah bersih hanya dengan satu gayung air itu aja. Kemudian dia berjalan pulang, melewati antrian orang-orang  yang mau mandi, dengan senyum ceria.
* * *
Yah, itu adalah sebuah adegan video yang hanya berdurasi sekitar 1 menitan. Sebuah pesan yang ingin menunjukkan bahwa aktivitas mandi dan melestarikan air dapat berjalan beriringan. Video itu menjelaskan semuanya dengan singkat dan mengena.

Video itu pula yang akhirnya dinobatkan sebagai pemenang pertama/Grand Prize dalam kompetisi “MyView H2O” bertajuk Save Water yang diadakan oleh Asian Development Bank. Yang lebih membanggakan adalah video itu dibuat oleh anak negeri bernama Muhammad Zulqamar.
One scoop to clean you up. Save the water.

Penasaran dengan video itu. Cekidot:



Gambar dari sini.

Venice of the East

5 April 2011

Pasti pada penasaran dengan judul di atas. Ya saya sekitar awal Maret yang lalu mempunyai kesempatan untuk mengunjungi salah satu Venice dari Timur, Palembang. Bagi yang penasaran dan pengin mengunjungi silahkan lihat list Venice of the East ini. Berharap sih nantinya bisa berkunjung ke Venice yang asli di Negeri Pizza sana hehe. Dengan angkutan  baru milik maskapai nasional, Garuda-nya Brama Kumbara, perjalanan terasa menyenangkan :)


Palembang, salah satu kota terbesar di Sumatera yang juga mempunyai sungai raksasa, Musi. Mungkin karena sungai dan angkutan perahu di atsnya itulah yang menasbihkan Palembang sebagai Venice dari Indonesia. Bagi yang belum pernah kesana, wajib untuk menyusuri panjangnya Sungai Musi ini. Selain bisa menikmati wisata air, di hulu sungai juga ada wisata religi yaitu Pulau Kemaro yang sudah tersohor ke negeri-negeri tetangga. Bahasan tentang sejarah dan legenda Pulau Kemaro dengan pagoda dan kuil di atasnya nanti akan saya bahas khusus disatu postingan. Tunggu yah :)


Selain itu juga beberapa tempat yang sudah terkenal dengan wisata fotonya, seperti Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, Museum Sultan Badaruddin II, Stadion Jakabaring-nya Sriwijaya FC dan Masjid Agung. Letak Jembatan Ampera berdampingan dengan Benteng Kuto Besak yang merupakan satu-satunya benteng buatan anak negeri pada masa lalu dan dengan nama nasional pula. Saya sendiri selama tiga hari di sana selalu mengunjungi Jembatan Ampera untuk berfoto, jadinya ada 3 foto dengan pakaian berbeda di sana hehe. Suasana ramai juga ditemui dikawasan Ampera dan Kuto Besak ini saat malam hari. Banyak orang menghabiskan waktu di sana, terutama anak-anak muda, juga ada pasar malam yang menyediakan berbagai keperluan. Jembatan Ampera  tampak sekali keindahannya saat malam hari.


Stadion Jakabaring juga tampak masih mewah, tak kalah dengan Stadion Kanjuruhan Kepanjen, mungkin karena sama-sama masih baru kali yah. Sayang sekali tidak sempat menikmati pertandingan disana karena beberapa hari sebelumnya Sriwijaya FC sudah bertanding dalam ajang AFC Cup.

Untuk usuran perut, Palembang ini memiliki berbagai aneka pilihan wisata kuliner yang sangat enak. Mulai dari empek-empek hingga ke berbagai jenis pindang baik ikan ataupun pindang tulang. Untuk empek-empek pilih saja Candy, saya sudah mencobanya, rasanya mantap sekali. Ada juga Martabak Har yang juga sudah sangat terkenal di Pelambang, atau pindang pegagannya.
Gambar kiri atas adalah empek-empek Vico, nyoba disana karena ada menu es kacang yang lumayan enak. Yang kanan atas jelas dung empek-empek Candy, menu komplit banget deh, sempet pose juga di sana hehe. Waktu pulang keliatan sekali oleh-oleh khas Palembang, yaitu empek-empek, yang mau masuk ke bagasi. Oh ya satu lagi pesan yang sempat terdokumentasi dari Masjid Agung, mari berinfaq dan shodaqoh:

"Masukkanlah uang dalam tjelengan untuk keperluan ini mesdjid"