-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Cerita tentang Yasinan dan Tahlilan

30 Juni 2011
Doa kita untuk para leluhur adalah wajib adanya, salah satu caranya adalah dengan membaca Surat Yasin setiap malam jumat. Itu pula yang diajarkan ayah waktu aku kecil dulu. Pernah suatu sore aku bolos mengaji, kemudian Beliau menasehati, "Le, lek ngaji Quran sing sregep, ben iso moco Yasin kanggo doakno leluhurmu." Dan nasehat itu kubawa dan kuingat sampai saat ini. Malam ini alhamdulillah masih bisa Yasinan, di samping si kecil yg sedang terlelap :)

Ya sesederhana itu nasehatnya, konsep kecil untuk mengajariku yang masih tergolong anak-anak saat itu, sekitar dua dekade yang lalu. Aku saat itu belum bisa memahami dan mengingat bagaimana ayah menjelaskan manfaat yang kudapat jika membaca Yasin untuk leluhur dan mengapa memilih Surat Yasin yang dibaca, yang aku ingat dia menjelaskan salah satunya dengan menyanyikan lagu Tombo Ati, dimana salah satu cara mengobati hati adalah dengan membaca Alquran sekaligus memahami maknanya (moco Quran angen-angen sak maknane) dan berkumpullah dengan orang sholeh (wong kang sholeh kumpulono). Alasan kedua itulah yang akhirnya memperkenalkanku dengan tahlilan/pengajian setiap kamis malam jumat, bergiliran dan keliling dari satu rumah tetangga ke rumah tetangga yang lain.

Beliau juga membelikan buku saku tahlil berwarna hijau yang di dalamnya memuat Surat Yasin, buku yang kemudian selalu kubawa saat pengajian/tahlilan. Sayangnya aku kurang menjaganya sehingga tak tahu sekarang keberadaan buku saku itu dimana.

Yang paling kuingat adalah bagaimana ayah dengan tartil yang bagus mampu membaca Surat Yasin dengan sangat cepat, begitu juga dengan para peserta tahlilan lainnya, seperti sudah hafal diluar kepala. Membuatku selalu menyerah dan memilih membaca sendirian saja dengan suara pelan, tidak mengikuti arus. Kalau yang lain sudah selesai dan saya belum, biasanya akan saya diselesaikan di rumah hehe.

Ada juga momen khusus pada saat tahlilan di rumah tetangga yang meninggal dunia, yaitu dapat sego gurih (nasi uduk) dan ingkung dengan tadah daun pisang. Pasti yang ambil ingkung duluan saya hahahaha. Ingkang ingkung bagian kulo, ingkang balung jenengan beto (Yang daging bagian saya, yang tulang silahkan Anda bawa) :D
Ya Allah, terima kasih atas momen-momen indah yang sangat bermanfaat itu. Sangat sulit untuk menemukan perkumpulan pengajian rutin di Jakarta ini. Hamba hanya berdoa, semoga Engkau berikan kesehatan kepada kami, sehingga bisa selalu mendoakan orang tua, saudara dan juga leluhur-leluhur yang telah pergi mendahului kami. Karena hanya doa itulah yang insyallah bisa membantu mereka di alamMu sana.

Dumateng tiang sepah kulo, sederek kulo, para aulia, ulama, syuhada, sholihin, mukmin kulo ngaturaken Al-Fatihah..

Guruku oh guruku

30 Juni 2011.

Kebutuhan guru (PNS) sampai tahun 2014 akan dipangkas sebanyak 24.000 orang, dari sedianya 300.000 orang menjadi 252.000 orang, begitulah kata Menteri Pendidikan Nasional kemarin. Efeknya kemudian, Kementerian Pendidikan Nasional akan menerapkan sistem 1-2-24, 1 orang guru mengajar minimal 2 mata pelajaran dengan jumlah murid 24 orang.

Yang sangat saya sayangkan, kenapa justru tenaga pengajar ini yang dipangkas, kenapa bukan PNS-PNS sektor yang lain. Saya lebih setuju belanja pegawai habis untuk tenaga-tenaga pengajar ini daripada PNS-PNS sektor lain.

Saya menaruh perhatian dengan isu ini karena ayah saya seorang guru, mengepalai sebuah sekolah dasar Inpres di pesisir pantai selatan Kabupaten Malang. Saya tahu bagaimana perjuangan Beliau memperjuangkan sebuah titel guru yang bersertifikasi profesional, sebuah titel yang baru disandangnya diusia menjelang habis pengabdiannya sebagai seorang guru. Menurut ayah, bahkan masih banyak teman-teman seperjuangannya dengan usia di atas 50 tahun yang masih bersemangat mengikuti sertifikasi guru profesional, selain untuk meningkatkan profesionalitas sebagai seorang pengajar, tentu saja salah satu alasan utamanya adalah perbaikan penghasilan. Tahu sendiri bukan seberapa kecilnya penghasilan seorang pengajar, ditempatkan di daerah tertinggal pula.

Di daerah pelosok sana, mereka-mereka sudah jauh-jauh hari menerapkan sistem 1-2-24 itu, 1 guru mengajar minimal 2 KELAS, dengan jumlah siswa 24 orang. Bahkan masih banyak diantara mereka yang masih sukwan (honorer) dan sangat mengharapkan dapat diangkat menjadi C-PNS.

Kemudian, sekarang mereka harus berhadapan dengan wacana pensiun dini. Saya sangat setuju jumlah PNS dikurangi, tapi sekali lagi jangan dari sektor ini. Sebenarnya satu langkah yang perlu diambil adalah penempatan kembali atau reposisi PNS ke posisi yang benar-benar membutuhkan tenaga. Saya tahu kok gendutnya PNS itu dari sektor lain, kenapa mereka-mereka itu tidak dipindah saja menjadi tenaga pengajar dengan sedikit training agar menjadi tenaga pendidik yang terampil. Simpelnya, memindahkah PNS yang tidak ada kerjaan ke tempat baru yang masih membutuhkan tenaga. Sayangnya sistem tersebut tidak berlaku di dunia perPNSan.

Sayangnya lagi, minat tenaga pengajar yang berkualitas di pelosok daerah masih minim, belum lagi bila ditilik sarana dan prasarana proses pembelajaran, sangat tertinggal jauh dari perkotaan. Tidak ada kata layak untuk ruangan kelas, boro-boro membicarakan perpustakaan. Ayah saya yang seorang gurupun menyerah ketika membicarakan pendidikan yang pas dan baik untuk anak-anaknya, walhasil semenjak kelas 4 saya harus pergi ke tempat baru yang berjarak 30 km dari rumah untuk tinggal bersama nenek, guna mendapatkan sekolah dasar yang bagus.

Ehmm...
Beruntunglah Indonesia masih memiliki orang-orang yang konsen dengan pendidikan di daerah-daerah, sebut saja Anis Baswedan dengan Indonesia Mengajar dan Indonesia Menyalanya. Sarjana-sarjana terbaik dikirim ke pelosok negeri untuk menjadi seorang pengajar, sungguh sebuah cita-cita yang sangat mulia untuk berpartisipasi aktif mencerdaskan kehidupan bangsa.

Oh guru-guruku, teruslah berjuang mencerdaskan bangsa! Biarlah namamu tercatat abadi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa!

[Karma Cinta] Yang indah menarik yang indah

Jodoh
Pagi ini sekilas mengintip linimasa, ada bahasan menarik yang dilontarkan oleh , yaitu bahasan #karma. Apa hubungannya dengan judul dan  gambar di atas? Silahkan melanjutkan membaca :)

Berikut salah satu tweet darinya: 
Aku nyebut sebagai hukum sebab-akibat semesta yangg berlaku dalam berbagai agama/keyakinan.

Ya, secara pribadi saya sendiri percaya dengan karma ini. Dalam keyakinan saya setiap perbuatan, sekecil biji zarahpun pasti akan dimintai pertanggung jawaban, prinsip hukum sebab akibat.

Dalam postingan terdahulu, Belajar dari Yin Yang, juga sedikit saya utarakan tentang hukum keseimbangan. Dalam postingan itu saya membuat kesimpulan bahwa akan ada karma bagi si benar atau si salah, sekecil apapun pasti akan ada pembalasan, seimbang seperti Yin dan Yang. Yang baik akan mendapatkan balasan baik, begitu juga sebaliknya.

Bagaimana kemudian jika dikaitkan dengan cinta dan jodoh dua insan manusia, apakah hukum ini juga berlaku?

Manusia terdiri dari dua insan, laki-laki dan perempuan, memang demikian sebagaimana sabda Sang Pencipta yang menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan kemudian menjadikannya berbangsa–bangsa dan bersuku-suku supaya bisa saling mengenal. 

Apakah cukup dengan saling mengenal saja, tentunya semua ingin sampai dipersatukan, alhamdulillah saya sudah hehe. Lantas apa jawaban pertanyaan di atas tadi.

Kalau menurut saya, hukum ini juga berlaku pada percintaan dan jodoh. Seorang yang baik pasti akan mendapatkan seorang pasangan yang baik pula. Lantas apa kriterianya, saya tidak tahu, menurut keyakinan saya itu sudah menjadi ketetapan Sang Pencipta. Jika satu nilai ini sudah terpenuhi, berarti mereka sudah berjodoh, berarti sudah layak untuk dipersatukan. Yang indah menarik yang indah :) Mungkin untaian kata Rumi berikut menunjukkan kalau Beliau juga sependapat dengan saya hehehe. 

Yang indah menarik yang indah.
Bacalah nash ini, perempuan yang baik untuk lelaki yang baik.
Di dunia ini segalanya menarik.
Yang di dalam neraka akan menarik yang di dalam neraka.
Yang di dalam cahaya akan menarik yang di dalam cahaya.

- Rumi -


Eh, Beatles juga punya ungkapan menarik loh tentang karma cinta ini, tertuang dalam lirik salah satu lagunya, berjudul 'and in the end the love you take is equal to the love you make."


Bagaimana pendapat sahabat, apakah percaya juga? :)

Gambar dari Google.

Kompetensi EQ #EQforNation Bagian 4

Bahasan ini merupakan tulisan keempat hasil seminar EQforNation yang diselenggarakan oleh Deputi Seswapres Bidang Politik (Dewi Fortuna Anwar) tanggal 31 Mei 2011, dengan tema "Pentingnya Kecerdasan Emosi dalam Membangun Komunikasi yang Baik dan Efektif", dengan pembicara Anthony Dio Martin.

Ada empat kompetensi EQ, yaitu Self Awareness, Self Management, Social Awareness dan Relationship Management. Secara umum kita sudah tahu gambaran dan pengertian masing-masing keempat hal tersebut.

Yang perlu sedikit ditambahkan adalah didalamnya itu ada aspek komunikasi. Komunikasi ini bukan semata-mata empati, yang kadang-kadang mengharuskan kita mengalah, atau kadang-kadang pula membuat kita kalah, bukan. Tetapi sebuah komunikasi yang harus didasari oleh kerendahan hati sekaligus keberanian, agar hal tersebut tidak terjadi.

Ada lagi cara meningkatkan EQ atas aspek social/relationship, atau yang bukan berkaitan dengan diri sendiri, yaitu:

1. Peka terhadap UEN orang

Apakah UEN ini, UEN kepanjangan dari Unmet Emotional Needs. Jadi setiap orang pada dasarnya memiliki kebutuhan yang ingin diungkapkan kepada orang lain, kita harus peka dan memasang radar kepekaan terhadap hal tersebut.

Sebagai contoh, ada satu adegan dalam sebuah film "The Year of Living Dangerously", sebuah film buatan Australia yang menceritakan petualangan wartawan Australia di Jakarta untuk meliput situasi pada tahun 1965, sebelum sampai saat G30S/PKI. Syutingnya sendiri di Filipina karena tidak diijinkan oleh Pemerintah Indonesia. Film ini yang melambungkan nama Mel Gibson, bahkan pada tahun 1983 salah satu nominasi Academy Award berhasil direbut oleh film ini.

Kembali ke topik yah. Sang wartawan, Guy Hamilton, yang diperankan oleh Mel Gibson, pada saat pertama datang ke Jakarta tidak mengetahui kondisi dan situasi di Jakarta, sehingga oleh kontaknya diperkenalkan dengan Duta Besar Inggris. Adegan yang saya maksud di atas terjadi pada awal pertemuan mereka di kolam renang Hotel Hilton. Duta besar ini sangat ingin dihormati dan dijunjung. Pada saat memesan minuman, diapun dengan nada kasar protes karena ada es dalam minuman tersebut, sambil berkacak pinggang bahwa itu minuman ber-es tersebut minuman Amerika, dia lantang menyebutkan bahwa di Inggris tidak seperti itu walaupun nama minumannya sama.

Guy bisa memprediksi karakter orang tersebut. Sang Dubes kemudian menantang Guy untuk lomba renang, dia sesumbar apakah dia yang dari Australia bisa mengalahkannya. Pada saat lomba tersebut, sang dubes sudah melaju di depan, tapi itu tidak bertahan lama karena Guy bisa menyusulnya. Saat menjelang garis finis, Guy yang berada di depan melihat lawannya di belakang dan memperlambat laju renangnya padahal dia tinggal sebentar saja bisa menyelesaikan lomba itu dan menjadi pemenangnya. Tapi bukan itu yang dilakukannya, dia mengalah kepada sang Dubes, dengan selisih waktu finis sekitar 1 detik. Karena menang, sang Dubes kembali menyombongkan dirinya, tapi dia mengakui kalau Guy adalah lawan terberat yang pernah dilawannya karena mempunyai selisih waktu paling kecil.

Yah itulah poinnya. Guy tahu UEN dari Dubes ini, sehingga dia mengalah. Dari situ justru pertemanannya dengan Dubes semakin akrab, itulah kemudian yang memberikan keuntungan kepadanya, informasi-informasi yang tidak akan bisa didapatkannya dari orang lain berhasil didapatkannya dari sang Dubes.
Hal itu juga sesuai dengan sebuah inti quote dari Jenderal Sun Tzu, seperti sudah saya tulis di postingan saya sebelumnya di sini, tentang perbedaan cerdik dan pandai. Si Guy ini masuk kategori yang cerdik :)

2. Cari Cooling Button orang

Setiap orang memiliki sebuah tombol yang membuatnya tertarik jika kita sentuh. Apakah itu? Tombol ini diistilahkan dengan Jembatan Keledai FORMATS. Family, Occupation, Recreational, Main idea, Ambition, Things, Something Else.
Kalau dalam adegan film di atas, Guy Hamilton berhasil memencet tombol milik sang Dubes, yang hobi berenang dan berkompetisi serta selalu berambisi mengejar menjadi juara. 

Apa topik yang membuat Sahabat tertarik untuk membicarakannya? Bisa-bisa itu adalah cooling button milik Sahabat :)


Apakah sahabat bisa mempraktekkannya ke lingkungan sekitar kita? Mari sama-sama mencobanya :)

Sekian, semoga bermanfaat :)


Senam Sukses #EQforNation Bagian 3

Bahasan ini merupakan tulisan ketiga hasil seminar EQforNation yang diselenggarakan oleh Deputi Seswapres Bidang Politik (Dewi Fortuna Anwar) tanggal 31 Mei 2011, dengan tema "Pentingnya Kecerdasan Emosi dalam Membangun Komunikasi yang Baik dan Efektif", dengan pembicara Anthony Dio Martin.

Senam sukses, apakah itu? Adakah senam yang bisa menyukseskan kita?
Ternyata ada.
Senam sukses ini terdiri dari 5 gerakan. Gerakan senam sukses ini sebenarnya hanya sebagai penggambaran 5 langkah mencapai kesuksesan. Jika kelimanya bisa dipraktekkan dengan selaras dalam kehidupan, kesuksesan semakin besar ditangan kita. Apa 5 item kesuksesan itu:

Cita-cita
Yang pertama adalah cita-cita. Saya tidak perlu untuk mendefinisikannya karena saya yakin semua sudah mengetahuinya. Kita bahas saja senam sukses yang terkait dengan item ini. Gerakan senam sukses tersebut adalah menggapai bintang. Cita-cita dan menggapai bintang, sebuah padanan yang cocok bukan. Gerakan senamnya dengan mengangkat tangan kanan dan kiri bergantian seolah-olah sedang menggapai bintang.

Fokus
Kiat sukses yang kedua setelah kita mempunyai cita-cita adalah fokus terhadap cita-cita tersebut, jangan mudah terombang-ambing dengan yang lain. Gerakan senamnya adalah memanah, tangan kanan dan kiri seperti menarik busur yang ada anak panahnya, kemudian dilepas sambil berkata' "Yes". Silahkan diulang dengan fungsi tangan kanan dan kiri bergantian.

Usaha
Selanjutnya adalah usaha untuk mencapai cita-cita yang sudah kita fokuskan tadi. Ini yang penting, usaha atau action atas cita-cita. Gerakan senamnya adalah berenang, boleh menggunakan berbagai gaya.

Kecepatan
Yang keempat adalah kecepatan. Tentu setelah kita berusaha, kecepatan kita tingkatkan agar bisa melangkah lebih ke depan. Gerakan senamnya dengan berlari-lari.

Antusias/Syukur
Yang terakhir kita serahkan kepada Sang Pencipta dengan selalu bersyukur atas semuanya tentunya dengan antusias dan keyakinan. Gerakan senamnya dengan bertepuk tangan dan tersenyum yakin.


Selamat senam sahabat!! :)



(bersambung)

Gambar dari Google.

Tingkatkan suksesmu dengan L-Factor #EQforNation Bagian 2

Bahasan L-Factor ini merupakan tulisan kedua hasil seminar EQforNation yang diselenggarakan oleh Deputi Seswapres Bidang Politik (Dewi Fortuna Anwar) tanggal 31 Mei 2011, dengan tema "Pentingnya Kecerdasan Emosi dalam Membangun Komunikasi yang Baik dan Efektif", dengan pembicara Anthony Dio Martin. 

EQ for Nation adalah suatu program seminar gratis yang dicanangkan oleh Anthony Dio Martin kepada para guru, pelayan masyarakat dan mereka-mereka yang tidak banyak berkesempatan mendapatkan pembelajaran, guna meningkatkan kecerdasan emosional.

Saya akan mencoba merangkum bahasan sesuai judul tersebut dengan sedikit perubahan, semoga bisa diambil manfaatnya.

Apa itu L-Factor? Istilah itu adalah itu kependekan dari Likeability Factor. Gambaran sederhananya, orang dengan L-Factor tinggi adalah orang yang selalu menunjukkan kepada orang di sekitarnya, Apa yang bisa saya bantu? Apa yang bisa saya lakukan untuk membuat hidup Anda lebih baik?”. Sebuah faktor yang membuat orang merasa nyaman dan merasa senang berhubungan dengan kita.
 
Bagaimana cara menaikkan L-Factor ini? Cukup tingkatkan keramahan, koneksi, kepekaan, dan ketulusan dalam menghadapi siapa pun yang ada di sekeliling kita :)

Keramahan
Keramahan ini mencakup kemudahan kita untuk tersenyum dan juga berbicara tentang seberapa besarnya minat kita kepada orang lain. Orang yang ramah menyetel radarnya keluar, bukan ke dalam.
Sebuah contoh sederhana bisa digambarkan dari nasehat lama berikut: "Jangan pernah membuka toko jika tidak pernah tersenyum". Yah pelanggan adalah raja. Toko hanya sebagai sebuah ibarat, untuk era sekarang mungkin bisa diperluas lingkupnya.


Koneksi
Orang dengan L-Factor yang tinggi bisa bicara dan nyambung dengan apa yang orang lain katakan. Sebagai contoh, geisha di Jepang, harus belajar mati-matian dan melewati berbagai tradisi khusus untuk memahami soal koneksi ini agar nyambung dengan tamunya, dari mulai berbicara, table manner, penyajian teh, menyanyi, update semua informasi, dll. Dalam tradisi Jepang, geisha tidak semata-mata berkonotasi negatif, walaupun memang ditasbihkan sebagai strata penghibur. Masak kita kalah dengan geisha ;)


Kepekaan
Yah empati!. Di sinilah kita belajar bagaimana caranya untuk bisa memposisikan diri dalam situasi orang lain, sebagai balasannya otomatis kitapun pun akan disukai.


Ketulusan
Bagaimana kita melakukan sesuatu bukan karena ada apanya, tetapi apa adanya.

Untuk memperdalamnya, Pak Martin menyarankan untuk membaca buku karya Dale Carnegie, How to Win Friends and Influence People. Ada dua intisari dari buku ini yang sangat bagus, yaitu:

-Satu kata yang paling indah di telinga adalah nama! Sebut namanya tiga kali hehehe.
-Jauh lebih gampang membuat orang suka dengan Anda dengan 2 bulan kita menyukainya, daripada memaksa dia selama 2 tahun untuk menyukai Anda.

(bersambung)

Quote for 1.06.2011 #EQforNation


Ketahuilah ada perbedaan besar antara cerdik dan pandai.

Jenderal yang cerdik paham bahwa untuk memenangkan sebuah peperangan,
dia tidak perlu memenangkan semua pertempuran.

Ada pertempuran yang layak dimenangkan,
ada yang kurang bijak dimenangkan,
karena resiko potensi merugi yang lebih besar.

Sun Tzu (Dinasti Wu - 544 SM)



Auditorium Istana Wakil Presiden, 31 Mei 2011. Seminar "Pentingnya Kecerdasan Emosi dalam Membangun Komunikasi yang Baik dan Efektif", diadakan oleh Deputi Seswapres Bidang Politik (Dewi Fortuna Anwar), dengan pembicara Anthony Dio Martin.


(bersambung)