-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Cerita tentang si bule backpacker dan si fakir miskin

 Jakarta, 25 Oktober 2011.

Yang akan saya ceritakan ini terjadi kemarin, 24 Oktober 2011, saat saya pulang kerja, sore hari tepatnya. Ada dua kejadian, yang pertama menyenangkan dan yang kedua kebalikannya. Kita mulai yah, dimulai dari yang mana dulu ya? Yang pertama dulu aja, sesuai urutan waktu kejadian.

Setelah aku absen pulang kantor, kira-kira jam 4 sore, seperti biasa aku menyusuri Jalan Veteran III ke arah Medan Merdeka Utara. Seperti biasa tujuanku ke Halte Mahkamah Agung, menunggu bis jemputan Kementerian Luar Negeri.
Sewaktu keluar dari kantor, didepanku ada turis yang juga berjalan ke arah yang sama. Bisa ditebak dia pasti mau ke Monumen Nasional. Jujur, untuk ukuran turis asing dia termasuk yang compang camping, rambutnya panjang, dan celananya sudah kusem banget. Bisa kuperhatikan dengan jelas karena dia berjalan hanya berjarak sekitar dua meter di depanku.
Sesampainya di Merdeka Utara dia belok kiri, sementara aku langsung menyeberang. Eh kemudian dia balik lagi, ke tempat aku nyeberang tadi, dia tampak bingung, kemudian dia jalan ke depan Mahkamah Agung dan nyeberang bukan di jalan yang bertanda penyeberangan. Jangan ditiru yah!

Mukanya masih tampak kebingungan. Perkiraanku dia mencari jalan masuk ke Monas. Pas dia jalan di depan Halte MA, kutanyain dia dan kutawari bantuan. Dia diam saja sambil senyum, terus ku kasih sedikit penjelasan kalau yang dibelakang ini namanya Monumen Nasional, kalau mau masuk bisa lewat pintu kiri di Jalan Thamrin atau kanan di samping gambir. Dia menjawab samar, aku dengarnya sih "Uka". Setelah kuminta ulang sambil mendekatkan diri ternyata dia berkata, "Buka?" Hahaha, maklumlah, orang dari tadi aku nanya dan jelasin pake bahasa inggris dianya malah jawab dan nanya pake Bahasa Indonesia. Dia mengucapkan terima kasih dan beranjak masuk lewat pintu deket Gambir, menolak rekomendasiku lewat Thamrin karena bisa sekalian lihat Istana Merdeka. Pikirnya gak penting kali yah :)

Itulah kejadian pertama. Dia dengan tampang seadanya, berjalan kaki, hanya bawa ransel tapi bisa menikmati backpacker-an di Indonesia ini. Dia juga tidak seperti wisatawan asing lain yang sering kutemui di sekitaran Merdeka Utara yang selalu menenteng buku Tony Wheeler dan kamera di tangannya, serta tampang yang necis.
Buatku, memang selalu menyenangkan melihat backpacker-backpacker itu. Selamat Menikmati Indonesia deh!!

Nah, yang kedua ini justru agak kurang mengenakkan. Di belakang halte itu, semenjak tadi ternyata ada orang yang tampangnya juga compang camping, pakai kaos dan celana hitam, rambut gondrong digelung seperti Patih Gadjah Mada. Bedanya dia orang Indonesia. Dia duduk di taman Monas itu dan ada beberapa kantong plastik hitam disekitarnya.

Tak disangka-sangka dia keluarkan barang-barang di plastik itu. Ternyata isinya kardus-kardus sterofoam bekas makanan. Dia kemudian memakan sisa-sisa makanan dalam kardus itu. Setiap orang yang lewat selalu diteriakin dan ditawarinya makanan itu. Termasuk diriku dan seorang tentara yang ada di halte.
Itulah hasil pengamatanku dari balik jeruji pagar Monas, sesaat sebelum bis jemputan lewat. Dari atas bis masih kulihat dia dengan lahap memakan makanan sisa itu. Miris melihatnya. Dan aku gak sempet berbuat apa-apa.

Lokasi itu hanya berjarak sekitar 200 METER saja dari Istana Merdeka.

Tentu semua juga masih ingatkan bunyi pasal 34 UUD 1945. Bagiku dia sangat layak untuk dipelihara Negara.
Aku hanya bisa berharap saja, semoga ada penanganan khusus untuk para fakir miskin ini. Saya yakin di Indonesia orang-orang seperti dia ini jumlahnya sangat banyak.

Siang ini ku googling tentang penanganan fakir miskin, dan menemukan Undang-Undang Nomor 13 tentang Penanganan Fakir Miskin. Peraturan Perundangan yang baru disahkan pada tanggal 18 Agustus 2011. 

Dalam Pasal 1, yang dimaksud fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau keluarganya.
Dalam Pasal 7, disebutkan bahwa bentuk penanganan fakir miskin adalah sebagai berikut:

Sekali lagi ku hanya bisa berharap, semoga kedelapan butir tersebut bisa dilakukan oleh institusi yang bernama 'Negara.' Kita tunggu saja petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan serta kebijakan kedepan.


Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian

Tanggal 7 April 2011, DPR RI mengesahkan UU Imigrasi, yang kemudian diteken oleh Presiden RI pada tanggal 5 Mei 2011.
Undang-undang ini menyempurnakan ketentuan yang belum diatur dalam UU Imigrasi lama, yaitu reformasi birokrasi keimigrasian, penataan sumber daya manusia, dan izin tinggal WNI kawin campur kewarganegaraan.


UU Imigrasi baru ini memberi perlindungan bagi WNI yang kawin dengan WNA dan juga perlindungan bagi keluarganya. Bagi orang asing yang menjadi subjek kawin campuran, jika ingin tinggal di Indonesia, langsung dapat difasilitasi dengan Izin Tinggal Terbatas (Fitas) dan Izin Tinggal Terbatas (Kitas) yang berlaku dua tahun. Jika perkawinan lanjut, setelah itu dapat kartu Izin Tinggal Tetap (Kitap).
Setelah usia perkawinan 2 tahun, WNA dapat menandatangani pernyataan integrasi guna mendapatkan Izin Tinggal Tetap. Anak perkawinan campur, lahir di Indonesia, tidak memilih WNI, diberi Izin Tinggal Tetap. Dia wajib melapor setiap lima tahun tanpa bayar. Anak-anak kawin campur pemegang Kitas dan Kitap dapat mencari nafkah di sini. Izin Tinggal Tetap dapat dibatalkan karena adanya putus hubungan perkawinan, cerai atau adanya putusan pengadilan.

Bagi ekspat jangan coba-coba kawin semu yah, yakni perkawinan dengan maksud hanya untuk mendapat Izin Tinggal Tetap. Sanksinya, paling lama penjara 5 tahun dan denda Rp.500 juta.

Untuk lebih mendalami detil-detil lengkapnya, silahkan download Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keiimigrasian tersebut di sini.

Atau bisa juga download di sini




Jasa pengurusan Kitas dan lain sebagainya bisa menghubungi Bumi Sajadah Agung, kontak klik di sini atau kirim email ke heriyanto.notoseputro@yahoo.com.






Ternyata pahlawan kecil itu benar-benar ada

Aku suka sekali liat monumen 2 patung di Kebonpala ini. Senapan laras panjang di tangan si pemuda dan ketapel melingkar di leher si anak kecil.

Selain keduanya berdiri tegak, tangan pemuda sedekap di dada, dipunggungnya tergantung ransel, memakai ikat pinggang yang dilengkapi peralatan perang seperti pistol, granat, golok, dompet dan tempat minum. Sementara si anak kecil hanya bercelana pendek, tidak memakai baju dan bertelanjang kaki.

Bagi yang belum pernah melihat dimana monumen ini, letaknya di ujung Jalan Matraman pada pertigaan atau pertemuan Jalan Jatinegara Barat dan Urip Sumoharjo dekat Gereja Eukomunia, di sebelah shelter TransJakarta Kebonpalalah. Selidik punya selidik, nama monumen tersebut adalah Perjuangan Jatinegara.

Mengapa aku suka melihat patung ini?

Tidak lain dan tidak bukan karena patung si anak kecil itu. Tau sendiri kan kalau sebuah monumen itu dibangun untuk mengenang peristiwa-peristiwa perjuangan rakyat. Itulah jawabannya. Di era perjuangan dulu, kita memiliki banyak pahlawan dari kalangan petani, tentara, dokter, bidan dan lain-lain, namun baru kali ini menemukan pahlawan kecil. Pahlawan yang hanya bersenjatakan ketapel saja. Monumen ini sendiri yang menjawabnya. Saya belum melakukan penelitian lebih dalam dengan minta keterangan dari Dinas Pariwisata setempat. Tapi saya banyak mendengar cerita bahwa jaman perjuangan dulu anak-anak sudah sering dilibatkan dalam perjuangan, tentu saja bukan terjun langsung dalam peperangan, lagian apa yang bisa dilakukan hanya dengan sebuah ketapel? Tugas mereka adalah tugas-tugas sederhana yang juga sangat fital untuk kepentingan perjuangan, dijadikan spionase contohnya, mengintai jumlah dan lokasi musuh. Kerenkankan mereka kecil-kecil sudah ikut berperan dalam perjuangan.Sedikit mengingatkan masa kecilku yang memegang ketapel namun berlagak menjadi pejuang, sayang sasarannya adalah burung-burung tidak berdosa di sawah, buah terong atau pepaya di ladang atau bahkan buah mangga milik tetangga :D

Bagi yang belum liat, kalau lewat menengoklah sedikit, keren banget dah 2 patung monumen ini :)

Ket: sepertinya baru kali ini yah aku nulis tentang keindahan Jakarta hahaha.

Gambar dari sini