-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Quote for 27.12.2011

“Pendidikan bukan saja mencerdaskan. Pendidikan adalah eskalator.
Dia mengangkat derajat sosial ekonomi. 
Dia membukakan pintu-pintu untuk meraih kemajuan. 
Pendidikan adalah kunci dibalik keberhasilan”

-Anies Baswedan-

Bermain bola (plastik)

Jakarta, 24 Desember 2011.

Bola plastik. Siapa yang tidak tahu bola plastik? Dan siapa yang tidak pernah main bola plastik?
Kalau saya yang menjawab, saya akan bilang saya tahu dan bola plastik adalah sahabat masa kecil yang selalu menemani di sore menjelang petang, setiap hari, baik di lapangan rumput, lapangan semen, sawah, kebun atau pantai berpasir. Hanya di jalanan beraspal saja yang tidak pernah karena didesaku belum ada jalanan beraspal, waktu itu.

Bagaimana kalau di Jakarta? Setiap sore pulang kerja, saya selalu lihat anak-anak bermain bola di komplek perumahan (Permata Timur). Biasanya saya melihat mereka bermain di lapangan hanya sekilas, saat jalan melewati lapangan. Dua hari yang lalu, saya sempetkan berhenti sejenak untuk menikmati permainan bola plastik anak-anak ini. Ini foto yang saya ambil di tempat kejadian.

Berbekal sebuah bola plastik, anak-anak kecil ini bermain. Tampaknya mereka sudah di lapangan ini saat hujan lebat tadi. Semuanya basah-basahan, diiringi canda tawa, penuh keceriaan pokoknya, sesekali mereka berteriak di lapangan 'kecil' itu.
Selalu ada banyak ungkapan yang bisa digunakan untuk menjelaskan kebahagiaan saat mereka bermain.

(Ini anakku dari tadi godain aku nulis, ketawa-ketawa, senyum-senyum sambil gulang-guling, asyik bermain. Kucium malah senyum-senyum) *pariwara*

Tidak ada sepatu di atas lapangan beton itu. Inilah ciri khas permainan bola plastik, nyeker dan spontan. Tidak ada kostum di lapangan itu. Hijau, biru, merah, coklat berlebur jadi satu. Bahkan kostum warna coklat a.k.a kulit ikut menghiasi, mereka bertelanjang dada. Tidak ada gawang, hanya ada dua batu dengan jarak yang sama dengan dua batu di sisi lawan.
Tidak ada wasit ataupun hakim garis. Ini permainan bebas, aturan ditangan mereka sendiri. Tidak ada babak pertama atau kedua, tak ada peluit, semua konsensus diantara mereka sendiri.Tak ada pergantian pemain, tak ada pemain cadangan, semua bermain, 5 lawan 6. Teriakan yang paling sering terdengar adalah, "Goolll!" "Handball" "Out".

Dan yang paling penting adalah tidak ada KOMENTATOR seperti saat siaran bola tv-tv kita, yang menurut saya sok tau, dan menipu penonton karena biasanya iklan siaran bola langsung jam sekian, ternyata di jam segitu pertandingan belum mulai, masih sesi 'bung' komentator sampai setengah jam ke depan.

Tapi jangan salah ya, di sini banyak penonton, para tukang ojek yang nongrong di pangkalan pinggir lapangan, orang tua yang jalan-jalan dengan anak kecilnya atau sedang menyuapi, ibu hamil, orang jogging, dll. Saya salah satunya di sore itu.


Satu-satunya peluit tanda berakhirnya pertandingan (atau lebih tepatnya permainan) adalah panggilan dari salah satu ibu mereka,"Sudah petang, mandi!". Ibu siapa yang datang duluan, dialah yang mempunyai hak veto membubarkan permainan hehe.

Begitulah pengamatanku di lapangan komplek sore itu. Muka anak-anak itu tampak bahagia, senang masuk di dalamnya bukan. Kecerian mereka membuat gelora masa kecilku muncul sekaligus kerinduan menikmati permainan seperti itu.

Tips bermain bola plastik:
Pilihlah bola plastik yang bagus. Biasanya berlobang kecil untuk menjaga bola agar tidak pecah.
Jika tidak pernah main bola di aspal atau lapangan semen, jangan dipaksakan bermain jika tidak memakai sepatu karena kalau dipaksakan kaki bisa melepuh (menggembung dan berisi cairan).

Cari lawan yang sepadan yah, jangan melawan anak-anak. Boleh sih ikutan tapi harus ijin dari mereka dulu. Biasanya satu orang  dewasa akan dikonversi sama dengan dua orang anak.
Tendangan dengan ujung kaki (depan) lebih keras dan membuat arah bola plastik lurus, tidak berbelok.
Kalau dapat tendangan bebas, tendang dengan sisi luar kaki untuk melewati sisi kiri barisan tembok penghadang, di jamin bola akan berbelok seperti tendangan Roberto Carlos.
Untuk memperkuat penguasaan bola dari rebutan lawan, sering-seringlah bermain kucing-kucingan bola.
Jika bermain di jalanan (biasanya warga kota besar), waspada dengan para pengendara kendaraan bermotor, terutama motor.

Ada lagi yang mau menambahkan?

Dan tulisan ini membuat saya tersadar, saya sudah tua hahaha. Bener juga kata George Bernard Shaw:

We don’t stop playing because we grow old, we grow old because we stop playing.

Gambar koleksi pribadi

Organisasi Kemasyarakatan

 15 Desember 2011

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti seminar bertemakan organisasi kemasyarakatan (ormas).  Berikut akan saya sampaikan kisi-kisi yang saya dapat dari seminar tersebut plus sedikit perpsektif pribadi saya :)

Ormas dalam lintasan sejarah 
Secara historis ormas sudah menunjukkan peran yang sangat signifikan dalam proses berdirinya NKRI. Boedi Oetomo misalnya, dapat dikatakan sebagai cikal bakal organisasi kemasyarakatan nasional yang berjuang untuk kemerdekaan. Ormas-ormas kala itu mempunyai tujuan memperkuat persatuan dan kesatuan dan menumbuhkan benih-benih nasionalisme, yang akhirnya digunakan sebagai sarana perjuangan kemerdekaan dan tonggak kebangkitan nasional.

Potensi Ormas 
Yang pertama, dalam konteks individu, komunikasi dan interaksi yang terjadi di internal ormas yang memiliki latar belakang yang beragam  adalah komunikasi dan interaksi antar individu lintas budaya, glongan, suku dan agama.
Yang kedua, dalam konteks organisasi, ormas merupakan alat komunikasi dan interaksi yang konstruktif antar kelompok masyarakat, sehingga ormas dapat menjadi garda terdepat dalam mencegah konflik antar kelompok masyarakat.

Permasalahan 
Saat ini ada banyak permasalahan terkait dengan adanya ormas, diantaranya adalah pertumbuhan ormas yang jumlahnya sangat besar; ormas suka mengatur tapi tidak suka untuk diatur; sudah banyak regulasi yang mengatur ormas (UU Ormas, UU Yayasan, UU Organisasi Sosial, UU kepemudaan, dll); sering terjadi konflik dualisme kepengurusan; tidak mandiri dari segi pembiayaan sehingga mudah dimanfaatkan; rendahnya akuntabilitas pengelolaan ormas termasuk dana-dana publik yang dikelolanya; SDM yang kurang profesional; kesalahan para pemikir/pemerhati/akademisi tentang ormas yang cenderung selalu mengadopsi referensi dari luar negeri sebagai acuan dalam mengelola ormas; sebagian cenderung bergeser dari fungsi aslinya sebagai volunteer/sukarela ke arah kekuasaan/politik ekonomi; dan kurangnya pemahaman wawasan kebangsaan sebagian pengurus ormas.

Penataan Ormas 
Indonesia sebenarnya sudah memiliki Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 yang mengatur tentang ormas, namun UU tersebut lahir pada masa ketika iklim politik belum berubah seperti saat ini, sehingga saat ini perlu dilakukan lagi penataan ormas.
Melihat keberadaan UU tersebut, saat ini ada dua pandangan, yang pertama adalah aliran yang menghendaki pencabutan dan yang kedua adalah aliran yang menghendaki perevisian.

Aliran yang menghendaki pencabutan mempunyai alasan:
1. Ormas adalah kreasi rezim Orba untuk mengontrol dinamika masyarakat, justru untuk pembedaan SARA dan mendapatkan dana secara rutin dari Pemerintah.
2. Pengaturan mengenai ormas dikembalikan saja kepada kerangka hukum yang sudah ada.
3. RUU Perkumpulan lebih relevan dalam mengatur soal ormas.
4. Rentetan kekerasan yg dilakukan ormas. KUHP sudah mengatur bagi pelaku yang turut serta memerintahkan tindak kejahatan, permusuhan, dan kebencian terhadap golongan tertentu secara terbuka di muka umum.

Aliran yang menghendaki perubahan/revisi:
Pemerintah
1. Tidak tegas mengatur pemberian sanksi
2. Proses pembubaran panjang dan berbelit (teguran, pertimbangan dari Mahkamah Agung)

Masyarakat
1. Adanya peluang intervensi dan represi internal partai
2. Ancaman bagi kebebasan beroragisasi
3. Pembubarab tidak mensyaratkan proses pengadilan
4. Tidak membedakan ormas dengan LSM 

RUU Ormas 
Pemerintah sendiri lebih kealiran yang pro perubahan UU. RUU sudah dibahas bersama DPR, Pemerintah (diwakili 5 Kementerian) sudah menyampaikan pandangannya. Pengaturan ormas tujuannya hanya satu, sebagaimana tertuang dalam Pasal 28 J (2) UUD 1945.

Konteks RUU Ormas adalah mendudukkan ormas dalam ranah demokrasi  dengan menonjolkan pemberdayaan organisasi. Latar belakang yang dijadikan alasan penyempurnaan adalah:
1.UU 8 sudah tidak lagi sejalan dengan dinamika dan tuntutan pertumbuhan ormas yang kredibel (mandiri, modern, profesional)
2.Pengaruh perkembangan sosio-politik, yang memerlukan penyikapan secara proporsional untuk mewujudkan lingkungan yang sehat
3.Urgensi rasional tentang perlunya penggantian UU 8
4.Dalam kerangka reorganisasi, yang harus diimbangi dengan upaya perlindungan terhadap kepentingan publik.

Penyempurnaan tersebut tidak terlepas dari prinsip-prinsip:
1. Memperkuat jaminan hak dan berserikat serta berkumpul bagi warga negara
2. Mewujudkan keseimbangan relasi negara/masyarakat sesuai prinsip demokrasi
3. Mewujudkan ormas yang transparan dan akuntabel
4. Peran dan kedudukan pemerintah sebagai fasilitator.

Keberadaan ormas merupakan aktualisasi nyata pelaksanaan kebebasan berkumpul dan berserikat sebagai hak yang dijamin oleh konstitusi negara dan harus dikelola secara seimbang dengan kewajiban dalam berserikat dan berkumpul.

PERSEPKTIF PRIBADI

Biarlah ormas bebas berekspresi tanpa mengkotak-kotakkan, karena pada dasarnya ormas adalah bagian dari masyarakat, bukan representasi masyarakat, terlihat dari tidak adanya mekanisme pemilihan.

Untuk menjaga ketertiban sosial, seluruh ormas harus menyepakati nilai-nilai yang dianut dan dipercayai bersama untuk menjadi dasar ormas, yang menurut sebagian besar orang sudah ada dalam 5 Sila Pancasila.

Dalam kepentingan tertentu, Pemerintah boleh memberdayakan ormas, sebagaimana selama ini sudah dilakukan dan diatur khusus peraturannya, seperti dalam wadah PKK, KONI, Pramuka, dan lain-lain.

Apabila ada ormas yang tidak tertib, Pemerintah wajib menindak tegas, setiap pelanggaran harus diproses, apakah itu pelanggaran administrasi, perdata ataupun pidana. Untuk mempermudah, Pemerintah nantinya harus membuat bank data ormas nasional. 

Pemerintah juga jangan sampai inkonsisten, anomali, sehingga memunculkan ormas yang mengambil peran pemerintah sendiri. Jika diperlukan, pembubaran ormas harus diatur pembubarannya, termasuk pengajuan gugatan oleh masyarakat sendiri di pengadilan/MK.


Gambar dari google image

Tradisi Cibulan

 15 Desember 2011
 
I'm at Wisma Sekretariat Negara RI Cibulan (Jl. Raya Puncak, Cisarua). Itulah posisiku hari Selasa tanggal 13 kemarin via foursquare. Untuk yang kesekian kali nginap di Wisma Cibulan, bedanya satu hari itu acaranya hanya keakraban saja, tidak ada even yang harus dikerjakan, tidak ada seminar, tidak ada temu karya, hanya senang-senang saja :)

Kalo kesini seakan-akan sudah punya tradisi, yang selalu terulang tiap berkunjung (sebelumnya kutweet dengan hastag #TradisiCibulan). Pemilihan kata tradisi bukan untuk menjelaskan kebudayaan atau kebiasaan masyarakat Cibulan, ini hanya untuk menjelaskan kegiatan yang menurutku selalu saja berulang saat berkunjung dan menginap di wisma ini. Kira-kira inilah tradisi Wisma Cibulan:

Yang pertama, ketika datang selalu disambut dengan kopi, teh dan yang paling spesial adalah bajigur. Yang kedua, selalu ditemani camilan hangat seperti jagung rebus, kacang rebus, dan pisang rebus/goreng. Bayangin deh, suasana dengan udara dingin, pemandangan hijau, berkabut ditemani oleh minuman spesial bajigur hangat dan camilan sehat kayak gitu. Semua penat langsung hilang seketika.

Yang ketiga, selalu menyempatkan untuk renang dan tentunya foto-foto. Kolam disini tidak terlalu besar, tapi nyaman. Pemandangan hijau pegunungan tampak sangat jelas dari sini. Kolam dilengkapi fasilitas kamar mandi, meja, kursi, biasanya digunakan untuk nongkrong, atau sambil minum bajigur seabis berenang.

Yang keempat, sholat jamaah di masjid lokal, yang letaknya tidak terlalu jauh dari wisma, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Yang khas dari masjid ini adalah adanya imam besar yang datang setelah adzan, dan begitu beliaunya datang langsung masuk masjid menuju tempat imam, disaat bersamaan qomatpun berkumandang. Ada lagi kekhasan di masjid ini, yaitu bacaan qunut di rakaat terakhir sholat (sering ikut jamaah waktu sholat maghrib).

Yang kelima, menu makanan yang selalu dan pasti ada adalah ikan mas goreng dan lalapan+sambel. Ikan gorengnya maknyus banget, kering, renyah dan berasa, lazislah. Kalau menu pendampingnya ganti-ganti, kadang sop buntut, iga dll. Yang keenam, menu penutup makan selalu saja pisang, biasanya pisang ambon yang manis banget.

Yang ketujuh adalah ada kamar di wisma yang jarang digunakan atau malah pada tidak berani menggunakannya, kamar itu bertuliskan 'Kamar Menteri' hahaha. Alasannya ada yang takut kualat, pamali, sampe alasan klenik 'para mantan menteri'.
 
Tradisi yang terakhir adalah mampir beli oleh-oleh yang jaraknya juga tidak terlalu jauh dari wisma, Cimory atau singkatan dari Cisarua Mountain Dairy.

Bonus lainnya juga selalu menyertai, dingin, sejuk, segar, embun. Dan hari Selasa itu disempurnakan dengan kunjungan ke Taman Safari.
Berhasil 'ngincup' capung, dan digigit :)

9 Summers 10 Autumns: Berlayar, Terus Berlayar

9 November 2011

"Orang yang kita temui secara random, bisa mengubah hidup kita", @Iwan9S10A.

Hari Kamis itu, 1 Desember 2011, sebuah kertas kecil terlihat manis di atas mejaku yang kosong, yang dua hari sebelumnya sudah kutata rapi dan kukosongkan dari berkas-berkas kerjaan karena keesokan harinya harus kutinggalkan untuk mengikuti Uji Kompetensi Pegawai Kemsetneg di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Gaharu. Kertas kecil itu adalah undangan bedah buku 9 Summers 10 Autumns bersama penulisnya, Iwan Setyawan, pada Hari Selasa, tanggal 6 Desember. Kalimat terakhir undangan itu cukup menggiurkan, gratis buku tersebut untuk 100 orang pendaftar pertama di Perpustakaan Setneg.
Undangan itu ternyata sudah ada di meja saat aku mengikuti Uji Kompetensi di Hari Rabu. Kamis itu, aku bersama teman-teman langsung ke Perpustakaan Setneg untuk mendaftar. Sayang seratus sayang, seratus novel itu sudah habis, kami terlambat mendaftar. Mungkin karena letak kantor kami yang di sayap timur membuat kami kalah langkah dari warga sayap barat hehe.

Pucuk dicinta, 20 ulampun tiba. Ada telp dari perpustakaan yang mengatakan ada tambahan 20 novel baru. Dengan langkah dua puluh, aku bergegas untuk memburu novel ini. Nomor 105 terlihat indah. Yah voucher novel bernomor itu sudah ada ditangan.

Aku sebenarnya sudah berniat membeli novel ini ketika kunjungan terakhir ke Gramedia, tentu saja setelah melihat ulasan dan beberapa kisah tentang buku ini di televisi. Entah kenapa aku hanya menyentuh saja sambil bilang dalam hati, “Jumat depan saja belinya”. Aku hanya membeli novel yang lebih dulu aku ketahui, seperti Madrenya @deelestari dan Sebelas Patriotnya @andreahirata. Sebuah kebetulan, sehari sebelum kembali ke Gramedia malah dapat 9 Summers 10 Autumns dari perpustakaan.

* * *
Selasa, 6 Desember. @ Ruang Serbaguna, Sekretariat Negara RI Gedung 3 http://4sq.com/vXBTD1.
Lelaki dari Kota Batu itu terlihat berbincang dan melayani beberapa orang yang meminta tanda tangan di samping. Kuhampiri dia, aku menyapanya sekaligus mengulangi pernyataanku di twitter saat berkenalan dengannya, “Aku Hangga Mas, yang dari Malang”. Hahaha sengaja memberikan penekanan hanya untuk memberitahu kota asal kami. Bagiku, berjumpa dengan orang sekampung di wilayah yang jauh dari kampung itu bisa menumbuhkan memori yang sangat dalam, dan bagiku selalu membuat kerinduan untuk pulang. Dia begitu bersahaja.

Saat itu aku membawa 4 novelnya untuk minta tanda tangan, namun sama panitia keburu dihentikan sebelum niat itu terlaksana. Acara segera dimulai, kilahnya.

Acara bedah buku ini diadakan oleh Perpustakaan Setneg. Jujur aku senang, namun sudah tidak heran lagi kenapa kantor membedah novel yang tidak ada kaitannya dengan ketatanegaraan, kebijakan publik, ataupun masalah perundang-undangan. Bedah buku kali ini ini adalah yang kedua kalinya keluar dari pakem tersebut, setelah sebelumnya Negeri 5 Menara.

Setelah pembukaan dilanjutkan dengan sesi perkenalan penulis. Kemudian sesi paparan dimulai.
Lelaki itu memilih berdiri daripada duduk, digenggamnya mic warna hitam di tangan kanannya. Dengan penuh semangat kata demi kata keluar dari mulutnya, diselingi beberapa boso jowo khas Malangan. “Matek aku” “Jancuk”. Baju batik dan celana hitam tak bisa menutupi tubuhnya yang kurus hehe. Yah lelaki itu adalah Mas Iwan Setyawan.
Mas Iwan ternyata juga mempunyai tujuan lain datang kesini, yaitu mencari jodoh hahaha. Tuh para gadis, pendaftaran dibuka :)

Cerita secara lengkap bisa dibaca langsung ya, bukunya cukup tipis, dan akupun tidak sampai seperempat hari untuk menyelesaikan dan mengarungi kisah Mas Iwan.
Aku hanya akan menulis garis besar, makna tersirat atau nilai yang bisa diambil dari novel tersebut.

Alasan menulis novel

Menurut Mas Iwan, dia menulis novel ini karena melihat dan mengamati keponakan-keponakannya yang sudah sangat pop culture, yang tidak tahu sejarah keluarga atau orang tua mereka, dia ingin mewariskan kisah keluarganya ini kepada keponakan-keponakannya tersebut.
Alasan kedua adalah dia, keluarganya, tidak satupun memiliki foto keluarga, jadi dia mengambil pilihan untuk mengabadikan kisah keluarga mereka lewat sebuah tulisan.
Dan yang terakhir adalah, siapa tahu buku ini bisa menginspirasi orang lain di luaran sana, terutama anak-anak sopir angkot.

Sesuatu yang bisa kita ambil

1. Kaya intelektual dengan membaca
 
Nulis itu membutuhkan energi, begitulah menurutnya. Banyaklah membaca supaya bisa menulis. Apalagi kebiasaan baca bangsa ini masih kalah dibandingkan bangsa-bangsa maju. Mas Iwan sendiri dulunya adalah golongan yang antipati terhadap pembaca novel. Berarti dia berhaluan berbeda denganku nih hehe.

Dia suka membaca dari kecil tapi dia sendiri baru berkenalan dengan fiksi itu justru setelah diperkenalkan oleh teman-temannya semasa di New York. Keindahan bisa didapat dari membaca. Ada kekuatan intelektual disana, yang mana ini adalah bekal yang tak terhitung dibandingkan apapun.

Kita perlu terus memperkaya intelektual dengan membaca.
Sepanjang sejarah, Negara ini tidak pernah digerakkan oleh tokoh politik ataupun tokoh agama, tapi tokoh-tokoh intelektuallah yang melahirkan dan menggerakkannya.
Dompet bolehlah kosong, tapi otak jangan sampe. Satu lagi, kalau tidak belajar kita akan bodoh.

2. Pendidikan adalah segalanya

Untuk orang tua, usahakanlah pendidikan terbaik untuk anak-anakmu.
Bagi anak-anak, jangan pernah menyerah sebelum engkau mencobanya. Do your best. Pendidikan adalah saat menanam benih untuk kehidupanmu kelak.

Seperti kata Anis Baswedan, “Pendidikan bukan saja mencerdaskan. Pendidikan adalah eskalator. Dia mengangkat derajat sosial ekonomi. Dia membukakan pintu-pintu untuk meraih kemajuan. Pendidikan adalah kunci di balik keberhasilan”.

Atau kata ibunya Mas Iwan, yang juga sama seperti yang dikatakan oleh ibukku, “Uripku wis soro, ojo sampe anak-anakku koyok aku. Carane yo sekolah, sing penting sekolah. I Hidupku sudah susah, jangan sampai anak-anakku seperti aku. Cara merubahnya ya dengan sekolah, terus sekolah”.

3. Creative thingking dalam keterbatasan

Tidak semua orang memiliki sara dan prasarana penunjang dalam hidupnya, dalam pendidikannya, maka berpikirlah kreatif. Itulah yang dilakukan Mas Iwan di gubug kecilnya, misalnya dengan belajar di jam 3 pagi.

Keterbatasan itu yang membuat Mas Iwan merasa ‘kecil’. Tapi usahanya dalam melawan keterbatasan itu telah membuat dirinya mampu menembus batas ketakutannya. Kisah inipun bukan kisah tentang mimpi dan kesuksesan, tapi tentang keberanian untuk menembus batas ketakutannya.

4. Tidak ada proses instan

Diperlukan sebuah perjuangan untuk bisa hidup lebih baik. Kapal kita tidak serta merta menjadi besar, harus dibangun terlebih dahulu dan dilayarkan. Semuanya membutuhkan waktu, kerja keras dan usaha, tidak ada yang instan. “Berlayar, terus berlayar”.

5. Kesempatan itu seperti buah-buah yang menggelantung di atas

Meloncatlah untuk menggapainya, dengan skills dan intelektual, dengan spirituality.
Orang yang sukses adalah orang yang bisa meledakkan kemampuannya. Terimalah setiap tantangan dengan berani, berilah nilai tambah dalam dirimu. Karena pada dasarnya dalam setiap perjalanan manusia, kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu datang seperti gelombang.
* * *
Setelah acara utama selesai, dilanjutkan dengan acara tanda tangan dan foto-foto, serta makan siang. Akupun tak mau ketinggalan untuk minta tanda tangan yang tertunda, tentunya foto-foto juga. Maaf agak keliatan lemes, karena hari itu bertepatan dengan tanggal 10 Muharram, aku sedang puasa dan tidak sahur.


Saat mau kembali ke kantor, aku pamit ke Mas Iwan dengan melambaikan tangan. Seperti kukatakan di awal, dia sangat bersahaja. Dia menghampiriku meninggalkan menu makan siangnya di meja, kembali berjabat tangan, dan dia bilang senang akhirnya bisa ketemu langsung. Kuperkenalkan juga kepada Pak Wandi yang juga berasal dari Malang, tebak apa satu kalimat yang keluar dari mulutnya. “Njancuki pisan!” wkwkwk. Aku menawarinya mampir ke kampungku di Malang. Dia akan mengusahakan, hubungi lagi saja, begitu katanya. Insyallah Mas.
Untuk Mas Iwan, jujur aku lebih menyukaimu cara bertutur dan berceritamu daripada membaca bukumu hehe. Makanya aku pingin banyak denger cerita dan menggali pengalamanmu secara langsung. Kapan-kapan kalau ada waktu main ya ke gubug kecilku, sebuah gubug kecil di Desa Purwodadi, Tirtoyudo, Malang Selatan. Di pesisir pantai selatan.
Kalau mau beneran 'berlayar' bisa kelilingi Pulau Sempu Mas hehehe.

"Berlayar. Terus berlayar"

Foto koleksi pribadi.