-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

9 Summers 10 Autumns: Berlayar, Terus Berlayar

9 November 2011

"Orang yang kita temui secara random, bisa mengubah hidup kita", @Iwan9S10A.

Hari Kamis itu, 1 Desember 2011, sebuah kertas kecil terlihat manis di atas mejaku yang kosong, yang dua hari sebelumnya sudah kutata rapi dan kukosongkan dari berkas-berkas kerjaan karena keesokan harinya harus kutinggalkan untuk mengikuti Uji Kompetensi Pegawai Kemsetneg di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Gaharu. Kertas kecil itu adalah undangan bedah buku 9 Summers 10 Autumns bersama penulisnya, Iwan Setyawan, pada Hari Selasa, tanggal 6 Desember. Kalimat terakhir undangan itu cukup menggiurkan, gratis buku tersebut untuk 100 orang pendaftar pertama di Perpustakaan Setneg.
Undangan itu ternyata sudah ada di meja saat aku mengikuti Uji Kompetensi di Hari Rabu. Kamis itu, aku bersama teman-teman langsung ke Perpustakaan Setneg untuk mendaftar. Sayang seratus sayang, seratus novel itu sudah habis, kami terlambat mendaftar. Mungkin karena letak kantor kami yang di sayap timur membuat kami kalah langkah dari warga sayap barat hehe.

Pucuk dicinta, 20 ulampun tiba. Ada telp dari perpustakaan yang mengatakan ada tambahan 20 novel baru. Dengan langkah dua puluh, aku bergegas untuk memburu novel ini. Nomor 105 terlihat indah. Yah voucher novel bernomor itu sudah ada ditangan.

Aku sebenarnya sudah berniat membeli novel ini ketika kunjungan terakhir ke Gramedia, tentu saja setelah melihat ulasan dan beberapa kisah tentang buku ini di televisi. Entah kenapa aku hanya menyentuh saja sambil bilang dalam hati, “Jumat depan saja belinya”. Aku hanya membeli novel yang lebih dulu aku ketahui, seperti Madrenya @deelestari dan Sebelas Patriotnya @andreahirata. Sebuah kebetulan, sehari sebelum kembali ke Gramedia malah dapat 9 Summers 10 Autumns dari perpustakaan.

* * *
Selasa, 6 Desember. @ Ruang Serbaguna, Sekretariat Negara RI Gedung 3 http://4sq.com/vXBTD1.
Lelaki dari Kota Batu itu terlihat berbincang dan melayani beberapa orang yang meminta tanda tangan di samping. Kuhampiri dia, aku menyapanya sekaligus mengulangi pernyataanku di twitter saat berkenalan dengannya, “Aku Hangga Mas, yang dari Malang”. Hahaha sengaja memberikan penekanan hanya untuk memberitahu kota asal kami. Bagiku, berjumpa dengan orang sekampung di wilayah yang jauh dari kampung itu bisa menumbuhkan memori yang sangat dalam, dan bagiku selalu membuat kerinduan untuk pulang. Dia begitu bersahaja.

Saat itu aku membawa 4 novelnya untuk minta tanda tangan, namun sama panitia keburu dihentikan sebelum niat itu terlaksana. Acara segera dimulai, kilahnya.

Acara bedah buku ini diadakan oleh Perpustakaan Setneg. Jujur aku senang, namun sudah tidak heran lagi kenapa kantor membedah novel yang tidak ada kaitannya dengan ketatanegaraan, kebijakan publik, ataupun masalah perundang-undangan. Bedah buku kali ini ini adalah yang kedua kalinya keluar dari pakem tersebut, setelah sebelumnya Negeri 5 Menara.

Setelah pembukaan dilanjutkan dengan sesi perkenalan penulis. Kemudian sesi paparan dimulai.
Lelaki itu memilih berdiri daripada duduk, digenggamnya mic warna hitam di tangan kanannya. Dengan penuh semangat kata demi kata keluar dari mulutnya, diselingi beberapa boso jowo khas Malangan. “Matek aku” “Jancuk”. Baju batik dan celana hitam tak bisa menutupi tubuhnya yang kurus hehe. Yah lelaki itu adalah Mas Iwan Setyawan.
Mas Iwan ternyata juga mempunyai tujuan lain datang kesini, yaitu mencari jodoh hahaha. Tuh para gadis, pendaftaran dibuka :)

Cerita secara lengkap bisa dibaca langsung ya, bukunya cukup tipis, dan akupun tidak sampai seperempat hari untuk menyelesaikan dan mengarungi kisah Mas Iwan.
Aku hanya akan menulis garis besar, makna tersirat atau nilai yang bisa diambil dari novel tersebut.

Alasan menulis novel

Menurut Mas Iwan, dia menulis novel ini karena melihat dan mengamati keponakan-keponakannya yang sudah sangat pop culture, yang tidak tahu sejarah keluarga atau orang tua mereka, dia ingin mewariskan kisah keluarganya ini kepada keponakan-keponakannya tersebut.
Alasan kedua adalah dia, keluarganya, tidak satupun memiliki foto keluarga, jadi dia mengambil pilihan untuk mengabadikan kisah keluarga mereka lewat sebuah tulisan.
Dan yang terakhir adalah, siapa tahu buku ini bisa menginspirasi orang lain di luaran sana, terutama anak-anak sopir angkot.

Sesuatu yang bisa kita ambil

1. Kaya intelektual dengan membaca
 
Nulis itu membutuhkan energi, begitulah menurutnya. Banyaklah membaca supaya bisa menulis. Apalagi kebiasaan baca bangsa ini masih kalah dibandingkan bangsa-bangsa maju. Mas Iwan sendiri dulunya adalah golongan yang antipati terhadap pembaca novel. Berarti dia berhaluan berbeda denganku nih hehe.

Dia suka membaca dari kecil tapi dia sendiri baru berkenalan dengan fiksi itu justru setelah diperkenalkan oleh teman-temannya semasa di New York. Keindahan bisa didapat dari membaca. Ada kekuatan intelektual disana, yang mana ini adalah bekal yang tak terhitung dibandingkan apapun.

Kita perlu terus memperkaya intelektual dengan membaca.
Sepanjang sejarah, Negara ini tidak pernah digerakkan oleh tokoh politik ataupun tokoh agama, tapi tokoh-tokoh intelektuallah yang melahirkan dan menggerakkannya.
Dompet bolehlah kosong, tapi otak jangan sampe. Satu lagi, kalau tidak belajar kita akan bodoh.

2. Pendidikan adalah segalanya

Untuk orang tua, usahakanlah pendidikan terbaik untuk anak-anakmu.
Bagi anak-anak, jangan pernah menyerah sebelum engkau mencobanya. Do your best. Pendidikan adalah saat menanam benih untuk kehidupanmu kelak.

Seperti kata Anis Baswedan, “Pendidikan bukan saja mencerdaskan. Pendidikan adalah eskalator. Dia mengangkat derajat sosial ekonomi. Dia membukakan pintu-pintu untuk meraih kemajuan. Pendidikan adalah kunci di balik keberhasilan”.

Atau kata ibunya Mas Iwan, yang juga sama seperti yang dikatakan oleh ibukku, “Uripku wis soro, ojo sampe anak-anakku koyok aku. Carane yo sekolah, sing penting sekolah. I Hidupku sudah susah, jangan sampai anak-anakku seperti aku. Cara merubahnya ya dengan sekolah, terus sekolah”.

3. Creative thingking dalam keterbatasan

Tidak semua orang memiliki sara dan prasarana penunjang dalam hidupnya, dalam pendidikannya, maka berpikirlah kreatif. Itulah yang dilakukan Mas Iwan di gubug kecilnya, misalnya dengan belajar di jam 3 pagi.

Keterbatasan itu yang membuat Mas Iwan merasa ‘kecil’. Tapi usahanya dalam melawan keterbatasan itu telah membuat dirinya mampu menembus batas ketakutannya. Kisah inipun bukan kisah tentang mimpi dan kesuksesan, tapi tentang keberanian untuk menembus batas ketakutannya.

4. Tidak ada proses instan

Diperlukan sebuah perjuangan untuk bisa hidup lebih baik. Kapal kita tidak serta merta menjadi besar, harus dibangun terlebih dahulu dan dilayarkan. Semuanya membutuhkan waktu, kerja keras dan usaha, tidak ada yang instan. “Berlayar, terus berlayar”.

5. Kesempatan itu seperti buah-buah yang menggelantung di atas

Meloncatlah untuk menggapainya, dengan skills dan intelektual, dengan spirituality.
Orang yang sukses adalah orang yang bisa meledakkan kemampuannya. Terimalah setiap tantangan dengan berani, berilah nilai tambah dalam dirimu. Karena pada dasarnya dalam setiap perjalanan manusia, kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu datang seperti gelombang.
* * *
Setelah acara utama selesai, dilanjutkan dengan acara tanda tangan dan foto-foto, serta makan siang. Akupun tak mau ketinggalan untuk minta tanda tangan yang tertunda, tentunya foto-foto juga. Maaf agak keliatan lemes, karena hari itu bertepatan dengan tanggal 10 Muharram, aku sedang puasa dan tidak sahur.


Saat mau kembali ke kantor, aku pamit ke Mas Iwan dengan melambaikan tangan. Seperti kukatakan di awal, dia sangat bersahaja. Dia menghampiriku meninggalkan menu makan siangnya di meja, kembali berjabat tangan, dan dia bilang senang akhirnya bisa ketemu langsung. Kuperkenalkan juga kepada Pak Wandi yang juga berasal dari Malang, tebak apa satu kalimat yang keluar dari mulutnya. “Njancuki pisan!” wkwkwk. Aku menawarinya mampir ke kampungku di Malang. Dia akan mengusahakan, hubungi lagi saja, begitu katanya. Insyallah Mas.
Untuk Mas Iwan, jujur aku lebih menyukaimu cara bertutur dan berceritamu daripada membaca bukumu hehe. Makanya aku pingin banyak denger cerita dan menggali pengalamanmu secara langsung. Kapan-kapan kalau ada waktu main ya ke gubug kecilku, sebuah gubug kecil di Desa Purwodadi, Tirtoyudo, Malang Selatan. Di pesisir pantai selatan.
Kalau mau beneran 'berlayar' bisa kelilingi Pulau Sempu Mas hehehe.

"Berlayar. Terus berlayar"

Foto koleksi pribadi.

0 komentar:

Posting Komentar

Emoticon yang dapat digunakan [Tampilkan] [Sembunyikan]



:-))
:-)
:-D
(lol)
:-p
(woot)
;-)
:-o
X-(
:-(
:'-(
:-&
(K)
(angry)
(annoyed)
(wave) | (bye)
B
(cozy)
(sick)
(:
(goodluck)
(griltongue)
(mmm)
(hungry)
(music)
(tears)
(tongue)
(unsure)
(highfive)
(dance)
(blush)
(bigeyes)
(funkydance)
(idiot)
(lonely)
(scenic)
(hassle)
(panic)
(okok)
(yahoo)
(cry)
(doh)
(brokenheart)
(drinking)
(girlkiss)
(rofl)
(money)
(rock)
(nottalking)
(party)
(sleeping)
(thinking)
(bringit)
(worship)
(applause)
8
(gym)
(heart)
(devil)
(lmao)
(banana_cool)
(banana_rock)
(evilgrin)
(headspin)
(heart_beat)
(ninja)
(haha)
(evilsmirk)
(eyeroll)
(muhaha)
(taser) | (rammi)
(banana_ninja)
(beer)
(coffee)
(fish_hit)
(muscle)
(smileydance)
(fireworks)
(goal)
(bzzz)
(dance_bzz)
(Русский)
(code)
(morning)

Cara menggunakan: ketikkan emoticon yang diinginkan. Untuk yang ada pemisah berupa "|" maka itu adalah alternatif. Seperti (wave) | (bye) maka bisa (wave) bisa (bye)