-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Bermain bola (plastik)

Jakarta, 24 Desember 2011.

Bola plastik. Siapa yang tidak tahu bola plastik? Dan siapa yang tidak pernah main bola plastik?
Kalau saya yang menjawab, saya akan bilang saya tahu dan bola plastik adalah sahabat masa kecil yang selalu menemani di sore menjelang petang, setiap hari, baik di lapangan rumput, lapangan semen, sawah, kebun atau pantai berpasir. Hanya di jalanan beraspal saja yang tidak pernah karena didesaku belum ada jalanan beraspal, waktu itu.

Bagaimana kalau di Jakarta? Setiap sore pulang kerja, saya selalu lihat anak-anak bermain bola di komplek perumahan (Permata Timur). Biasanya saya melihat mereka bermain di lapangan hanya sekilas, saat jalan melewati lapangan. Dua hari yang lalu, saya sempetkan berhenti sejenak untuk menikmati permainan bola plastik anak-anak ini. Ini foto yang saya ambil di tempat kejadian.

Berbekal sebuah bola plastik, anak-anak kecil ini bermain. Tampaknya mereka sudah di lapangan ini saat hujan lebat tadi. Semuanya basah-basahan, diiringi canda tawa, penuh keceriaan pokoknya, sesekali mereka berteriak di lapangan 'kecil' itu.
Selalu ada banyak ungkapan yang bisa digunakan untuk menjelaskan kebahagiaan saat mereka bermain.

(Ini anakku dari tadi godain aku nulis, ketawa-ketawa, senyum-senyum sambil gulang-guling, asyik bermain. Kucium malah senyum-senyum) *pariwara*

Tidak ada sepatu di atas lapangan beton itu. Inilah ciri khas permainan bola plastik, nyeker dan spontan. Tidak ada kostum di lapangan itu. Hijau, biru, merah, coklat berlebur jadi satu. Bahkan kostum warna coklat a.k.a kulit ikut menghiasi, mereka bertelanjang dada. Tidak ada gawang, hanya ada dua batu dengan jarak yang sama dengan dua batu di sisi lawan.
Tidak ada wasit ataupun hakim garis. Ini permainan bebas, aturan ditangan mereka sendiri. Tidak ada babak pertama atau kedua, tak ada peluit, semua konsensus diantara mereka sendiri.Tak ada pergantian pemain, tak ada pemain cadangan, semua bermain, 5 lawan 6. Teriakan yang paling sering terdengar adalah, "Goolll!" "Handball" "Out".

Dan yang paling penting adalah tidak ada KOMENTATOR seperti saat siaran bola tv-tv kita, yang menurut saya sok tau, dan menipu penonton karena biasanya iklan siaran bola langsung jam sekian, ternyata di jam segitu pertandingan belum mulai, masih sesi 'bung' komentator sampai setengah jam ke depan.

Tapi jangan salah ya, di sini banyak penonton, para tukang ojek yang nongrong di pangkalan pinggir lapangan, orang tua yang jalan-jalan dengan anak kecilnya atau sedang menyuapi, ibu hamil, orang jogging, dll. Saya salah satunya di sore itu.


Satu-satunya peluit tanda berakhirnya pertandingan (atau lebih tepatnya permainan) adalah panggilan dari salah satu ibu mereka,"Sudah petang, mandi!". Ibu siapa yang datang duluan, dialah yang mempunyai hak veto membubarkan permainan hehe.

Begitulah pengamatanku di lapangan komplek sore itu. Muka anak-anak itu tampak bahagia, senang masuk di dalamnya bukan. Kecerian mereka membuat gelora masa kecilku muncul sekaligus kerinduan menikmati permainan seperti itu.

Tips bermain bola plastik:
Pilihlah bola plastik yang bagus. Biasanya berlobang kecil untuk menjaga bola agar tidak pecah.
Jika tidak pernah main bola di aspal atau lapangan semen, jangan dipaksakan bermain jika tidak memakai sepatu karena kalau dipaksakan kaki bisa melepuh (menggembung dan berisi cairan).

Cari lawan yang sepadan yah, jangan melawan anak-anak. Boleh sih ikutan tapi harus ijin dari mereka dulu. Biasanya satu orang  dewasa akan dikonversi sama dengan dua orang anak.
Tendangan dengan ujung kaki (depan) lebih keras dan membuat arah bola plastik lurus, tidak berbelok.
Kalau dapat tendangan bebas, tendang dengan sisi luar kaki untuk melewati sisi kiri barisan tembok penghadang, di jamin bola akan berbelok seperti tendangan Roberto Carlos.
Untuk memperkuat penguasaan bola dari rebutan lawan, sering-seringlah bermain kucing-kucingan bola.
Jika bermain di jalanan (biasanya warga kota besar), waspada dengan para pengendara kendaraan bermotor, terutama motor.

Ada lagi yang mau menambahkan?

Dan tulisan ini membuat saya tersadar, saya sudah tua hahaha. Bener juga kata George Bernard Shaw:

We don’t stop playing because we grow old, we grow old because we stop playing.

Gambar koleksi pribadi

0 komentar:

Posting Komentar

Emoticon yang dapat digunakan [Tampilkan] [Sembunyikan]



:-))
:-)
:-D
(lol)
:-p
(woot)
;-)
:-o
X-(
:-(
:'-(
:-&
(K)
(angry)
(annoyed)
(wave) | (bye)
B
(cozy)
(sick)
(:
(goodluck)
(griltongue)
(mmm)
(hungry)
(music)
(tears)
(tongue)
(unsure)
(highfive)
(dance)
(blush)
(bigeyes)
(funkydance)
(idiot)
(lonely)
(scenic)
(hassle)
(panic)
(okok)
(yahoo)
(cry)
(doh)
(brokenheart)
(drinking)
(girlkiss)
(rofl)
(money)
(rock)
(nottalking)
(party)
(sleeping)
(thinking)
(bringit)
(worship)
(applause)
8
(gym)
(heart)
(devil)
(lmao)
(banana_cool)
(banana_rock)
(evilgrin)
(headspin)
(heart_beat)
(ninja)
(haha)
(evilsmirk)
(eyeroll)
(muhaha)
(taser) | (rammi)
(banana_ninja)
(beer)
(coffee)
(fish_hit)
(muscle)
(smileydance)
(fireworks)
(goal)
(bzzz)
(dance_bzz)
(Русский)
(code)
(morning)

Cara menggunakan: ketikkan emoticon yang diinginkan. Untuk yang ada pemisah berupa "|" maka itu adalah alternatif. Seperti (wave) | (bye) maka bisa (wave) bisa (bye)