-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Obrolan angkringan

Cerita kali ini masih terkait dengan kunjunganku ke Jogja. Lanjutan dua tulisanku sebelumnya. Satu yang kusadari adalah aku bener-bener menyisihkan waktu untuk tidak banyak-banyak mengutak-atik gadget. Hanya kirim kabar ke keluarga via bbm, liat google maps untuk nemuin Warung Bu Ageng di Jalan Tirtodipuran, tweet yang bisa dihitung dan satu kali check in di foursquare.

Hari itu aku banyak sekali ngobrol sama orang-orang, dari pagi, siang, sore, petang sampe malam, dengan orang yang berbeda-beda. Alhamdulillah.

Ngobrol yang saya maksudkan sebelumnya adalah bener-baner ngobrol, face to face, mulut vs mulut, bukan chat ym, fb, mention, dan kawan-kawannya.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat saya mencium tangan Pak Ugeng, seorang pedagang angkringan, yang dulu menjadi langgananku bersama teman-teman saat kontrak rumah tak jauh dari angkringan ini, dimasa kuliah dulu. Letaknya dekat SMA Muhammadiyah 1.

Sudah lama saya tak mengunjunginya. Awalnya dia tidak mengenali saya. Kukira karena aku masih pake helm, eh pas udah kulepas juga belum dikenali. Barulah saat temen nyebutin namaku Pak Ugeng langsung tahu dan beranjak bangun.

Dia masih sama, pakaiannya celana selutut, kaos oblong, semuanya bernuansa gelap. Rambut masih gondrong seperti dulu. Dia bilang tadi gak mengenali saya karena saya sudah gemuk hehehe. Iya juga sih, total kenaikan berat badanku semenjak lulus kuliah adalah 12,5 kg. *tarik nafas *ngecilin perut.

Berhubung sore tadi sudah menyantap makanan di @BuAgeng, saya hanya pesen minum, pertama jahe hangat, kemudian es teh manis, plus tahu goreng. Tujuan kedatangan kami memang untuk bersilaturahim. Belum ada yang bisa ngalahin racikan teh Pak Ugeng ini, setidaknya itu menurutku sampai saat ini setelah mencicipi rasa teh dari berbagai tempat. Jahe hangat dan es teh manis seperti memutar kembali memoriku dulu. Pesanan yang selalu sama, hampir tiap malam. Mengesampingkan rasa manis.

Sayang angkringannya sekarang sepi. Mungkin sudah tak ada lagi anak-anak pengontrak yang suka begadang, mungkin mereka sekarang lebih suka di kos/kontrakan sambil main gadget, game dan kalau lapar tinggal telp fastfood yang tersedia 24 jam. Benar saja, aku mengesampingkan banyak getaran dari bbku. Pak Ugeng sendiri malam itu banyak bercerita tentang anak-anaknya.

KMS, Kartu Menuju Sejahtera, -nya baru saja dicabut Pemkot Jogja. Alasannya karena anak yang menjadi tanggungannya mengambil (kredit) motor. Dia menerima keputusan itu.

"Menggethe" adalah kata yang sering diucapkannya. Kental dengan logat jawanya. Menambah tawa di malam itu.

Dia juga cerita baru ambil kredit (KUR) sebesar 2jt, padahal dia mengajukan 5jt. Uang itu sebagian digunakan untuk membeli peralatan dagangnya. Salah satunya adalah panci khusus angkringan terbuat dari seng untuk merebus air. Dia beli tiga. Dia beli di Pasar Beringharjo, senilai 17rb dan 19rb. Tak tahu harga yang mana yang beli dua. Dia cerita panci lamanya sudah tipis lapisan bawahnya. Setelah sebelumnya dia berusaha mengganti lapisan itu kepada tukang langganannya.

Tukang itu bilang ongkosnya 30rb, harga langganan, itupun katanya sudah dipotong dari harga normal 42rb. Pak Ugeng langsung jalan meninggalkannya. Setelah membeli yang baru ternyata malah dapat 2.

Dia kemudian bercerita tentang anaknya yang bekerja di sekelke Jakal, aku dan sahabatku melongo, apaan itu, eh ternyata circle K maksudnya tadi :)

Banyak lagi yang diceritakannya. Dia terlahir dengan banyak cerita. Tak jarang obrolanku dengan sahabat dipotongnya dengan cerita-cerita barunya.
Tiga jam lebih tak terasa obrolan di angkringan itu terjadi. Malam ini terasa sangat singkat. Kalau diteruskan bisa sepanjang malam kami ditempat disini.

Engkau salah satu guru kehidupan kami. Kami sudah melanglang, engkau masih disini, mengais rejeki untuk keluarga dengan cara yang masih sama.
Aku pamit padanya, minta doa untuk perjalanan pulang besok. Saya jabat tangannya dengan erat. Saat salaman aku menahannya untuk tetap duduk. Kuselipkan uang yang tak seberapa. Sambil ku meminta doa. Hanya sedikit itu yang bisa kuberikan. Semoga sehat selalu ya Pak. Salam untuk keluarga.

Kebanyakan orang kecil adalah orang besar. Mereka bukan hanya berhati tabah, bermental baja dan berperasaan terlalu sabar, tapi juga berkemampuan hidup yang luar biasa.
* * *

Selain Pak Ugeng, satu lagi yang perlu warga Jogja temui, beliau adalah Kepala UPT Jamkesda Pemkot Jogja. Seseorang yang sehari-harinya selalu berkecimpung dengan permasalahan pelayanan kesehatan masyarakat miskin Jogja.

Jika sahabat bertemu dia, akan ada banyak perpsektif dan kejutan yang keluar dari mulutnya. Bahasa kejujurannya. Tipikal rakyat jelata, yang paling jelata tapi dia begitu percaya diri. Jelatanya sama kayak saya, tapi PDnya lebih-lebih lebih dari saya hehe. Dengan pakaian batik yang menempel di tubuhnya, dia menyambut kami langsung dengan bahasa jawa halus. Dia tahu kami dari jawa, hanya dengan melihat nama kami. Kedua nama kami berakhiran –to hahaha. Mencairlah semua obrolan diantara kami.

Apa ya bahasa yang tepat untuk menggambarkan bapak ini, rendah hati kuadrat mungkin.
Ceplas ceplos, dalam koridor yang baik. Lucu, dalam koridor serius.

Ah, selalu ada hal baru disetiap perjalanan kembali ke kota ini. Selalu ada yang bisa dirindukan di kota ini. Selalu ada memori yang bisa dikenang di kota ini. Semuanya begitu istimewa.

29/02/2012

Hujan, Malioboro dan Stasiun Tugu

Sore itu hujan tiba-tiba datang dengan deras. Tiga pakaian batik sudah ditangan, termasuk batik mungil untuk anakku. Sementara perut sudah menolak untuk diisi.

Menu Gudeg di hotel
Malioboro masih saja ramai. Jalanan penuh kendaraan, becak dan dokar, terlebih sepeda motor. Beranda kaki lima Malioboro juga sesak dengan pengunjung. Darimana saja orang-orang ini. 

Kuhampiri becak yang terparkir. Pengayuhnya mengenakan mantel hujan, sepertinya buatan tangan sendiri. Dari plastik putih transparan. 20rb sepakat. Becak melaju dengan tujuan Stasiun Tugu, tapi terlebih dulu mampir dulu di hotel yang terletak di Jalan Dagen, juga di Malioboro.

Disisi jalan utama Malioboro, di jalan khusus becak dan dokar, becakku ketemu dokar di jalan yang sempit itu. Yang mengalah justru abang becakku. Dia menepi dan memberikan kesempatan dokar dari arah berlawanan untuk melaju.

Menurutku, seharusnya dokar yang ngalah, selain karena ukurannya yang lebih besar, kuda harus mengalah ke manusia.

Sesaat setelah dokar melewati kami, sang kusir berkata, "Gak ketok e Lek". Tidak kelihatan Lek. Sesimple itu, tanpa maaf atau terima kasih.

"Yo Lek", balasan disampaikan abang becakku. Dengan tenang, santai, tak marah, tak ngambek. Seperti tidak ada masalah yang terjadi. Sepertinya masalahnya hanya di sudut pandangku. Itulah keramahan warga Jogja. Yang selalu istimewa.

Bayangkan jika kondisi tersebut terjadi di Jakarta. Apakah kalimat seperti di atas yang terdengar. Saya menyangsikannya :) 

Ah lupakan. Hujan, becak, dan Malioboro terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja.

Menuju Stasiun Tugu. Cagar Budaya Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta. 

Ku selalu lekat dengan stasiun ini. Ada sebuah momen emosional bersama si dia pernah terjadi disini. Si dia yang akhirnya menjadi pendampingku sampai saat ini.

Aku berharap bersamanya menikmati semua ini.

28/02/2012

Warung Bu Ageng

Hari Kamis tanggal 23 Februari kemarin saya berkesempatan mengunjungi salah satu resto yang ramai dibicarakn di twitter. Saya sih tergoda juga dengan ramainya testimoni mereka-mereka ini.

Warung Bu Ageng adalah warung milik Mas Butet Kertaradjasa, mungkin nama Bu Ageng adalah nama istri Mas Butet. Warung ini terletak di Jalan Tirtodipuran 13 Matrijeron Yogyakarta 55143. Foursquarenya disini nih, sempet check in disini soalnya: http://4sq.com/A6Zed1. Yang belum pernah kesana ikuti aja ancer-ancer ini, kalo dari istana Jogja ke arah selatan, kemudian kalau sudah ketemu plengkung gading terus ke selatan, katemu perempatan belok ke kiri. Ada plang besar bertuliskan Bu Ageng.

Tempatnya mengusung bangunan tradisional Jogja dengan meja kursi kayu dan bangunan Joglo. Eh adakan Joglo yang memanjang? hehe. Fasilitas lengkap dan bersih, toilet dan wastafel misalnya, juga musholanya. Tidak terlupa colokan listrik, sayapun memanfaatkannya.

Momen kali ini saya ditemani oleh dua orang sahabat, yang pertama Ullif yang baru saja dateng dari Korsel dan Adi, gitaris andal di jurusan HI hihi. Pertemuan dnegan Ullif juga kebetulan sekali. Soalnya kira-kira tanggal 21, begitu saya tahu dia check in foursquare di Bandara Soekarno Hatta, aku langsung kirim pesen via FB, ya karena belum punya nomor barunya aja. Eh pas aku sama Adi merencanakan ketemuan, di detik itu dia balas pesanku dan akhirnya bereunilah kita, bermula di Stasiun Tugu.


Warung Bu Ageng, menasbihkan dirinya sebagai Warung Masakan Omah. Makanan yang tersedia adalah makanan tradisional yang biasa ditemukan di rumah tangga di Indonesia, terutama Jawa dan Kalimantan. Juga disajikan menu makanan kreasi Ibu Rulyani Isfihana alias Bu Ageng. Semua makanan menggunakan bahan baku lokal.

 
Tanpa pikir panjang lagi kami memilih berbagai menu yang disediakan. Untuk pembukaan, kami pesan masing-masing bubur duren mlekoh, dua porsi pisang panggang kayu manis, dua porsi bakwan ageng, sayang edamamenya habis. Untuk minuman aku pesen teh rempah gula batu, sementara dua temanku memilih es cincau hijau, dan kopi clekot (+coklat, kalua).

Disela-sela menyantap hidangan, Mas Butet menyapa via twitter, ”Sempurnalah hidupmu @hanggaady” hehehe.

Yah, akhirnya sore itu disempurnakan dengan seporsi sup kepiting kare, satu-satunya menu spesial yang tersedia hari itu, sambel kutai, pecel, paru ketumbar, dua porsi lodeh, labu bening/bobor dan dua porsi tempe garit.

Berbagai menu yang tersedia
Harganya cukup bersahabat, untuk semua menu yang kami pesan tadi cukup dengan IDR 159.000.

Informasi harga:
- Minuman panas mulai dari 2rb sampai 12rb; minuman dingin dari 2rb sampai 15rb, soft drink dari 4rb sampai 10rb.
- Makanan ringan mulai dari 5rb sampai 14rb.
- Nasi campur mulai dari 9rb sampai 22rb.
- Nasi putih 4rb, dengan aneka lauk mulai dari 4rb sampai 12rb, dan sayur 4rb.
- Menu spesial rata-rata 20rb.

Eh ternyata warung ini juga punya akun twitter loh. Akunnya adalah @BuAgeng. Kalau mau menyapa @masbutet juga bisa. Sedang akun Facebooknya: Warung Bu Ageng. Nomor telp kantor 0274-387191 dan mobile 0853 2986 2888.

Ada yang tertarik kesana? Silahkan mengikuti jejak saya hehe.
28/2/2012

Tergila-gila berolahraga karena Endomondo

Beberapa hari ini aku tergila-gila dengan sebuah aplikasi bernama @Endomondo. Endomondo is a sports community based on free real-time GPS tracking of running, cycling, etc. Begitulah arti endomondo sebagaimana tertulis di website www.endomondo.com. Saya memakai aplikasi ini dari Blackberry secara gratis, tetapi untuk fitur yang lebih lengkap ada yang berbayar juga. Bagi pengguna blackberry yang berminat menggunakan aplikasi ini bisa download disini, di android dan iphone juga sudah tersedia.
Semua aktivitas terekam
Semenjak saya mengenal aplikasi ini, minat berolahraga saya meningkat dengan pesat, saya semakin terpacu terutama olahraga outdoor, entah itu sekedar jalan kaki, jogging ataupun bersepeda. Dengan menggunakan aplikasi ini minimal saya bisa mengetahui statistik selama berolahraga, yang meliputi durasi waktu, jarak, kecepatan rata-rata, kalori hanya dengan memasukkan tinggi dan berat badan saja. Selain itu juga bisa melihat rute yang ditempuh dalam peta. Asyik dan seru banget deh.

Hanya dalam waktu 3 hari ini saya sudah beberapa kali memanfaatkan aplikasi ini saat berolahraga, walau ada yang terlewat sih karena bb ketinggalan atau karena lupa mengaktifkan endomondo hehe. Contohnya adalah bersepeda hari Sabtu kemarin dengan menempuh jarak sekitar 10 Km, itupun separuh perjalanan berangkat belum mengaktifkan endomondo. Dan yang terbaru adalah hari ini, jogging di lingkar luas Monumen Nasional (Monas), lumayanlah bisa lari hampir 2 putaran dengan jarak sekitar 3,3 Km plus 1 putaran jalan dengan jarak 1,754 Km hehe.
Rute sepedaanku
Rute lariku
Apa keunngulan aplikasi ini. Berikut diantaranya:
- Track any outdoor sport including duration, distance, speed and calories
- Track your heart rate
- Race against a friend’s time and have the audio coach help you perform better
- Enter workouts manually, e.g., weight lifting or a treadmill run
- View history of workouts and peptalks
- See your route on a map
- See a list of friends and their latest workouts
- Post workouts to Facebook or BBM
- See your friends' latest workouts in real-time. Selengkapnya bisa dilihat disini.
Sesekali ada challenges dari Endomondo, berhadiah loh :)

 Ada yang tertarik? Silahkan menggunakan aplikasi sehat ini.
 21/02/2012

Original but cheap

S-e-p-a-t-u. Ya sepatu. Itu yang akan ku obrolin di sini, hasil perburuan mencari sepatu. Tapi terlalu berlebihan kali ya pake kata berburu, soalnya aku bukan tipe orang yang suka mengkoleksi sepatu. Apa ya istilah yang tepat? Pokoknya aku udah beli sepatu, gitu aja kali ya hehe

Koleksi sepatu ku hanya beberapa: dua sepatu pantofel (Donatello), dua sepatu jogging (Adidas dan Spalding butut), satu sepatu futsal merk lokal (League), dan tidak punya sepatu kasual. Tuhkan cuma sedikit dan gak semua bermerk.

Terakhir sepatu yang kubeli adalah sepatu futsal, itupun sudah lama sekali sekitaran setahun yang lalu. Beberapa bulan lalu juga beli sepatu sih, tapi untuk istri. Ku sengaja beli sepatu itu karena motifnya bagus, sepatu warna item dengan motif piano bermerk wondershoe. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, makanya langsung kubeli aja. Dan istripun sangat senang. Sekarang sepatu itu dipakai terus kalo ngajar piano klasik di Purwacaraka.


Sehubungan dengan keadaan itu, akhir-akhir ini merencanakan membeli sepatu kasual. Tapi beberapa kali berkunjung ke toko sepatu (sudah terhitung 3 toko sepatu) tapi belum juga menemukan sepatu yang cocok. Dan ku justru menemukan sepatu yang pas dan cocok secara tidak sengaja. Jumat kemarin.

Hari Jumat kemarin sama temen-temen kantor makan siang di Pancious Pancake seabis jumatan di Plaza Indonesia aku menemukannya. Tidak sengaja, sekali lagi tidak sengaja. Gini. Seabis selesai makan, kami langsung pulang dan menuju lobby timur. Sayangnya antrian taxi panjang dan lama, mungkin karena pas hujan juga. Jadi kami memutuskan pindah ke lobby barat, dengan pertimbangan disitu tempat penurunan penumpang.

Menu orang kelaparan @pancious

Eh sewaktu jalan ke lobby barat, kok tiba-tiba pada ngomongin diskon. Dan aku langsung nyeletuk Zara, karena sebelumnya lewat dan baca ada diskon gede-gedean, tertulis up to 90%. Walhasil mampirlah ke lantai dua dimana lokasi Zara berada. Benar saja, suasana di dalam ramai banget, masih didominasi kaum hawa. Dan setelah berkeliling, dan ketemulah stand sepatu, dan langsung jatuh cinta ke satu sepatu yang terpajang, dan langsung kucoba, dan langsung kubeli, dan lumayan juga tuh sepatu didiskon 75% hahaha.


Dan semalam berhasil memerawani sepatu itu saat makan malam perayaan ultah Mama di Resto Seribu Rasa Jalan Agus Salim. Jeans-sepatu-kaos, yeay! akhirnya nampil kembali ke usia remaja hihihi.

Jadi inti dari tulisan ini adalah saya ingin pamer sepatu baru :) *kabur*
*seharusnya postingan ini berbayar *ngarep :)

7/2/12

Kata: Kartografi

Siapa yang sudah pernah mendengar kata ini? Jarang sekali kata ini digunakan, kecuali oleh mereka-mereka yang berkecimpung dalam dunia perpetaan. Kata ini sepertinya juga serapan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kartografi diartikan sebagi berikut:
Secara singkat kartografi adalah studi dan praktik membuat peta. Dan, cartografer adalah orangnya.
Semalam baca tweet @madeandi yang tampaknya sedang mengerjakan tugas membuat peta, begini tweetnya: Semoga orang-orang yang masih bikin peta dunia hingga larut begini akan diberi kesempatan mengunjungi tempat-tempat yang dipetakannya.

Amin. Saya aminkan doa itu. Untuk era modern seperti saat ini para cartografer memang tidak harus terjun langsung ketempat/negara/wilayah seperti era tradisional dulu yang menggambar menggunakan kertas dan pena. Bayangkan kesusahannya. Saat ini, komputer, satelit dan perangkat lunak penunjang berteknologi tinggi bisa dengan mudah digunakan untuk membantu pekerjaan cartografer.

Untuk urusan menggambar peta, semua negara di dunia ini sangat egois. Semuanya ingin posisi negaranya di dalam peta ada di tengah-tengah dunia. Negara lain/tetangga adalah sampah, gambarnya dibikin item, transparan, bahkan dipotong meski tergabung dalam satu pulau. Itu sepertinya hukum wajib membuat peta ya. Ya iyalah masak negara tetangga ada di tengah-tengah hehe.

Salah satu contoh hasil dari keegoisan itu adalah peta Rusia. Menurutku peta negara ini yang paling jelek. Maaf ya Rusia kamu kujadikan contoh hehe. Ingin tahu alasannya. Karena negara ini terletak di deket kutub utara, jadi jelek aja secara tampilan begitu dipaksakandi taruh di tengah :) Kalo gak percaya cek dan liat saja.
Gambar dari Google. Gambar lain bisa dilihat disini.