-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Tiga Gunung Dua Pantai #desaku

23 Oktober 2012.

Sudah pula kurindukan udara pegunungan, pasir pantai, aroma angin laut selatan, bau cengkeh yang mengering dan hamparan sawah di desaku.


***
Juli 2011.

Entah ini hanya pengamatanku semata atau tidak. Aku lebih sering menemukan kesederhaan manusia di daerah-daerah pelosok. Sebut saja desa terpencil. Desaku contohnya.

Aku bertemu seorang ibu penjual pakis. Entah kenapa, setiap bertemu warga desa kurasakan sesuatu yang beda yang jarang kutemui di Jakarta. Setiap berpapasan selalu ada simpul senyum dari mereka, kenal ataupun tidak minimal senyum itu selalu ada. Hal itu juga yang kutemukan saat bertemu ibu ini. Senyum, menanyakan kabar, ngobrol panjang lebar, seperti tidak ketakutan waktunya bakalan abis, sementara dia sendiri harus menjajakan jualan sayurnya. Tidak ada ketergesa-gesaan. Ramah, santun, mungkin itu gambaran warga desaku kalau bertemu dengan orang.

Dia membawa beberapa jenis sayur. Menurutku ibu ini sedang berjudi. Pingin tau alasannya apa? Karena disini semua jenis sayur sudah ada, tinggal memetik saja di halaman atau kebun rumah. Dengan kata lain, ibu ini menjual sayuran di markasnya sayuran.

“Emang ada yang beli Bu? Kan disini sayuran tinggal metik aja”, kataku, tentu dengan bahasa jawa.
“Ya ada aja Mas, tapi ya itu, ibu jualnya dnegan harga yang murah, biar ada yang beli”, jawabnya.

Harga sayuran yang dibawanya tidak manusiawi. Harga sayur pakis satu ikat seribu perak doang, padahal ikatannya banyak. Apa mau dikata, hukum ekonomi tentang penawaran dan permintaan yang selalu mencari keseimbangan juga berlaku disini. Memang sangat mudah mendapatkan sayuran seperti pakis, daun singkong dan sejenisnya, tinggal petik di kebun-kebun yang luasnya tak terkira bahkan tanpa perlu ijin pemilik lahan. Daun singkongpun juga muda-muda, yang dipetikh anya helai daun nomor 2 dan 3 dari pucuk tidak seperti daun singkong di tukang sayur atau pasar di Jakarta yang tua-tua. Tapi harga segitu menurutku sangat tidak sebanding dengan usaha metiknya.

Seneng banget kalau pas aku pulang gini, bisa sedikit membantu mereka-mereka ini, minimal membeli dagangannya. Aku juga harus minta ijin si ibu untuk membeli sayurannya dengan harga yang lebih mahal. Anehkan, biasanya pembeli itu menawar harga agar lebih murah tapi ini malah melebihkan harga.

Kalau tidak minta ijin dan dipaksa gitu gak bakal dikasih. Si ibu hanya mau menaikkan dengan kisaran 50 sampe 100%, gak mau lebih dari itu. Segitu sudah harga umum disini katanya. Padahal nilai kenaikannya hanya 500 sampe 1000 perak.

Kadang sulit memahami hal-hal kecil gitu. Setelahnya pun, ucapan terima kasih dari si ibu membanjir, hanya untuk tambahan dengan nominal sekecil itu. Terima kasih, terima kasih dan terima kasih.

Semakin meyakinkanku lagi bahwa dalam setiap perjalanan selalu menemukan dan berbincang dengan seseorang yang tanpa terencana menjadi guru yang membagikan ilmu baru. 
***

Travel brings power and love back into your life ~ Rumi

Setiap aku pulang aku punya beberapa keinginan, tentunya bernostalgia dengn masa keil dulu. Anehnya dari tiga hal yang kuingin saat pulang ini, hanya makan sayur pakis pedas masakan ibuk yang terwujud. Sayur pakis spesial yang tiada bandingannya. Apalagi di Jakarta tidak bisa menemukan jenis sayur ini. Sementara yang belum terwujud adalah makan ayam ingkung dan pesta durian.

Ingkung batal karena gak dapet ayam kampung jantan yang bagus. Dirumah sudah berganti beternak bebek, untuk diambil telurnya saja. Cerita tentang peliharaan ayam bisa diliat di sini dan cerita tentang ingkung juga sudah pernah ku tuliskan di sini.

Pesta durian juga batal. Yang ada adalah pesta pisang. Tetangga pada ngirimin pisang, mulai dari pisang susu, gajih/kepok dan bahkan pisang besar yang berisi 3 sisir saja. Saat ku mau pulang, tetangga lain juga ngasih pisang gede-gede tersebut satu curung/tandah. Untuk dibawa ke Jakarta, maksud pemberiannya. Lebih tepatnya sih menyindir Jakarta yang pisangnya gak bagus, mahal pulak hahaha.

Malamnya, giliran hantaran buah rambutan yang dateng dari tetangga. Agen No. 2 dan No. 3, adek kedua dan ketiga, langsung mengupas rambutan-rambutan ini, terus hasil kupasannya di taruh di piring. Tipikalku dulu waktu kecil. Baru setelah hasil kupasan banyak, dibawalah ke depan tv, tinggal menikmati saja.

Beberapa saat kemudian dapat hantaran ater-ater/kendurian dari tetangga, sayang sekali lauknya juga pas bukan ingkung. Padahal biasanya setiap kendurian gini ingkung tidak pernah terlewat. Biasanya nasi, lauk plus sayur disatuin dalam bungkusan daun pisang. Emang pas belum rejeki disuruh makan ingkung. Dan hantaran kayak gitu itu sudah membudaya, sering banget dapat dari tetangga loh.

Terus, kalau lagi jalan sering ketemu sama ibu-ibu yang gendong ikatan kayu bakar, bahkan yang sudah tua sekalipun. Dapur pawon masih mendominasi. Bukan rahasia kalau memasak disini masih didominasi menggunakan pawon dengan bahan bakar kayu. Pokoknya kalau mau hidup disini tanpa pegang uangpun bisa, semua kebutuhan bisa diambil langsung dari hasil tanah. Kayu bakar mudah didapat, dari ranting-ranting pohon yang sudah mengering ataupun dari daun kelapa yang mengering dan jatuh. Mau ambil foto gak enak. Pada mereka bisanya cuma menyapa aja, "Pados kayu Mbah? Cari kayu bakar Mbah?”

Pesta durian kampung yang masak jatuh juga gagal karena kata petani duriannya sudah 'lebar' (baca huruf e seperti pada kata lemas), artinya sudah abis masa berbuahnya. Kesimpulan itu kudapat setelah mengirimkan telik sandi a.k.a ketiga adekku ke beberapa petani durian untuk berburu durian. Semuanya abis. Padahal saat berangkat mereka sudah bawa satu karung untuk tempat durian. Pas pulang mereka pura-pura keberatan bawa tuh karung, padahal tanpa isi hahaha. Aku berhasil dikerjain. Akhirnya aku hanya bisa dengerin cerita seminggu lalu saat krucil-krucil ini pesta 20 buah durian, yang katanya hanya dibeli dengan uang 200rb. Hah!. Mereka ceritanya dilebih-lebihkan gitu. Tapi aku percaya sih enaknya tuh durian, semuanya masak dan jatuh, bukan dipetik. Huhu.

Kesimpulanku, tentang sebuah perjalanan terindah sih sampai saat ini masih sama, yaitu perjalanan mudik. Emosi, empati, beauti menyatu. Desa yang indah, masyarakat yang ramah dan budaya yang bersahaja akan selalu menanti.

 

Menulis dan membaca kembali tulisan ini menyadarkanku bahwa kangen rumah ini akan selalu ada. Ah, kereta terus melaju menuju Jakarta.

***
24 Oktober 2012. 15:05.

Kereta itu akan kembali melaju dari Jakarta menuju Malang. Pesisir selatan Malang. Desaku.

Tunggu aku kembali.


*Foto koleksi pribadi.

0 komentar:

Posting Komentar

Emoticon yang dapat digunakan [Tampilkan] [Sembunyikan]



:-))
:-)
:-D
(lol)
:-p
(woot)
;-)
:-o
X-(
:-(
:'-(
:-&
(K)
(angry)
(annoyed)
(wave) | (bye)
B
(cozy)
(sick)
(:
(goodluck)
(griltongue)
(mmm)
(hungry)
(music)
(tears)
(tongue)
(unsure)
(highfive)
(dance)
(blush)
(bigeyes)
(funkydance)
(idiot)
(lonely)
(scenic)
(hassle)
(panic)
(okok)
(yahoo)
(cry)
(doh)
(brokenheart)
(drinking)
(girlkiss)
(rofl)
(money)
(rock)
(nottalking)
(party)
(sleeping)
(thinking)
(bringit)
(worship)
(applause)
8
(gym)
(heart)
(devil)
(lmao)
(banana_cool)
(banana_rock)
(evilgrin)
(headspin)
(heart_beat)
(ninja)
(haha)
(evilsmirk)
(eyeroll)
(muhaha)
(taser) | (rammi)
(banana_ninja)
(beer)
(coffee)
(fish_hit)
(muscle)
(smileydance)
(fireworks)
(goal)
(bzzz)
(dance_bzz)
(Русский)
(code)
(morning)

Cara menggunakan: ketikkan emoticon yang diinginkan. Untuk yang ada pemisah berupa "|" maka itu adalah alternatif. Seperti (wave) | (bye) maka bisa (wave) bisa (bye)