-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

Tindak Pidana Korupsi

 Ring Satu, 4 Maret 2013

Apa yang salah dengan Indonesia sehingga berita tentang tindak pidana korupsi (tipikor) ini tidak pernah hilang dari berita sehari-hari?

Ada yang beranggapan karena pemberantasan atau penindakannya lemah, ada pula yang beranggapan pencegahannya lebih lemah.

Pemberantasan tipikor dinilai formalistik tanpa mempertimbangkan faktor esensi atau akar masalah, cenderung kuratif dan represif. Golongan ini menyebut pemberantasan korupsi hanya memotong pohon padahal akar dan tanahnya masih subur.

Dari segi pencegahan begitu pula. Sebenarnya ada banyak pejabat atau pegawai yang  bervisi hebat untuk membangun bangsanya, hanya saja setelah masuk sistem menjadi berbeda. Sistem inilah yang menjadi akar dan lahan subur. Untuk menjadi pengambil keputusan/kebijakan atau puncak pimpinan, orang berbenturan dengan sistem politik dan kompetisi yang mahal, dari sini saja faktor kompetensi sudah tersaring. Yang kedua adalah sistem akuntabilitas dan birokrasi yang buruk. Akuntabilitas hanya berbasis legal formal dan tidak substantif sama sekali, semua hanya mengenai kuitansi dan pertanggungjawaban formal saja.

Indonesia sendiri sudah menggunakan segala cara, dari pembuatan ratusan peraturan tipikor sampai pembentukan organ pencegahan dan pemberantasan korupsi (sebut saja KPK, PPATK, Ombudsman dan komisi-komisi lain), tapi masih saja korupsi bercokol. 
Para pegawai sudah disumpah saat diangkat, kemudian saat mendapatkan jabatan disumpah jabatan, sudah diterapkan berbagai peraturan disiplin, sudah ada pengawasan internal dan eksternal, kemudian reformasi birokrasi, pakta integritas, apa lagi coba? Gak usahlah dilihat dari Indeks Persepsi Korupsi, liat aja berita yang setiap hari tayang. Saya lebih percaya pada berita itu.
Bisa saya simpulkan bahwa tipikor sudah menjadi kultur. Sudah biasa. Teori dan peraturan semakin bnayak, eh koruptornya juga semakin banyak, semakin pintar pula :)

Tipikor ini kompleks, ada yang beranggapan tidak semua karena kejelekan pelaku, ada yang tidak tahu, atau bahkan ada yang dipaksa atau malah terpaksa karena sistem jelek tadi. Dulu pernah menulis juga tentang birokrasi Indonesia yang memang sudah ketinggalan jaman. Bisa dibaca di sini.


Lantas kira-kira bagaimana cara pencegahan dan pemberantasan yang kira-kira baik dan efektif?

Ada yang berteriak penguatan lembaga dan reformasi birokrasi.
Ada yang berteriak perlu adanya dukungan dan partisipasi masyarakat secara langsung.
Ada yang berteriak penjatuhan sanksi yang berat dan pemiskinan koruptor.
Ada yang berteriak keharusan pengawasan dan akuntabilitas.
Ada yang berteriak perlunya pendidikan semenjak dini.
Dari golongan bawah ada yang berkata lirih tentang integritas dan disiplin diri.

Saya mendukung semua upaya pencegahan dan pemberantasan tipikor. Semua bisa berpartisipasi di tingkatan atau level masing-masing. Menurut saya, dari beberapa langkah tersebut integritas dan disiplin diri-lah yang saya rasa paling tepat, karena kita bisa langsung menerapkannya dari masing-masing individu.

Jumat lalu saya sholat Jumat di Masjid Al Mahkamah di lingkungan Mahkamah Agung RI. Kebetulan penceramahnya adalah salah satu hakim agung. Menarik sekali bahasan yang disampaikannya, sangat berkaitan dengan integritas dan disiplin diri.

Dia mengawali ceramah dengan menyampaikan adanya kegalauan para hakim yang melihat banyaknya teman dan institusi mereka banyak terlibat juga dengan tipikor dan digempur habis-habisan sama media. Sang hakim agung ini kemudian suatu waktu bertemu gurunya (disebut seorang kiai di Jawa Timur). Apakah gurunya mengikuti berita ini dan apa langkah yang harus diambil untuk menghindari dan menghilangkan budaya ini?

Tinggalkanlah yang abu-abu.

Yah begitu saja. Adam saja sebagai manusia pertama jatuh karena justru terperosok di area abu-abu sampai akhirnya mengambil buah Kuldi.
Godaan bisa datang dari mana saja, dari dalam dan dari luar, bahkan dari lingkungan terdekat seperti teman dekat.
Orang yang kelihatan baik tidak selalu mengajak kepada kebaikan. Itu bunyi sebuah tulisan di tembok pinggir jalan yang kemarin  kebetulan saya melihatnya. Dengan mengamalkan nasehat di atas, integritas akan selalu terjaga dan membuat disiplin diri semakin kuat. Semoga.

Raga itu barang pinjaman yang setelah mati akan kembali kepada tanah. Sekedar pengingat saja.


Gambar dari google image.

0 komentar:

Posting Komentar

Emoticon yang dapat digunakan [Tampilkan] [Sembunyikan]



:-))
:-)
:-D
(lol)
:-p
(woot)
;-)
:-o
X-(
:-(
:'-(
:-&
(K)
(angry)
(annoyed)
(wave) | (bye)
B
(cozy)
(sick)
(:
(goodluck)
(griltongue)
(mmm)
(hungry)
(music)
(tears)
(tongue)
(unsure)
(highfive)
(dance)
(blush)
(bigeyes)
(funkydance)
(idiot)
(lonely)
(scenic)
(hassle)
(panic)
(okok)
(yahoo)
(cry)
(doh)
(brokenheart)
(drinking)
(girlkiss)
(rofl)
(money)
(rock)
(nottalking)
(party)
(sleeping)
(thinking)
(bringit)
(worship)
(applause)
8
(gym)
(heart)
(devil)
(lmao)
(banana_cool)
(banana_rock)
(evilgrin)
(headspin)
(heart_beat)
(ninja)
(haha)
(evilsmirk)
(eyeroll)
(muhaha)
(taser) | (rammi)
(banana_ninja)
(beer)
(coffee)
(fish_hit)
(muscle)
(smileydance)
(fireworks)
(goal)
(bzzz)
(dance_bzz)
(Русский)
(code)
(morning)

Cara menggunakan: ketikkan emoticon yang diinginkan. Untuk yang ada pemisah berupa "|" maka itu adalah alternatif. Seperti (wave) | (bye) maka bisa (wave) bisa (bye)