-- Sebait kata untukmu, Dee --
Aku menyesal terlambat lahir karena semua hal pernah dilakukan orang-orang, tapi satu yang tak pernah kusesali adalah pilihan hidupku untuk mencintaimu _________________________________________ -- Hgg --

KOPI

Edisi 3: ARAH

“Pergilah ke timur, dimana matahari terbit, dimana kautemukan horizon,” aku ingat tiba-tiba sebuah mantra leluhur itu. Mantra untuk anak-anak muda seusiaku agar hijrah.
Apa yang terjadi padaku justru berkebalikan.
Aku ke barat. Menemani masa senja kakek nenek. Menuntaskan sisa sekolah tingkat dasar. Aku harus pindah dan meninggalkan aktivitasku kebunku, memetik kopi. Tapi aku tetap bisa melatih keberanianku. Tidak terbayangkan kala itu aku sering memanjat pohon kelapa hanya untuk mendapatkan air minum, berpindah dari kebun sendiri ke kebun nenek.
Aku ke barat. Mulai menjalani hidup seorang diri. 1998. Saat gegap gempita negara ini berlansgung. 15 usiaku. Aku mengelana ke sebuah kota kecil. Tapi kota besar bagi industri persenjataan dunia.
Aku ke barat. Melewati masa-masa indah remaja dan sekaligus masa kebingungan akan masa depan. 2002. Aku bergelut dengan hantu bernama pilihan. Sebuah blanko kosong dengan tulisan IPC terserak di atas meja. Apa yang kutulis menentukan masa depanku. Demi pilihan itu, berminggu-minggu caffeine menjadi teman keseharian.
Aku ke barat. Terdampar di kota pendidikan, tempat dimana ku kenal kopi arang, kopi jos. Ku minum sesekali sambil bercengkrama di warung kaki lima penjual nasi kucing, angkringan. Yang kuingat, teh wasgitel adalah favoritku, bukan kopi itu. Teh maha dahsyat yang wangi, panas, sepet, legi dan kentel.
Dan sekali lagi aku ke barat. Mengabdikan diriku kepada senja dan negara. Timur berbeda dengan Barat. Timur tidak akan pernah menjadi Barat. Sampai titik itu, aku tak bersahabat dengan Timur.

* * *

Sebuah keajaiban membawaku ke Timur. Lebih jauh dari tempatku berasal. Sebuah tempat yang memberikan pelajaran. Sebuah tempat yang menjadi permulaan dari cerita-cerita ini.
Kami duduk menghadap ke pantai. Dari lantai dua café berdinding kaca ini terlihat jelas kapal-kapal yang bersandar di Port Melbourne. Café Lafayette ini terkenal dengan rain drop cake-nya. Karena rasa penasaran jugalah, kami terdampar di sini. Dari lokasi ini pula, sebuah kapal super besar terlihat sangat mewah dan gagah di kejauhan sana, bertulis dengan warna merah, Spirit of Tasmania.
“Lain waktu aku ingin berlayar dengan kapal itu,” katamu lirih. Satu senyummu menyembul.
“Ya, kudengar di ujung sana sangat indah.”
Sesekali pula kucuri pandang senyummu. Aku tersenyum. Melihat senyumku, kamu tersenyum balik. Senyum berbalas senyum. Aku menyadari satu hal, aku tak bisa tak bersamamu.
“Jangan buat aku seperti kapal itu,” katamu sambil menerawang jauh.
“Kenapa?”
“Kamu membuatku nyaman saat berada di sisimu, tapi tidak begini caranya. Kau buatku terus bersandar. Kau jauhkanku dari gelombang besar di tengah lautan, tapi Kamu lupa apa fungsi sebuah kapal itu.”
“Maksudmu?”
“Aku ingin menjadi kapal yang berlayar. Aku nggak mau cuma berdiam diri. Sebuah perjalanan tanpa gelombang tidak akan ada artinya. Kamu sudah tau masa laluku. Kulalui sebuah pelajaran dengan rasa sakit, tapi itu sangat berarti bagiku.”
Corak bunga Rosetta di gelas latteku sudah hilang, cerita masa lalumu bergejolak lagi di pikiranku.
“Kamu menggantungku, tanpa arah.” Kalimat terakhir yang kudengar dari mulutmu. Kamu berjalan ke teras café. Kau tinggalkan rain drop cake utuh tak tersentuh di meja.
Arah bukan hanya arah. Arah adalah pembentuk hati. Hati yang mampu mendengar, mampu merasa dan mampu melihat.
Sedangkan aku tak tahu arah.
(Bersambung)

KOPI

Edisi 2: AROMA

Aku berbelok di Jalan Daly Selatan. Tak pernah ku tengok ke kanan kiri. Trotoar cukup bersahabat buat para pejalan kaki. Pejalan kaki selalu menang. Zebra cross adalah malaikat pelindung pejalan kaki, meskipun kendaraan bermotor berjarak sepelupuk mata sekalipun.

Kucium aroma khas itu. Kopi. Hal yang pasti tercium pertama kali ketika aku di daerah situ. Kecuali setelah hujan. Petricore kadang menutup hidung terlebih dulu. Aroma kopi dari sebuah café kecil di pojok jalan. Pemula pasti meraba-raba aroma apa itu. Sebelum lama kelamaan hidung akan menjadi terbiasa dan bersahabat dengan aroma ini. Aku selalu tau orang yang menyiapkan kopi di café ini adalah orang yang sama yang selalu menyiapkan kopi untukku. Kemarin, kemarin lusa, seminggu lalu. Bedanya adalah celemek yang dia pakai. Dan aroma kopi yang dia sajikan. Brazilian Mocca. Mandailing Natal. Atau yang lainnya.

Aku menyebut kota ini kota kopi. Aroma kopi tersebar di setiap penjuru kota. Para penggila kopi dilahirkan setiap hari. Mungkin hanya pada malam hari aroma ini hilang, karena kebanyakan café sudah tutup atau aroma ini tertutup aroma pizza, seperti saat berjalan di sepanjang Jalan Lygon.

Tapi jangan heran. Ada juga orang-orang yang senang mencium aroma orang lain. Aroma jenis lain. Jumlah mereka tak banyak. Satu diantara sejuta. Orang ini sukanya mengobservasi orang lain. Kecanduan akan aroma orang lain. Satu ciri mereka, mulutnya manis, tapi bukan karena kebanyakan gula. Orang ini punya sensor mulut kemana-mana, bahkan ke yang mereka tidak kenal sekalipun. Mereka ini pelupa.Karma bisa datang tiba-tiba, kadang lebih cepat dari yang dibayangkan.

They are not healthy friends. Aku kadang bertanya, kenapa kita sering tertipu? aku tak menganggap diriku orang yang baik. masih banyak yang lebih baik. Kenapa mereka sering tertipu? Apa karena orang-orang baik itu memandang orang lain dengan tulus sehingga ia menanggalkan semua prasangka? Ah sudahlah. Itulah dunia. Semua punya peran. Yin dan Yang. Selalu ada keseimbangan.

Mereka mungkin kurang piknik. Begitu kata teman-teman dengan ringan. Mereka tak bisa menikmati aroma kopi yang indah. Aroma yang membangkitkan selera ketika diseruput, Aroma yang membangkitkan inspirasi positif. Aroma yang memungkinkan melihat dunia dengan luas. Aroma bertualang. Aroma bercengkerama. Aroma latte. Aroma yang selalu membangunkan jiwa. Tete a tete, antara aku dan cangkir.

(Bersambung)


Jakarta, 21 Agustus 2016

KOPI

EDISI 1: CANDU


Kopi itu candu, seperti kampung halaman.

Aku tak pernah bosan mendengar cerita para sesepuh tentang kampung halaman yang diapit gunung di utara timur barat dan laut di selatan. Tentang mitos desa dan nenek moyang mereka: para pembuka lahan sekaligus para pembabat hutan. Tentang laut selatan yang jaraknya mungkin cuma 1000 langkah kaki dari rumah dan ratu penguasanya. Tentang apa saja, tentang politik tingkat desa, tentang sepak bola, tentang Sabtu Pahing, hari lahirku yang konon sama dengan HB IX. Sekali lagi tentang apa saja.

Mungkin sudah puluhan kali kudengar cerita-cerita itu. Ingin kudengar cerita-cerita itu lagi sembari bercengkerama, sampai masing-masing dari kami menghabiskan sajian kopi tubruk yang biasanya disediakan tuan rumah. Biasa bagi kami berkunjung ke rumah tetangga. Bersilaturahim bergilir dari satu rumah ke rumah. Bercengkerama sampai kami beranjak pulang, biasanya setelah tengah malam. Sungguh mencandu.

Kebanyakan tidak mempunyai tv. Bukan karena kami mengerti bahwa percakapan lebih penting dari pada menonton tv. Barang itu masih menjadi barang mewah bagi kami. Kami kebanyakan juga tidak memiliki sofa, karena perlu ke kota untuk membelinya. Kursi bamboo atau rotan atau kayu yang kami kenal. Keras. Tak empuk, tapi ini lebih mewah daripada kursi empuk itu. Tak percaya? Para penduduk kota sudah ratusan kali berkunjung hanya membeli kursi bamboo, rotan atau kayu dari desa. Sembari mereka memborong cengkeh, pisang atau kopi dari penduduk. Tiga produk andalan desa.

Semua membuka kenangan masa kecil. Aku masih muda. Aku waktu itu berhajat harus tidur setelah tengah malam, karena kebanyakan makan. Ya karena kebanyakan makan. Kata orang-orang tua, "Jika banyak makan, maka kurangi tidur. Banyak tidur, kurangi makan." Jumlah makanan yang masuk perut harus berbanding terbalik dengan jumlah jam tidur. Dilakukan sebagai tirakat, sampai sukses. Entah apa definisi sukses, aku juga tak mengerti. 

Dalam sejarah kemunculan orang-orang sukses, yang kudengar adalah karena mereka pekerja keras. Sementara mereka-mereka ini banyak berbicara tentang impian. Aku tidak suka bermimpi. Aku lebih suka menyebutnya target. Tapi kenapa aku percaya hukum makan tidur itu? Mungkin para petani kopi sudah sukses membuat propaganda ini. Bayangkan jika seluruh penduduk desa harus tidur setelah tengah malam, tentu kopi akan jadi candu. Ah tapi tidak. Kami semua bisa menanam tanaman ini di kebun masing-masing. Tapi kenapa aku percaya hukum makan tidur itu? Pertanyaan itu harus kutanyakan lagi dan kucari jawabnya.


(Bersambung)

Jakarta, 21 Agustus 2016